Desa di pinggiran danau

Author: Jiyu /


eto......
apa ini?


i
ni desa floran, sebuah desa kecil di pinggiran <<danau jernih>>. Desa ini terlihat biasa saja, walau terasa sedikit sepi. Tapi terlihat sepasang penghuni desa sedang mengurus kebun kecil di depan rumahnya.
“hai cono, bagaimana keada’an ibumu”
“ah hai tuan Poke. Keada’an ibu masih seperti biasa”
Salah satu penduduk desa itu menyapa anak yang sedang berjalan besamaku. cono pun berhenti sejenak dan membalas sapa’an mereka dengan senyum di wajahnya.
“oh, nanti aku akan menyusulmu kesana”
“baik, terimakasih tuan poke”
Setelah mengucapkan kalimat itu cono melanjutkan lagi langkahnya meninggalkan mereka, aku lihat seorang wanita yang ada bersama dengan si poke tadi. Ia terus menerus memandang ke arahku dengan tatapan mata curiga.
“eh cono, siapa orang barusan”
“yang tadi itu, itu adalah tuan poke kepala desa di sini. Dia itu orang yang baik”
“ohh…”
Aku mengangguk mengerti. Di depan sebuah rumah, cono menghentikan langkah kakinya dan berbaik ke arahku.
“kakak tunggu di sini sebentar ya, aku akan memanggil tabib”
“ok”
Aku mengiya kannya. Cono bergegas masuk melewati pagar rumah kecil di depan dan mengetuk pintu dari rumah itu. Tidak lama seseorang keluar menemuinya, seorang pria gemuk yang agak botak di keningnya. Entah mereka membicarakan apa, sempat aku melihat cono menunjuk ke arahku. Dan setelah itu si gemuk kembali masuk ke dalam rumahnya, sedangkan cono tetap menunggu di depan pintu.
Setelah lama aku menunggu, cono berjalan kemari bersama dengan si gemuk yang baru saja keluar dari dalam rumahnya dengan sebuah tas besar. aku kira ia mungkin adalah seorang tabib. Ia berdiri di hadapanku, ternyata tingginya lebih pendek dariku. Ia mengangkat tangan kanannya sepertinya mengajakku untuk berjabat tangan, aku menerima jabatan tangannya. Setela itu kami berjalan menuju rumah cono.
Sepanjang jalan aku memperhatikan si tabib yang ada di sampingku ini, ia sama sekali tidak mirip dengan seorang tabib atau doctor yang aku tahu. Entah apanya, tapi perasa’anku mengatakan ada yang tidak benar dari si doctor ini.
“tok tok tok”
Suara ketukan pintu terdengar hingga ruang kamar.
“ibu aku kembali”
Cono membuka pintu kayu itu selebar mungkin, mempersilahkan kami untuk ikut masuk ke dalam rumah kecilnya.
“uhuk uhuk..”
Suara batuk kecil dari dalam sebuah kamar mulai terdengar.
“kakak, kakak boleh tunggu di sini aku bertemu ibu dulu bersama tabib”
“tidak apa, kalau boleh aku ingin ikut kedalam”
“baiklah, kakak boleh ikut masuk ke dalam”
Cono mempersilahkan aku untuk menunggu, tapi aku tidak mau. Aku ingin tau, sebenarnya sakit apa yang di derita oleh ibu dari anak ini.
“ibu ini aku sudah membawa tabib”
“terimakasih ya cono”
Wanita itu mengelus kepala cono sambil tersenyum. Ia berusaha bangun dan bersender di dinding kamarnya di bantu oleh cono. Sang tabib mendekat untuk memeriksanya, memegang tangan dan memeriksa nadi dan beberapa hal lainnya yang aku tidak terlalu mengerti.
Setelah tabib selesai dengan permainannya, ia mulai angkat bicara.
“ini adalah sakit biasa, tapi jika terus di biarkan malah akan semakin berbahaya. Aku bisa saja memberinya obat tapi.. uang yang kau berikan sepertinya belum cukup cono”
Begitulah kalimat yang di ucapkan tabib, mendengar itu aku langsung di buatnya kesal. hei, uang 1juta itu bukanlah uang yang sedikit.
Karena kesal aku segera pergi keluar untuk menenangkan diri.
“lalu bagaimana ibuku tuan”
“aku akan memberikan ramuan yang sesuai, semoga saja ibumu dapat sembuh karena ini dan …”
