Contoh project Irsis

Author: Jiyu /

Gremlin makhluk gelap yang hina dengan kepala botak serta daging busuk yang menempel di tulang tulang rapuh mereka, bertahan hidup dengan melahap jiwa orang orang sesat dan mati dan menjadi makhluk tanpa usia. Mereka sudah lama berada di sana, bahkan lebih lama dari manusia yang di lahirkan hingga cucu dari cucu mereka mati. Belie Tor, pemimpin dari sekelompok kecil pengelana mengangguk pada gremlin gremlin itu. Selusin jumlahnya dalam satu barisan hitam. mata mereka tajam dan waspada memandang dengan tatapan benci.

Bebepara pengelana lain mulai muncul menembus kabut gelap yang amat tebal. Suhu yang lembab membuat lumut tumbuh subur menutupi batu batu jalan serta kayu yang mati. Beberapa kali Tor merapatkan jubahnya untuk menahan dinginnya malam, sementara yang lain bergetar merinding melihat sekitarnya dengan pandangan kengerian. Mereka teringat dengan sebuah kisah yang di ceritakan oleh orang tua pemilik bar di perkampungan yang terakhir mereka singgahi.

Malam di hutan Irsis tidaklah lebih berbahaya dari siang hari. Hanya para penguasa malam yang berkeliaran di dalam hutan sementara hewan hewan buas bersembungi di lubang lubang mereka. Lagi pula penguasa malam akan jauh lebih ramah di waktu makan mereka. Mereka tidak akan mengganggu makhluk yang hidup kecuali mereka ingin. Sudah sangat lama mereka menjadi sibuk dengan santapan yang melimpah dari bangkai bangkai yang tersebar di seluruh hutan. Yang menjadi tanda sekaligus bukti peperangan besar ratusan tahun yang lalu. Pertanyaannya apakah para penguasa malam butuh waktu ratusan tahun untuk menghabiskannya atau mereka sengaja menunggu bangkai itu semakin busuk agar lebih lezat lagi untuk di santap. Mungkin jika begitu, itu yang menjawab kenapa semua bangkai tetap basah bukannya hilang dengan tanah atau mengering.
Semakin kedalam semakin terlihat banyak mayat mayat yang tergeletak. Mereka berpose layaknya mayat. Sebagian tampak tersiksa menatap langit dengan mata yang sudah lenyap, sebagian lagi tampak damai merunduk menutupi luka peperangan mereka.

Lagi lagi gremlin melintas di  hadapan mereka dengan jumlah yang cukup banyak di hutan ini. melayang terbang kesana kemari, sebagian tak tentu arah. “a.. ayo kita kembali” ujar salah satu pengelana yang mereka kenal dengan mana Moth yang di buat ketakutan dengan hutan ini. Sebenarnya ia bukanlah salah satu dari mereka, hanya penumpang yang memanfaatkan pengelana untuk membawanya ke seberang hutan. Tor tidak memperdulikannya ia tetap melanjutkan misinya. Baginya adalah hal yang sangat sia sia jika kelompoknya mau meninggalkan perintah raja dan mengabulkan permintaan dari seorang penumpang. Karena itu ia tetap melangkah masuk ke dalam hutan walaupun sebenarnya ia tau bahwa kelompoknya sudah nyaris gila di telan rasa takut. Jika ia ikut larut dan di telan rasa takut maka tidak ada lagi orang yang menjadi penunjuk jalan mereka dan mereka akan hilang dalam kesesatan. Tor kembali mengingat misinya, sudah sangat dekat ia dengan tujuan akhir mereka dan hal kecil semacam ini tidak akan memadamkan semangat yang berapi api di dalam dirinya.

Hutan adalah tempat yang menarik, sesekali ia membawamu ke sebuah tempat yang sangat indah yang belum kau ketahui, sesekali ia membawamu ke tempat yang penuh dengan harta karun yang pernah hilang, dan sering kali juga ia membawamu ke tempat penuh bahaya

“tidak tidak, ayo kita semua harus segera kembali” kembali Moth meracau kata katanya membuat api kecil dalam diri para pengelana hampir padam. Hal ini sudah tidak bisa lagi di biarkan, ia hanya akan menjadi virus yang menyebar dan menyerang para prajurit. “Kecoak desa tak berguna” Mike memukul wajah lelaki itu dengan keras hingga tersungkur di tanah basah. Ia berjalan ke arah Tor, mengacungkan tinju besarnya seolah olah semua ini salah pemimpinnya. “Lihat! Berkat kau yang mengizinkan keparat ini ikut bersama kelompok kita, para pecundang di kelompok ini jadi merinding ketakutan. Jika saja kau membiarkanku, jauh di sana tadi aku sudah meninjunya sampai kepala bodohnya itu terlepas dari lehernya”

Dari raut wajahnya, Mike pasti benar benar akan melakukannnya. Mike petarung tangguh yang keji, kami mengambilnya dari kota Rukh tempat para mercenary yang di kenal dengan tanpa rasa belas kasih berkumpul menunggu pekerjaan. Tor menatap matanya “Tenang Tuan Mike, jika kau mengamuk dan terus bersikap seperti itu maka kami akan menyingkirkanmu dari kelompok ini”. Mike selalu bertingkah kasar, sering kali Tor di buat kerepotan dengan sikap buruknya, Jika saja Mike bukan orang yang berpengalaman dan tidak memiliki kemampuan seperti yang di harapkan tidak akan pernah ia di ijinkan untuk masuk dalam kelompok ini. Tor berjalan ke arah Moth yang terduduk memegangi wajah. Ia menjulurkan tangan membantu moth untuk bediri “Tuan Moth kami tahu anda ketakutan tapi lebih baik anda menutup mulut anda, atau anda pergi melanjutkan perjalanan seorang diri” Tor melayangkan pandangan memperingatkan kepadanya.

