Kilauan perak berulang kali melintas di tengah badai pasir.
Teriakan teriakan kencang
terdengar di sela sela pergerakan kilauan cahaya. Benturan dan gesekan antar benda logam juga
menimbulkan suara serta bunga api yang indah. Bagaikan musik pengiring serta
dekorasi dalam konser lagu pilu.
Beberapa
menit berlalu, suara itu mulai menghilang. Hingga tidak ada lagi cahaya, tidak
ada lagi suara, hanya dengungan suara angin yang berhembus kencang.
Tidak ada
seorangpun yang masih berdiri di sana, semua tumbang. Bermacam barang tergeletak
di atas pasir. Pisau, Busur, Prisai, semua benda benda yang berasal dari
peradaban tua yang sudah seharusnya menjadi barang antik kini terurai tidak
beraturan bahkan darah dan daging. Tubuh orang orang yang di duga sebagai
tuannya pria, wanita, semua ikut tergeletak layaknya sebuah batu yang tidak
bisa bergerak. Tidak bisa di pastikan bahwa mereka masih hidup, atau sudah
mati. Karena dunia ini hanyalah sebuah permainan yang masih menjadi misteri.
Muncul sosok
seseorang di tengah padang pasir dengan badai. Bayangan itu pergi menjauhi area
pembantaian. Seorang pria muda yang berlari sekuat tenaganya dengan armor yang
hancur, senjata miliknya pun sudah terlepas dari tangannya dan di tinggalkan.
Srak..!
suara gesekan pasir dengan sepatu bootsnya, ia mendadak menghentikan langkah
kakinya. Wajahnya berubah pucat, seperti melihat hantu tak berkepala saat
seseorang berdiri tepat di depannya. Begitu pula dengan udara di sekelilingnya.
Angin berhenti bertiup dan debupun mulai memudar seperti ingin menunjukkan
dengan jelas, siapa sebenarnya yang ada di depan pria ini
Orang itu,
orang dengan pedang perak yang memantulkan sinar. Sama persis dengan pelaku
pembantaian terhadap temannya.
Pria muda
itu berbelik arah dan kembali berlari, berusaha menjauh dari orang berpedang
perak. Ia sangat percaya pada kemampuan berlarinya, dengan kecepatan berlari
yang sudah di luar batas. Ia mengucap sebuah mantra di tengah pelariannya. Sprint, mantra sihir yang
dapat meningkatkan kecepatan bergerak berkali kali lipat hingga saat ini ia
seperti citah yang sedang mengejar mangsanya, hanya saja saat ini kondisinya
terbalik bagi si citah.
Orang
dengan pedang perak masih berdiri di tempatnya, ia masih belum bergerak 1
milimeterpun seakan ia sudah tidak memiliki minat lagi kepada pria itu.
Angin
kencang kembali berhembus, serta debu yang di bawanya kembali menghalangi
pandangan. Sosok pria itu kembali memudar. Bersamaan dengan itu ia mulai
bergerak perlahan meninggalkan tempatnya. Dan suasana gurun kembali seperti
semula.
Crow, Lie,
dan Sloth. Mereka bertiga berhenti bergerak. Perasaan aneh merasuki mereka
semua, seperti ada tekanan yang besar datang dari belakang bereka.
“ini… apa
mungkin”
Aku
memberanikan diri untuk bertanya pada mereka
“ah. Aku
tidak tahu, tapi. Sloth!”
Lie
berteriak panik. Bahkan sepertinya tekanan dan perasaan aneh ini juga
berpengaruh pada randy. Ia berbicara pelan pada kami
“he.he.
selamat untuk kalian. Kali ini kita sudah di temukan. Bersiap semua!”
0 komentar:
Posting Komentar