Aku tidak bisa mendengar lanjutan kalimatnya, atau mungkin lebih tepatnya aku tidak mau mendengarkan ocehan busuknya itu.
Aku mencoba untuk duduk dan menunggu di luar ruangan. Meredam rasa kesalku pada si tabib sialan itu dan memikirkan apa yang salah pada tempat ini.
Entah bagaimana sa’at tabib keluar dari ruangan emosiku malah semakin meningkat, aku menarik kerah bajunya dan menyeretnya keluar rumah.
Di depan rumah aku menghimpitnya ke tembok mencengkram erat kerahnya dan mengencangkan genggamanku yang seakan ingin cepat menghantamkannya ke wajah si tabib.
“berengsek, sebenarnya apa yang kau mau. Kenapa kau tidak sepenuhnya membantu anak itu”
Aku berteriak di wajahnya menunjukkan kemarahanku pada si pria gemuk yang tolol ini.
“hei dengar tuan, memang sudah seperti itu. Aku juga ingin membantu anak itu, tapi aku juga butuh uang untuk dapat tetap hidup”
“uang 1juta itu bukan uang yang sedikit kau tau itu..!”
“iya, tapi kau juga tidak tahu kan, bahwa hidup di sini itu adalah hal yang sulit”
Ia membalas bentakanku tadi dengan nada yang keras juga.
Dan hal itu membuatku semakin kesal, aku memukulkan tangan kosongku ke wajahnya dengan keras berulang ulang sampai aku tidak sadar dengan kedatangan cono yang menyaksikan kami berdua.
“sekarang jawab aku sekali lagi, kau  ingin membantu anak itu atau tidak”
“tidak”
Aku kembali berteriak di wajahnya. Tapi tetap saja ia tidak mau mendengarkan. Aku sudah tidak bisa menerima lagi, aku menariknya keluar dan melemparnya ke tanah.
Semua perabotan yang ia bawa terurai keluar dari tasnya, ia memunguti kembali semua barang barang itu, memasukkannya kembali ke dalam tasnya. Dan sesekali memegangi wajahnya yang lebam.
“HOI..!”
Seseorang berteriak kemari, seseorang yang aku pernah lihat sebelumnya.
“apa anda baik baik saja”
“tidak apa apa tuan poke, tolong urus saja bajingan di sana itu”
Tuan poke membantu si tabib itu memasukkan kembali barangnya serta membantunya untuk berdiri kembali, lalu ia mempersilahkannya untuk pergi meninggalkan kami.
“apa yang sebenarnya kau lakukan..!”
“cih”
Aku meludah ke tanah, aku kesal dengan perbuatan si poke ini, kenapa dia malah membantu tabib sialan tadi.
Poke melangkah ke arahku dengan eksresi wajah yang marah. Entah kenapa, tapi aku tidak menyukainya. Jika ia ingin menghajarku, maka aku akan membalasnya.
Ia semakin mendekat, cono yang menyadari itulangsung berlari mendekati Poke berusaha menahan langkahnya.
“maaf tuan poke, tapi tolong jangan marah kepada kakak itu”
Ujar cono berusaha menenangkan poke yang terlihat marah. Poke berjongkok dan mendengarkan semua penjelasan yang di sampaikan oleh cono. Aku diam berdiri menunggu mereka  lalu akhirnya mereka berdiri kembali dengan ekspresi yang kini sudah mulai tenang dan memandangku.
Aku rasa cono sudah bisa menenangkannya dengan baik dengan cerita ceritanya yang ia sampaikan pada tuan poke. Yah mau bagaimana, sebenarnya aku juga salah karena langsung memukul salah satu penduduk desa sini. Tentu saja si pepimpin desa menjadi sangat marah.
Kami semua duduk bersama di atas tiga buah kursi kayu beserta meja kayunya yang juga telah usang. Tuan poke meminta ma’af padaku atas kelakuannya dan juga salah satu warganya yang bersikap terlalu berlebihan, dan begitu juga aku karena aku pikir aku juga sudah melampaui batas.
Di saat kami duduk tuan poke menceritakan banyak tentang desanya kepadaku, aku duduk diam mendengarkan semua ceritanya.
“Sebenarnya tempat saat itu ini tempat yang ramai, juga terkenal dengan penduduknya yang ramah”
“drug..”
Suara kursi berbunyi nyaring ketika cono bangun dari duduknya. Aku menoleh kearahnya memastikan apa yang terjadi.