FAK

Author: Jiyu /

“…” suara tarikan nafas Lie yang terengah engah
Di sisi lain, balphegor mulai berdiri. Ia tak tampak terluka sedikitpun, bahkan tak ada goresan yang tercetak di pakaiannya.
Kebulan debu mulai hilang terbawa angin. Sosok Lie juga semakin jelas terlihat di sana, lelah yang di rasakan setelah meluncurkan puluhan pukulan yang di lemparkannya sekuat tenaga itu terlihat jelas di wajahnya. Tapi sepertinya bukan hanya itu yang ada di wajahnya, sedikit terlihat raut wajah kecewa di sana
“berengsek” ujar Lie
“jadi, sudah bisa melihat perbedaan kemampuannya?”
Balphegor dengan angkuhnya kembali bertingkah sombong dan mencemooh Lie. dan tanda tanya besar muncul di benak mereka berdua. bagaimana bisa ia yang sudah di hajar habis habisan tidak memiliki goresan luka sedikitpun. Seharusnya di dalam game ini seluruh luka baru bisa menghilang sepenuhnya setelah masuk dalam ruang penyembuhan di kota dan menunggu beberapa waktu hingga kondiri tubuh kembali pulih. Dan jika peralatan terkoyak, itu akan memberi dampak permanen kecuali player membawanya pada ahli pembuat item untuk memperbaikinya.
Kali ini di hadapan mereka ini menjadi bukti bahwa ada sesuatu yang tidak beres sedang terjadi. Dan keadaan menjadi semakin buruk
Pengelihatan Lie mulai pudar, pukulan pukulan keras dengan kecepatan tinggi tadi sepertinya juga memberikan dampak buruk pada penggunanya. Tubuhya yang kecil seperti tertimpa bongkahan batu raksasa. Keadaan mejadi sulit baginya bahkan ia harus mengeluarkan seluruh tenaganya hanya untuk membuatnya tetap berdiri. Walaupun begitu, ia berusaha untuk tidak terlihat lemah di depan musuhnya
Tapi semuanya sudah tahu, bahkan orang yang baru melihat mereka sudah tahu jika sikap tegar itu terlalu di paksakan.
“oi! Apa kau masih bisa diam dengan temanmu yang sudah hampir mati ini”
Balphegor berteriak, dan Sloth tau kalimat itu di tujukan kepdanya.
“anu Lie. Akting lu jelek, mendingan selesein aja”
Jika di lihat dari pandangan lain memang reaksi tubuh Lie tidak bisa berbohong. Tubuhnya mengigil dan wajanya juga pucat, tapi dia masih saja memaksakan diri untuk berdiri di tambah akting yang sangat buruk. Jika itu di gabung akan menghasilkan kejijik an yang luar biasa. seperti pemandangan orang yang sedang menahan mulas ingin buang air besar mati matian.
“bukannya gw perduli atau gimana, tapi sikap lu malah gak keliatan keren. Kalo lu mati si gw malah gak keberatan”
“tai lu!, kalo mau bantuin gue bukan Cuma nonton doang di situ”
“nah siapa yg suruh lu main hajar gak pake mikir”
Mereka terus memperdebatkan masalah kecil itu, sampai hal hal lain yang sama sekali tidak ada hubungannya ikut terbawa
“…” (suara Lie yang ambruk ke tanah)
Hening beberapa saat setelah Lie ambruk ke tanah. Hanya balphegor yang tertawa keras, merasa lucu dengan yang sedang terjadi di sana.
Sepertinya Lie sudah mencapai batas tubuhnya pemain yang kehabisan stamina akan memasuki mode tidak sadarkan diri menunggu stamina kembali terisi sedikit demi sedikit.
“yak sepertinya orang lemah itu sudah selesai. Kau ingin aku membunuhnya sekarang atau kau ingin aku membunuhmu terlebih dahulu”
Tidak menunggu lama Sloth mengayunkan tangannya dan 3 bola hitam terbentuk di sekitar balphegor lalu melesat menabrakkan diri. Belphegor berusaha menahannya tapi bola hitam itu melengket dan mulai mengembung membungkus seluruh tubuhnya dan mengurungnya, merubahnya menjadi bola hitam besar. Bola besar itu melayang dan meldak di udara.
Pecahan ledakan itu bergitu kecil dan bersih seperti kembang api hanya saja berwarna hitam pekat, dan balphegor seakan musnah bersama dengan ledakan. Tapi sloth merasakan ada yang aneh dengan mantranya.
Sloth meoleh dengan cepat dan melompat kedepan
“bzzzzz!!” (suara ledakan listrik)
“wah.. padahal sedikit lagi”
Suara belphegor entah muncul dari mana, suara keras itu membuat gema di atara dinding batu hingga sulit untuk menemukan dimana keberadaannya.
“bzzzzz!!”
Ledakan ledakan listrik itu kembali muncul, sloth berlari melompat dan berguling berusaha menghindari sihir belphegor.
“hahahaha… bukankah ini adil, sihir melawan sihir. Ayo kita lihat siapa yang lemah”
Belphegor terus mengoceh sambil melakukan serangan serangan itu hingga sepertinya sloth sudah tidak bisa berbuat banyak, bahkan untuk menghindari serangan sihir belphegor.
“tidak, aku tahu semua trik mu”
Bisik sloth berkata pada dirinya sendiri. Ia mengambil sebuah item seperti batu dari dalam kantung di jubahnya lalu ia jatuhkan di tanah, ia melompat menghindari ledakan listrik lalu menjatuhkan batu terus berulang ulang ia melakukan itu.
Batu yang di jatuhkannya adalah Shild Crystal, benda sihir yang di gunakan untuk menahan sihir yang di tembakkan, itu akan membentuk sebuah dinding tipis hampir transparan ketika di aktifkan tapi..
“sekarang”
Sloth menyadari ada serangan yang datang ia segera mengalirkan mana pada seluruh Shield Crystal dan memicunya untuk aktif dan dinding setebal cermin itu mulai muncul, cukup banyak jumlahnya setidaknya sampai benda itu memenuhi area di sekeliling sloth.
“bzzzzz!!”
“…!” (suara kaca yang pecah)
“aaaaarrrrhhh..!!”
Pecahan pecahan dinding sihir bertebaran di udara dan ledakan listrik tetap muncul, tidak beruntung bagi sloth yang tidak sempat menghindarinya aliran listrik mengalir di tubuhnya seluruh otot di tubuhnya menegang kaku menahan dampak yang di berikan, ia menerima itu semua tanpa perlindungan.
Sebenarnya dinding itu sihir yang lemah, dan hanya bisa menahan sihir lemah juga. Bahkan itu akan hancur setelah menahan fire ball yang di tembakkan
“ternyata kau sangat bodoh, apa kau pikir sihirku ini sihir palsu yang dapat di tahan dengan benda sampah seperti itu. bukankah aku sempat memberikan petunjuk padamu, aku pikir kau orang yang cukup cerdik hingga setidaknya kau tahu beberapa sihir ku”
Gema itu kembali muncul. Ia mengatakan sesuatu tentang petunjuk dan sihir.
“ya. memang aku tahu itu dan aku yang memaksamu memberikan petunjuk petunjuk itu”
“...”
Suara itu hening sejenak, dan sloth juga tidak membuang waktu
“#$%^&*()_)(*&^%$#$%^&*(“
Deretan mantra ia ucapkan dan muncullah sihir lain
“Flame Geyser!”
Muncul Semburan bara api yang keluar dari dalam tanah, sloth menoleh 43° kekiri dimana geyser itu muncul. Disana balphegor terpental keatas terbakar kuat oleh geyser
“sebenarnya kau lah terlalu bodoh untuk mengira shield crystal tidak berguna”
Shield Crystal yang pecah membentuk sebuah jalur, jalur yang di lalui oleh kekuatan sihir. bahkan sihir pointed meninggalkan jejak sihir yang bisa menghancurkan dinding lemah, Dan itu di gunakan Sloth untuk mengetahui dimana letak keberadaan balphegor hingga serangan geyser tepat mengenainya.
Balphegor kembali bangun setelah menerima sihir itu, sloth pun tahu bahwa balphegor bukan orang lemah yang tumbang hanya dengan sihir macam itu.
“kurasa cukup bermainnya”
Balphegor menarik pedang dari sarungnya yang tergantung di punggung ia melesat cepat membelah udara yang di laluinya
“clash…” (suara tebasan pedang yang membentur pintu batu)
Sebuah pintu raksasa muncul menghadang serangan balphegor. Pintu batu dengan ukiran eksotik dan tulisan tulisan kuno tertera di sana
“kreeek..” (suara pintu terbuka)
Pintu itu terbuka, udara busuk layaknya bangkai yang berasal dari dalam pintu menyebar keluar tak terlihat jelas bagian dalamnya  hanya ruangan kosong yang gelap yang entah terhubung dengan dunia mana.
Dalam sekejab puluhan tangan muncul dan menarik balphegor kedalam, disusul pintu yang menutup cepat.
“blam..!”
Hening.. tak ada suara, angin yang sedari tadi berhembus di sela sela celahpun berhenti seakan seluruh lembah itu ikut terkejut
“Yah.. kau benar, sudah habis waktu bermain”
Sebuah Pintu adalah sihir yang di ciptakan Sloth, sihir level atas bernama Hell’s Gate dan Itu sihir yang mematikan. Ia akan langsung di kirim ke beranda neraka, dan barang siapa yang masuk ke dalamnya akan di beri siksaan sampai tubuh dan jiwanya di ujung kematian menyisakan 1 point dari tiap bar health/mana/stamina
“ayo Lie kita bawa Crow”
Sloth melangkah menuju crow yang tidak sadarkan diri bersandar pada tebing sebelum akhirnya ia di kejutkan dan segera menoleh..
“sepertinya kalian tidak akan pergi kemana mana”
pembunuh yang masih berdiri di sana sibuk mengkorek telinganya.
Sepuluh sampai lima belas detik dia berdiri di sana sampai tiba tiba pintu Hell’s Gate kembali terbuka untuk mengembalikan lagi orang yang sudah di telannya, dan lie yang muncul lalu terjatuh ketika pintu itu mulai menghilang, keadaannya semakin memburuk setelah masuk ke dalam Hell’s Gate. Sementara itu sloth terdiam tidak bergerak, seperti terkejut dengan yang di lihatnya
“kenapa? Kau bingung? Kaget?
hahaha… aku bisa menebak apa yang ada dalam pikiranmu.
mugnkin Balphegor yang hebat bisa bergerak dengan sangat cepat hingga bisa lolos dari jeratan pintu neraka, atau mungkinkah Balphegor yang hebat itu seorang teleporter yang bisa berpindah tempat dalam sekejab hingga dengan mudah ia bisa berpindah saat gerbang itu muncul
atau mungkin aku orang bodoh yang lemah tidak bisa mengalahkan tuan balphegor yang hebat
hahaha… seperti itu bukan?”
“teleporter ya”
Ucap sloth berbisik. Teleporter adalah sebutan bagi orang yang memilih mengambil tekhnik memindahkan diri, ada banyak jenis teleporter tapi sepertinya..
Tidak, bukan persis seperti itu jawabannya.
Dengan jelas Sloth melihat Balphegor tertelan kedalam Hell Gatenya,  jika di jelaskan spell itu adalah spell yang tumbuh dari dalam targetnya tidak mungkin baginya untuk bisa lepas atau melarikan diri kecuali dia dapat berpindah ke dunia lain, Tapi.. bukan tidak mungkin jika melakukan teleport keluar dari dimensi itu agar bisa meloloskan diri
“sayang sekali, tapi aku berfikir bahwa tuan balphegor yang hina sedang mongompol di ujung sana”
Shoth berkata untuk membalasnya, sepertinya itu bukanlah kata yang tepat untuk situasi seperti ini terlebih lagi sloth sudah kehabisan mana, atau setidaknya ia sudah tidak bisa melakukan sihir apapun lagi, kekalahan sudah pasti di depan mata tapi sepertinya ia masih belum menyerah, ia melihat Lie yang tergeletak tidak bergerak
Balphegor tidak tinggal diam di saat seperti ini, ia langsung menyerang menggunakan sihir di gabung dengan serangan cepat pisaunya. sloth juga tidak diam dan menerima kekalahan, ia menarik keluar senjata cadangannya Lil Scartch karena ia tahu ia tidak bisa melawan hanya dengan tangan kosong.
Dia bukan pemain biasa, gerakan gerakan dengan tekhnik tinggi yang di lakukan seperti seorang ninja pembunuh. Game ini benar benar membantunya bergerak dengan lincah dengan bantuan skill skill yang di sediakan.
Bukan hal yang baik untuk sloth. ia bukanlah petarung, seluruh poin ia habiskan untuk meningkatkan kemampuan sihir dan dalam situasi dimana dia tidak bisa menggunakan kemamuannya ini sangat menyulitkan, beruntung ia di lengkapi senjata dengan jarak yang cukup panjag jadi cukup sulit bagi balphegor untuk mendekat di tambah lagi sloth berlatih kendo di sekolahnya
Ayunan pisau di lancarkan Balphegor mengincar kepala Sloth tapi ia mundur dan membalas dengan sabetan katana yang akhirnya di tahan dengan pisau, benturan itu menimbulkan bunga api yang menyebar. Tidak berheti di sana dengan cepat balphegor mengucap mantra sihir dan sekejap sambaran petir mengarah tepat pada sloth. Ia tau itu dan segera melemparkan item yang berubah menjadi buble bomb
“…” suara ledakan

Bomb itu melemparkan mereka berdua memberinya jarak yang amat jauh, tapi sekedar jarak belumlah cukup

Start Orb HIVE

Author: Jiyu /

buat yang mau aja start orb hivenya.
bisa di click link di bawah

Start Orb HIVE >> udah termasuk changer

it hurt

Author: Jiyu /

“itu Lie!”
Crow berteriak dan bergegas berlari, tapi Sloth segera menghentikannya karena menurutnya itu berbahaya, mereka hanya diam di sana memperhatikan dari kejauhan.
“sepertinya tidak ada yang mendekat ya, sayang sekali”
Suara orang lain yang tidak mereka kenal muncul, ia yang di kenal sebagai PK yang membunuh banyak sekali player, dan Lie pun semakin jelas terlihat bersamaan dengan Player Killer di belakangnya.
Tepat di punggung Lie menancap sebuah dagger yang menembus hingga dada, darah keluar dari mulutnya semakin banyak ketika ia terbatuk.
“apa apaan ini, kau bilang ini hanya game. Lihat itu lihat!, lihat wajah temanmu yang sekarat itu”
Crow berteriak meracau, kejadian di depannya membuatnya tidak bisa berfikir jernih. Sloth juga tidak mengatakan apapun dan sikapnya yang seperti tanpa emosi itu membuat Crow semakin kesal, seakan ia tidak perduli dengan apa yang ada di hadapannya.
“jadi memang seperti ini sikap aslimu ran. Kami pikir kau adalah teman yang baik bagi kami, bodoh sekali sampai kami menuruti keinginanmu sampai saat ini”
Rasa marah sudah menumpuk di pikiran Crow, sampai ia sudah tidak sanggup menahannya dan kehilangan akalsehatnya. Ia memegang busur dengan kedua tangannya lalu maju untuk menyelamatkan Lie.
“mam”
Lagi lagi Sloth menghalangi tindakannya, ia memegang bahu Crow yang hendak bergerak maju tapi segera di singkirkannya
“Minggir kau pengecut, ternyata kami salah. Kau memang tidak pernah perduli dengan orang selain…”
Belum sempat Crow menyelesaikan ucapannya ia sudah jatuh di tanah yang keras tidak sadarkan diri.
=====