“anu maaf semuanya aku permisi kebelakang membuatkan minuman”
Cono berkata sambil buru buru pergi kedalam meninggalkan kami berdua. Setelah sempat terhenti sebentar, tuan poke kembali melanjutkan ceritanya.
“Ah iya, saat itu aku masih ingat. Waktu ibu dan ayah cono masih sehat seperti biasanya, mereka selalu lewat di depan tempat tinggalku dan menyapaku di pagi hari saat pergi untuk mengurus tambaknya yang ada di danau. Ah.. sungguh keluarga yang sangat menyenangkan”
Rasa bahagia terpancar dari wajah poke. Ia menengadah ke langit langit teras dan meluruskan kaki serta tangannya. Rasa penasaran mulai datang kepadaku, banya pertanya’an yang muncul setelah tuan poke menceritakan ceritanya
“tunggu, apa anda tadi bilang ayah cono?”
“ya, ayah cono. Dia adalah seorang nelayan yang sangat terkenal di desa ini. Sosoknya yang gagah dan sikap baiknya yang selalu menolong orang orang desa membuatnya menjadi orang nomor satu di desa. Mungkin jika sebelumnya aku bukanlah kepala desa, orang orang sudah memilihnya untuk menggantikanku”
“kalau ia benar seperti itu, lalu dimana dia sekarang?”
“dia sudah tiada”
“maksud anda?”
“ayah cono sudah meninggal 3 tahun lalu”
“kenapa bisa begitu”
Aku bertanya kembali untuk mendapatkan kejelasan mengenai ayah cono.
“he he he.. maaf, tapi hal ini bukanlah hal yang patut untuk di ceritakan kepada orang luar desa. Karena itu adalah sebuah aib, dan itu semua adalah murni kesalahanku”
“tapi apa_”
Aku menghentikan ucapanku, cono sudah hadir di antara kami dengan membawa sepasang gelas berisikan air teh. Aku tidak ingin keingintauanku malah menjadi hal yang menyakitkan bagi cono.
Cono menaruh nampan di atas meja, dan memindahkan gelas gelas di atasnya di dekat kami agar mudah untuk mengambilnya
“ini, silahkan di minum”
“ah, iya terimakasih”
Poke mengucapkan terimakasih sambil mengusap kepala cono. Aku mengambil salah satu gelas yang ada di dekatku dan meminumnya sedikit, lalu menaruh gelas itu kembali ke atas meja.
“huff…”
Aku menghela nafasku bersama’an dengan semua rasa khawatir dan kemarahan yang semakin menghilang. Tapi rasa penasaran ini ttap saja menggangguku.
Aku memandang keluar, danau besar di luar desa yang berwarna ke’emasan karena sinar matahari sore masih dapat terlihat dari sini.
Tiba tiba aku ingat dengan Randy dan Daniel. aku meninggalkan mereka di kota tanpa memberitahukan apapun, mereka pasti marah dan khawatir padaku.
“maaf tuan poke, sepertinya aku harus segera pergi. Kau juga cono”
“ya baiklah”
“eeh.. kenapa”
Cono berseru seperti enggan di tinggal olehku. Tapi apa boleh buat, aku juga sudah harus pergi meninggalkan mereka dan harus menemui kedua temanku.
“temanku menungguku di kota, aku harus menemui mereka”
“tapi kan kakak baru saja kemari”
“hahaha.. sepertinya cono sudah menganggap anda sebagai kakaknya sendiri”
“eh?, tapi.. sepertinya itu tidak bisa”
Cono terlihat murung ketika mendengar ucapanku.
“bagaimana jika nanti aku kembali lagi kesini”
“ha, benar!?”
“Ya benar”
“yay.. kakak janji ya”
Cono sangat gembira mendengar itu. Ya, aku memang berniat akan kembali ke sini. Pasti.
Aku segera bangun dan pergi meninggalkan tempat ini. Tuan poke memberitahuku arah tercepat menuju kota giran. setelah itu aku pergi, tak lupa mengucapkan selamat tinggal pada cono.
“aaaaa… kira kira, seperti apa ya reaksi Daniel dan Randy ketika bertemu nanti. Ah, sudah lah. Mereka juga tidak akan marah padaku hanya karena telat berkumpul”

0 komentar:

Posting Komentar

Mengenai Saya

Foto saya
Pawn from HIVE clan
Diberdayakan oleh Blogger.