Brak! Suara mejaku yang di pukul dengan keras.
“waduh waduh.. masih pagi udeh bengong aje lu mam”
Dia teman sekelasku yang biasa duduk di sebelahku, namanya Alvian. Sebenarnya aku tidak terlalu suka mengobrol di pagi hari, mungkin karena aku masih mengantuk dan roh ku belum sepenuhnya kembali ke dunia ini. oleh karenanya aku hanya diam saja sementara dia terus berbicara ini itu.
Untung tidak lama setelah itu Renand datang, hingga akhirnya ada seseorang yang bisa di jadikan target ceritanya miliknya. Aku baru sadar ketika melihat ke sekitar dan ternyata sudah mulai ramai di sini.
Daniel juga sudah datang dan sibuk mengganggu Randy. Sepertinya mereka memang akrab jika membicarakan game.
Oh ia, bagimana kelanjutan dari Player Killer itu aku juga tidak begitu mengerti, yang aku tau saat itu aku pingsan dan waktu terbangun aku sedang terbaring di dalam Athos dengan pintu yang terbuka.

=====

“oh udah bangun lu mam, ini tangkep”
Daniel menyapaku yang baru bangkit dari Athos dan melemparkan roti isi dalam kemasan yang segera ku tangkap.
Ia duduk mengangkang bersandar di sofa empuk di sana seakan tidak ada yang melihatnya dan hanya dia lah yang memiliki tempat itu. Yang lebih menggelikan lagi, dia tidak mengenakan baju hanya celana pendek biru muda yang ia kenakan.
“apa apaan pakaianmu itu”
Aku berkata sambil duduk membuka bungkus plastik roti isi.
“oh.. ini? Aku habis mandi. dan Randy sedang keluar mengambil pakaian ganti untuk kita. Kalau kau lapar atau haus, ambil saja makanan dan minuman yang ada di meja sana”
Aku tidak tahu kalau Randy bisa di manfaatkan olehnya seperti itu
“hmm..”
Gumam ku merespon seadanya karena mulut yang penuh makanan. Setelah itu tidak ada satupun dari kami yang berbicara walaupun aku juga sudah menghabiskan roti isiku.
Tidak dalam waktu lama yang lalu, aku lihat lie yang terluka parah tapi tidak bisa berbuat apapun untuk menolongnya, situasi ini menjadi sedikit canggung aku tidak tahu apa yang harus aku bicarakan dengannya.
Randy belum juga kembali selain itu Daniel sibuk mengganti ganti chanel TV mencari siaran yang ingin di lihatnya sampai ia menemukannya lalu menggantinya lagi saat ia bosan melihat acara itu.
“Niel”
Panggilku yang membuatnya menoleh dan berhenti bermain dengan remote TV
“apa”
“apa yang terjadi setelah aku tidak sadarkan diri”
“oh itu…, sebenarnya tidak ada apa apa. Hannya saja”
“hanya saja?”
“bagaimana ya, sebaiknya kau meminta maaf pada Randy. Tidak seharusnya kau berteriak seperti itu kepadanya. Kau tau, ia bukan seperti orang yang kau bicarakan”
Daniel berkata begitu padaku, aku pikir mungkin ada benarnya juga. Aku sudah di undang ke tempat ini, dan tidak seharusnya aku berkata seperti itu kepadanya. Apa lagi sampai berteriak seperti itu, sepertinya akulah orang yang jahat di sini.
“kau tau, orang yang tertidur akan otomatis terputus seluruh hubungannya dengan game dan tidak akan merasakan hal apapun yang berhubungan dengan game, lalu setelah beberapa saat dia akan di keluarkan sepenuhnya dari dalam game dan karakter-pun menghilang. Kau beruntung karena tidak ikut bertarung melawan orang itu, makanya berterimakasihlah paba-“
Kalimat Daniel terputus karena tumpukan pakaian yang menimpa wajahnnya
“OI, lu mau bunuh gue ya!”
“itu lebih bagus kan, jadi orang tua lu gak repot repot miara anaknya yang kayak gini”
Aku menoleh ke asal suara itu, orang yang sama yang melempar pakaian itu ke wajah Daniel. Randy yang berdiri di sana, ia sudah kembali membawakan pakaian ganti.
“hei kau yang di sana”
Randy merkata sambil mengacungkan jari kearahku
“a.. apa”
Aku bicara tergagap
“kalau kau masih mau di sini cepat bersihkan badanmu”

Aku mengerti ucapannya kali ini, aku segera bangun dan bergegas ke kamar mandi. Tapi selagi di dalam aku terus memikirkannya, sebenarnya apa yang terjadi waktu itu ya.
...




“Niel elu gak bilang apa apa kan ke dia”
Tiba tiba Randy mengatakan itu pada Daniel yang sedang asik memakan sekotak ice cream yang di bawa Randy tadi. Ia tersedak karena sepertinya yang di tanyakan tepat mengenai sasaran.
“uhuk uhuk.. eh apa. Aha aha ha.. jelas enggak lah..”
Melihat reaksi Daniel yang mencurigakan tentu saja orang curiga, dan sudah jelas randy tidak mempercayai ucapan bohongnya itu. Ia hanya memberikan tatapan sinis padanya
“huff.. terserah nantinya jadi seperti apa, tapi jelas aku tidak mau seorang pun tau tentang itu”
...

*****



“hei kau yang di sana, kejam sekali kau sampai memantrai sahabatmu sendiri seperti itu. kenapa?, ingin berlari dan meninggalkan teman temanmu ini sebagai penggantimu ya. Hahaha…
apa kau juga memang sepengecut yang di katakan temanmu tadi, hm”
orang itu tertawa sambil mencemo’oh Sloth tentang apa yang di perbuatnya.
Tidak ada tanggapan yang pasti si tunjukkan oleh sloth, ia masih tetap tenang tidak perduli apa yang di katakan pembunuh itu. Tak perduli ia mau merendahkan atau menghinanya, ia tetap tenang sambil menyeret tubuh Crow yang tidak sadarkan diri. Hanya beberapa kalimat yang akhirnya keluar di antara bibirnya
 “setidaknya aku yang seperti ini masih lebih tinggi di banding magician rendahan yang bersembunyi untuk menyerang para pemula”
Pembunuh itu terlihat kesal mendengar ucapan Sloth. Sepertinya ia juga menyadari bahwa dirinya sudah di ketahui olehnya.
“hmm.. sepertinya kau cukup hebat sampai berani menantangku”
“yah.. aku tidak pernah takut menghadapi penyihir pengecut yang menggunakan Fear”
Fear adalah salah satu mantra dasar milik magician untuk mengacaukan pikiran lawannya, mengisinya dengan ketakutan dan rasa putus asa.
Sloth berkata sambil memasang magical glove miliknya seperti biasa, tenang dan sopan tidak lupa tatapan dingin dengan senyum merendahkan khasnya.
Mendengar kalimat itu ia semakin kesal tanpa peringatan ia menarik daggernya daripunggung Lie lalu menerjang cepat ke arah Sloth
Buagh.!! Seseorang terpental setelah bunyi kencang barusan.
“ups, sepertinya ada yang sudah tidak berdaya”
Ujar Lie yang masih berdiri sedang membenarkan posisi knuckle di tangannya. Tidak jauh darinya ada si pembunuh yang baru saja terkena pukulan telak sedang berusaha bangkit. Ia mengumpat kepada mereka semua.
“sial”
Seru pembunuh itu yang sudah melakukan kesalahan. Lie sudah bebrapa jam bersama Sloth tentunya ia sudah jauh lebih mengerti tentang pertarungan dalam game ini, di tambah lagi ia sudah membuka secret skill dan sudah mencapai class pertama “ASHURA”. Menyerang, bertahan, menghindar, skill, bar point, seluruhnya sudah ia kuasai dengan benar, tidak semudah itu mengalahkannya kali ini. Terlebih lagi.. gelar Ashura yang kini ia genggam.
Walaupun setelah menerima pukulan yang cukup keras itu, si pembunuh masih sanggup berdiri. Ia bngun kembali dan bertingkah seperti tidak ada yang terjadi. Membersihkan pakaiannya yang tertumpuk debu.
“newbie yang menjadi pro dalam waktu singkat ya. sepertinya kau menemukan guru yang bagus”
Pembunuh itu berkata dengan santai menunjukkan keadaannya yang masih sehat walaupun sedikit memar di pipi kanannya.
“jelas.. Ashura yang kami temui saat hunting bukan sekedar guru, ia adalah master ch..”
“master chi dari benua timur. Petarung tangan kosong yang mengungkap kekuatan baru berasal dari energi kehidupan, sumber lain selain mana dan stamina fisik bla bla bla..”
Ujarnya memotong kalimat Lie. Sepertinya ia tahu banyak tentang Ashura, Orang yang mengajari atau lebih pas di sebut guru Lie.
“aku lupa namanya… hmm…”
Ia mengacung acungkan jari dan menutup kedua matanya, berusaha mengingat ingat nama orang yang di maksud
“ah… xing!. Aku ingat namanya, yah.. untung saja dia seorang NPC yang di lindungi, jadi aku tidak bisa membunuhnya”
“haha.. seperti hewan saja kan dirinya. Dan aku tidak menyangka dia yang lemah dan tidak berguna itu, masih sempat untuk mengangkat seorang murid dan semakin membuktikan bahwa ia orang yang gagal”
“jadi kau yang membuatnya terluka?”
“terluka?, bukan bukan. bukan seperti itu, aku malah yang membuatnya hampir mati. Sampah sepertinya tidak bisa menandingi aku, Balphegor yang pro ini”
Mencemooh dan merendahkan, hanya itu yang berulang ulang di ucapkan oleh orang yang menyebut namanya balphegor. Sudah pasti orang yang mendengar ucapan itu akan kesal, terlebih lagi Lie.
Selain ia menyerang para player, ia juga menyerang para NPC. Memang hal itu memungkinkan, pemain yang menyerang npc pasti memiliki alasan alasan sendiri dan kali ini alasan balphegor menyerang npc untuk mengurangi kemampuan npc agar murid yang ia bimbing tidak mendapat pelatihan maksimal.
“aku tidak tahu apakah benar Guru yang seorang NPC bisa di buat terluka. Tapi mungkin aku bisa menghajar mulut orang yang hanya berbicara besar”
“coba saja, pendek”
Balphegor berkata menantang. seperti bendungan yang sudah tidak bisa menahan debit air yang terlalu besar, mendengar sambutan seperti itu Lie langsung berlari menerjang dengan tangan terkepal dibungkus knuckle besi
Dan Bum! Jadilah kokokran
Pukulan pertama tepat mengenai perut Balphegor yang membuatnya terlontar terbawa pukulan yang terlalu keras. Hingga menubruk tembok batu dan membuatnya berlubang. Debu beterbangan di lokasi tubrukannya tapi tidak berhenti di situ, lie ikut masuk ke dalam kebulan debu itu.
Suara pukulan pukulan keras terdengar nyaring berasal dari dalam sana tidak tahu pasti siapa yang membuat suara suara nyaring itu atau apa yang sedang di lakukan Lie di dalamnya
Setelah puluhan suara dentuman yang menggema tubuh sang balphegor kembali terlontar keluar dari dalam sana, ia terseret tekanan hingga tanah yang di laluinya membekas jelas membentuk cekungan sepanjang jalur lontarannya

Deadly Spell

Author: Jiyu /


System membiarkan makhluk itu untuk tetap ada hingga para pemain dapat mengolah bagian darinya, Tidak ada sistem drop di sini. jika para player menginginkan benda langka, ia harus mengolah sendiri dari barang buruannya. memang tidak ada yang mudah walau di dalam game sekalipun.
Sloth masih saja sibuk menguliti si monster mata, ia menggunakan pisau berburu yang bagus, sepertinya sengaja di buat untuk hal semacam itu. Sedangkan Lie, ia masih saja membanggakan diri sambil mengabadikan kenangan itu dengan mengambil screen shot dengan monster yang ia jadikan pijakan.
“Minggir”
Sloth mengucap kata, tapi terdengar samar. Lie yang tidak terlalu memperhatikan jadi tidak mendengar ucapannya. Tidak perduli dengan Lie yang masih bertingkah konyol Sloth merogoh kantung dan mengeluarkan satu benda lagi. Katana indah terpancar saat ia menariknya dari sarung.
Senjata tajam berkilauan bernama <<Lil Scartch>>. Baja lengkung berwarna hitam dengan guratan merah lalu penahan dari <<orihalcum>> yang menyala jika terkena sinar. Para kolektor senjata pasti akan berani memberikan berapapun jumlah angka yang di minta, untuk dapat sekedar memilikinya.
Sloth mengangkat <<Lil Scartch>> miliknya itu setinggi langit, tinggal menunggu ayunan kencang ke bawah. Lie terkejut ketika ia menoleh, sebuah benda tajam tengah menantinya. Sadar akan ancaman it ia segera melompat turun dari singgasana kebanggaannya. Dan wush… suara halus bagaikan embusan angin, kilat hitam tergambar di langit mengikuti ayunan sebuah katana keramat.
Hanya dengan satu kali ayun monster eye terbelah menjadi dua. Seperti membelah agar agar dengan sendok.
“hey, lu gila ya!”
Lie berteriak kesal. Marah, sudah pasti ia marah. Seberapa banyak orang yang tidak marah jika seseorang hendak menebasnya dengan sebuah pedang. Sedikit saja ia terlambat menyingkir maka nasibnya akan sama seperti monster eye. Sloth tidak terlalu memperdulikan hal itu, bahkan mungkin sedari tadi ia menganggapnya tidak ada. Hanya Crow yang tertawa geli melihat tingkah mereka.
Kini Monster Eye terbelah dua dan terlihat jelas bagian dalamnya. Di balik kelopaknya terdapat beberapa bagian membengkak memar bekas benturan, dan ternyata kelopak itu tidak benar benar membuatnya kebal. Hanya membuatnya kuat di luar untuk melindungi bagian lunaknya di dalam.
Ada satu yang membuat Clow dan Lie bertanya tanya. persis di pusat tengah monster ini sangat menyedihkan, Hancur karena remasan dari dalam. Oleh apa, apa yang bisa menghancurkan monster ini dari dalam. Bahkan untuk menembus kulit luarnya itu saja sudah sangat sulit.
“mau apa sloth dengan bangkai ini”
Crow bergerak mendekat dari duduknya, rasa ingin tahu yang kuat membuatnya bangkit dan melupakan semua lelah. Beberapa kali ia menendang daging lembek yang tergeletak disana, daging itu bergerak bergelombang seperti jely.
“mulanya aku ingin mengambil sebagian dari tubuhnya untuk ku jual, tapi sepertinya ini sudah tidak berharga lagi”
Ujar Sloth sambil meremas sebagian daging yang sebelumnya terlah ia sobek dari bangkai itu.
Mantra kutukan type dark, Death Mark. Belum lama ini monster eye sedang bertarung dengan seseorang yang cukup kuat hingga ia berhasil menempatkan mantra seperti ini pada monster Boss. Sudah semestinya monster boss memiliki daya tahan yang tinggi dengan mantra kutukan tapi orang ini berhasil menembusnya.
Benar jika sloth adalah orang yang melakukan serangan terakhir pada monster, membuatnya kehilangan nyawa dengan mengaktifkan mantra <<release>>, yang sebenarnya bukan sebuah mantra yang di khususkan untuk menyerang tapi untuk menghilangkan dan menarik paksa kutukan yang menempel pada target. Kutukan yang kuat menghasilkan damage yang kuat pula ketika di paksa untuk di lepas.
Sloth sudah menyadari itu, bahwa monster eye sudah terkena kutukan sejak bertemu mereka.
Monster eye, makhluk buas kreasi Wood Elf bukan sekedar monster buas tidak berotak. Seharusnya ia monster yang cerdas, dan cukup cerdas untuk membuat satu atau dua dari mereka gugur. Tapi yang di lakukanya tadi hanyalah gerakan sia sia yang di lakukan oleh hewan yang hanya bergerak berdasarkan insting.
Mantra Death Mark yang menyebabkan itu, kutukan buruk menyebar ke seluruh tubuh dengan kemungkinan melumpuhkan sedikit demi sedikit organ dalam dan membuatnya membusuk. Hal ini membuat monster eye mengamuk dengan asal membuang seluruh energinya sia sia.
“sejak awal bertemu, monster ini memang sudah mati”
Hening, tidak ada lagi yang berbicara setelah kalimat terakhir yang di lantunkan Sloth. Tidak satupun bersuara saat itu termasuk Lie yang sebelumnya berteriak terus menerus membahas hidupnya yang sebelumnya akan berakhir.
Apa itu karena memikirkan sebuah kebenaran di balik raid boss?, kebanggaan mereka mengalahkan boss tidak lain dan bukan hanyalah karena bantuan dari sebuah kutukan bodoh.
Sepertinya bukan hal itu yang ada di pikiran mereka sehingga mereka diam tidak bersuara, ada sebab lain kenapa mereka bertiga seperti itu. Akan aku beritahu tapi jangan biarkan ini mengganggumu
Mereka terdiam karena ada sesuatu yang lebih berbahaya sedang mengincar mereka.
“oi Sloth. Aku merasakan hal yang aneh, ada apa ini”
Lie berubah menjadi serius, sepertinya ia lupa dengan hal yang menimpanya beberapa saat lalu yang membuatnya marah pada sloth. Ia mulai melihat lihat sekitar mencari sesuatu yang mengganggunya.
Sebenarnya bukan hanya Lie yang merasakan hal itu, Crow dan Sloth juga merasakan hal yang sama.
“ya ampun, PK (Player Killer)
Sistem di dalam game memberikan peringatan pada para player jika terdapat player lain yang memiliki Killing Aura jika berada di dekatnya. Besarnya Killing aura tergantung dari PK itu sendiri, semakin banyak ancaman ia lakukan semakin besar tekanan aura yang di berikan. Dan itulah yang kalian rasakan saat ini.
Sepertinya kali ini seorang yang Pro, Pro dalam membunuh player lainnya hingga aku juga bisa merasakannya”
Mereka semua menjadi waspada beriap siap dengan serangan yang akan datang karena sepertinya PK itu juga sedang mengawasi mereka entah dari mana.
Sloth memasukkan tangannya kedalam kantung jubahnya mengabil benda sihirnya, Crow mengambil satu anak panah dan memasangnya pada busur, Lie mengepalkan kedua tangannya. Sepertinya semua sidah siap bertempur.
Waktu terus berjalan, ketiganya belum melakukan gerakan apapun dan musuh juga belum menunjukkan tanda tandanya. Sementara tekanan aura ini terus menerus datang tidak mau berhenti malah semakin kuat.
“Sial!, aku tidak tahan lagi diam terus”
Lie berteriak meracau dan berlari pergi meninggalkan mereka, memang Lie tau arah untuk kembali ke kota tapi tetap saja berlari meninggalkan yang lain bukanlah sebuah pilihan yang bijak. Crow memperingatkan padanya untuk tidak meninggalkan mereka karena itu tidakan yang berbahaya, tetapi rupanya Lie tidak menghiraukan hal itu ia tetap pergi meninggalkan yang lain. Ia mengambil jalan menikung sampai tebing menutupi sosoknya hingga tidak bisa terlihat lagi. Tapi,
“Tsrrkkkkk...!”
Suara gesekan antar logam nyaring datang dari celah tebing dimana Lie berbelok tadi, dan seseorang menampakkan sosoknya dari sana.

Monster Eye ~Ranum~

Author: Jiyu /


Kami bertiga melompat kedepan dengan cepat. Berfikir bahwa itu salah satu cara yang ampuh untuk keluar dari suasana ini.
Aku berbalik arah, untuk melihat sebenarnya ada apa di belakang kami, dan yang aku lihat di sana adalah..
“Sloth, apa benar ini..!”
Crow berteriak tidak percaya. Monster eye yang selama ini mereka cari kini muncul di hadapan mereka. Wujudnya memang seperti yang di ceritakan sebelumnya tapi, ukurannya jauh melebihi perkiraan Crow.
“bukan, ini bukan yang gue hajar tadi”
Lie menyambung dalam pembicaraan.
“ya, emang ini bukan monster yang pernah lu lawan Lie, tapi ini emang bener Monster Eye. Atau yang sebenernya di sebut, Raid Boss Monster eye”
Raid Boss sebutan bagi monster yang menjadi pemimpin dari para kaumnya. yang terkuat, yang tercepat, levelnya jauh berbeda dari monster normal. Hampir mustahil bagi player dengan level setara untuk sanggup melawan monster type Raid Boss sendirian. Mereka di sarankan untuk bertarung dengan membentuk party untuk mempermudah mengahalkannya.
“jangan bercanda. Apa kau sudah lupa, kami hanya pemula yang baru mulau game ini”
“justru itu, Alasan itulah yang nyebabin kenapa gw ngajak kalian ke sini. Jadi… ayo hajar!”
Ngiiiiiiiiiiing….. suara gelombang EMP yang memekakan telinga. Ini adalah tanda bahwa monster sedang memulai perlawanannya.
Crow dan Lie menutup kedua telinga mereka karena tidak tahan dengan suara yang di hasilkan oleh Monster Eye. Sedangkan Sloth masih bisa bertahan dari serangan itu. Ia berlari mengitari monster eye sambil menancapkan benda benda aneh di tanah.
~telanlah monster busuk ini kedalam zona hampa : Void : eshkara tseio minertra kanom qhus~
Sloth mengucapkan mantra sihir gelap, ia menciptakan sebuah dimensi kosong yang berujung pada benda benda yang tadi ia tancapkan di tanah. Dimensi itu berhasil mengurung Monster Eye di dalamnya. Kemampuan monster eye sudah sepenuhnya di lumpuhkan, Setidaknya untuk waktu yang singkat ini.
“Lie, lari ke belakang Eye serang dari sana. Crow mundur, ambil jarak sekitar 9 meter bidik Eye pake bowmu”
Mereka berdua mengikuti perintah Sloth dan segera berlari menuju posisi masing masing. Lie mengeluarkan benda dalam kantung kecil yang terikat di pinggangnya. Sebuah Knuckle Spike, senjata yang biasa di pasang pada tangan seperti sarung tinju.
Benda itu sepertinya terbuat dari besi yang kuat, mengelilingi hampir seluruh tangan Lie. Ada bagian bagian seperti spike atau paku paku tajam, yang sengaja di buat untuk bisa menghasilkan luka yang cukup serius.
Lie terus menerus melayangkan tinjunya yang di selimuti besi ke bagian belakang Monster Eye, Crow mencoba membidik dan menembak sasaran menggunakan Carnage Bow miliknya tapi seringkali bidikannya meleset. Berulang ulang kali ia mencoba tapi tetap saja anak panah tidak melesat sesuai dengan keinginannya.
Sloth mencoba membantu Lie dengan menggunakan Hunting Helper. Ia memanggil Helper, Spirit of Monk dan muncullah se’ekor kura kura yang berdiri dengan dua kaki dengan jubah berwarna hitam dan merah. Kura kura itu memukulkan tongkat miliknya dengan kekuatan penuh tepat di bagian depan mata Monster Eye. Cahaya berwarna hijau menghiasi langit seiring dengan ayunan tongkat kura kura, benturan benturan yang menghasilkan dampak luar biasa besar tidak di sangka hanya berasal dari se’ekor kura kura yang terlihat lemah.
Salah satu Iron Arrow melesat dengan sangat cepat dan berhasil menancap pada bagian dari monster eye . Crow akhirnya bisa menggunakan Bownya dengan benar.
String pada Carnage Bow terlalu kuat. Untuk sekedar menarik anak panah saja sudah sangat sulit, sering kali anak panah terlempar sebelum tertarik dengan maksimal. Crow sangat kesulitan menggunakan senjata seperti ini.
“Crow, bidik dengan teliti jangan buang Staminamu”
Sloth berteriak kencang di sela sela pengucapan spellnya
Crow yang mendengar itu segera melihat bar point miliknya. Dengan jelas terlihat di sana Stamina Point sudah berkurang sekitar 23%. Ia tidak percaya, bagaimana mungkin. Hanya 1 anak panah yang berhasil ia tembakkan tapi sudah membuat staminanya berkurang sebanyak itu. Ia berteriak pada Sloth mengenai Staminanya, tapi sloth hanya bilang untuk tetap menembak dengan hati hati dan pertempuranpun berlanjut.
“gawat, sepertinya voidku tidak bisa bertahan lama”
Sloth bergumam mengenai zona void miliknya yang tampaknya akan segera berakhir akibat monster eye yang meronta ronta berusaha melepaskan diri dari pengaruhnya. Benda benda yang tertancap di tanah itu mulai bergetar, sebagian darinya sudah mulai retak dan hancur. Sampai akhirnya sekitar 6 dari 13 buah kuku Centaur dibuat hancur karena tidak kuat menahan perlawanan dari monster eye.
Ngiiiiiiiiiiing…..
Gelombang suara itu muncul kembali, dan kali ini itu lebih besar dari pada gelombang di awal tadi. Lie dengan reflek segera menutup kedua telinganya, tetapi hal itu tidak berguna. Jaraknya dengan sumber terlalu dekat ia tidak tahan dengan gelombang itu dan membuatnya terkapar sambil berguling di tanah. Crow yang berjarak cukup jauh sepertinya masih aman dan masih bisa mengendalikan dirinya walaupun terlihat seluruh tubuhnya bergetar.
Sloth terus menerus mengucap mantra yang menghasilkan api berwarna ungu gelap yang membakar hampir seluruh tubuh monster eye. Yang kelihatannyapun memberikan efek yang cukup besar pada monster eye, sebelum sesuatu terjadi.
Monster eye tidak bergerak dalam beberapa waktu, seperti ia sedang berkonsentrasi. Di saat ia terdiam itulah dari sekeliling tubuhnya muncul benda seperti kulit atau kelopak yang menutupi seluruh tubuhnya. Sloth menyadari itu, sepertinya sihir yang ia lemparkan mulai tidak berguna, mungkin kelopak yang baru saja muncul itu telah menghilangkan efeknya.
Setelah seluruh tubuhnya tertutup oleh kelopak kecuali bagian pupil, monster eye mulai bergerak dan mengamuk. Target pertamanya adalah Lie yang sedang tergeletak di dekatnya. Ia mulai melayang lebih tinggi lalu bergerak turun dengan cepat, membenturkan seluruh tubuhnya ke tubuh Lie yang berada di atas tanah.
Suara benturan yang keras sepert bom menggema dan memantul di dinding dinding batu sepanjang celah.
Setelah melakukan serangan tadi, monster eye kembali melayang. Sloth terus menerus menyerangnya dengan melemparkan sesuatu yang di selimuti oleh cahaya merah berbentuk kerucut yang memiliki akar di bagian ekor dengan suara seperti percikan listrik bercampur gaung.
Monster eye terus melayang sambil berusaha menghindari serangan serangan itu. Kura kura monk juga ikut membantu dengan melompat lompat mengejar monster eye berusaha memukulkan tongkatnya, tak lupa juga Crow yang sesekali melesatkan anak panah yang kini ia sudah sedikit kuasai.
Sering kali monster eye menabrakkan dirinya pada Sloth dan Crow tapi keduanya berhasil menghindarinya. Keduanya sepertinya sudah memiliki konsentrasinya kembali, karena gelombang EMP dari monster eye sudah berhenti persis pada saat ia memunculkan kelopak matanya. Sebenarnya Sloth terkena hantaman beberapa kali, tapi itu masih belum bisa menghentikannya. Lagi pula ia tidak bisa berhenti karena ia yang paling di harapkan dalam party itu untuk bisa mengalahkan monster eye.
Beberapa spell, tembakan anak panah, pukulan tongkat, dan benturan tubuh berulang ulang di lancarkan. Hingga saat saat terakhir menentukan semuanya.
“Oi bangun, kalo lu masih tiduran di situ, mungkin ini monster bakal niban u beberapa ratus kali lagi dan gue gak peduli”
Sloth berbicara pada seseorang, seseorang yang terbaring di tanah. persis pada bekas benturan dari monster eye yang membentuk lubang cekungan ia tergeletak dengan bekas darah yang keluar dari mulutnya. Sedikit demi sedikit, tubuh itu mulai bergerak hingga akhirnya ia berdiri dengan kedua kakinya.
Sambil mengelap sebagian darah yang masih tertinggal di mulutnya ia berbicara
“sialan lu ran. Emang lu kira ke gencet badan segede gitu gak sakit apa”
Ternyata itu Lie, dan ia masih hidup. Sepertinya serangan tadi juga tidak terlalu menghasilkan efek yang besar.
“gue.. gak.. peduli”
Sloth berkata lagi dengan nada datar
“ahh.. ya ya”
Ucap lie menanggapinya sambil melenturkan badannya, tapi di saat itu serangan hantaman tubuh monster eye persis mengarah kepada Crow dengan cepat. Sepertinya Crow sudah tidak bisa menghindar lagi, staminnya sudah terkuras habis untuk menembakkan arrow dan menghindari makhluk besar ini.
Ia melakukan gerakan bertahan dengan menyilangkan kedua tangan di depan dada berharap dapat menahan serangan yang datang. Tapi saat itu Lie dengan cepat melakukan gerakan khusus, sebuah skill dari para fighter yaitu Shoulder Charge sebuah serangan dengan menggabungkan dash’ berlari cepat menuju satu titik dengan hantaman bahu.
Bugh!, dan tepat sekali serangan itu berhasil mengenai monster eye serta mengagalkan serangannya. Monster eye terpental kesisi lain tergelinding karena kehilangan keseimbangannya. Tidak berhenti di situ Lie segera berlari mendekatinya dan melakukan serangan lain Stuning Punch dengan mengayunkan pukulannya dengan telak ke lokasi fatal lawan. Benturan antara pukulan tangan Lie dengan Monster eye terlihat seperti gelombang yang bergerak di permukaan daging monster eye, membuat monster eye semakin kehilangan kesadarannya. Di saat itulah Sloth telah menyelesaikan Spellnya meremas seketika monster itu terbelalak, bentuknya yang seperti mata yang tiba tiba <<melotot>> seperti mata seseorang yang melihat sesuatu yang mengejutkannya. Seketika setelah itu, mata raksasa yang baru saja mereka lawan sudah tidak bergerak lagi, sepertinya ia sudah mati akibat spell aneh yang di berikan Sloth terakhir kali. Akhirnya mereka semua bisa bernafas dengan lega

Crow beristirahat sejenak ia duduk meluruskan kakinya yang lelah tepat di sebelah buruan mereka yang tengah tergeletak tidak bergerak. 

Wat? this is game or real?

Author: Jiyu /


Kilauan perak berulang kali melintas di tengah badai pasir. Teriakan teriakan kencang terdengar di sela sela pergerakan kilauan cahaya. Benturan dan gesekan antar benda logam juga menimbulkan suara serta bunga api yang indah. Bagaikan musik pengiring serta dekorasi dalam konser lagu pilu.
Beberapa menit berlalu, suara itu mulai menghilang. Hingga tidak ada lagi cahaya, tidak ada lagi suara, hanya dengungan suara angin yang berhembus kencang.
Tidak ada seorangpun yang masih berdiri di sana, semua tumbang. Bermacam barang tergeletak di atas pasir. Pisau, Busur, Prisai, semua benda benda yang berasal dari peradaban tua yang sudah seharusnya menjadi barang antik kini terurai tidak beraturan bahkan darah dan daging. Tubuh orang orang yang di duga sebagai tuannya pria, wanita, semua ikut tergeletak layaknya sebuah batu yang tidak bisa bergerak. Tidak bisa di pastikan bahwa mereka masih hidup, atau sudah mati. Karena dunia ini hanyalah sebuah permainan yang masih menjadi misteri.
Muncul sosok seseorang di tengah padang pasir dengan badai. Bayangan itu pergi menjauhi area pembantaian. Seorang pria muda yang berlari sekuat tenaganya dengan armor yang hancur, senjata miliknya pun sudah terlepas dari tangannya dan di tinggalkan.
Srak..! suara gesekan pasir dengan sepatu bootsnya, ia mendadak menghentikan langkah kakinya. Wajahnya berubah pucat, seperti melihat hantu tak berkepala saat seseorang berdiri tepat di depannya. Begitu pula dengan udara di sekelilingnya. Angin berhenti bertiup dan debupun mulai memudar seperti ingin menunjukkan dengan jelas, siapa sebenarnya yang ada di depan pria ini
Orang itu, orang dengan pedang perak yang memantulkan sinar. Sama persis dengan pelaku pembantaian terhadap temannya.
Pria muda itu berbelik arah dan kembali berlari, berusaha menjauh dari orang berpedang perak. Ia sangat percaya pada kemampuan berlarinya, dengan kecepatan berlari yang sudah di luar batas. Ia mengucap sebuah mantra di tengah pelariannya. Sprint, mantra sihir yang dapat meningkatkan kecepatan bergerak berkali kali lipat hingga saat ini ia seperti citah yang sedang mengejar mangsanya, hanya saja saat ini kondisinya terbalik bagi si citah.
Orang dengan pedang perak masih berdiri di tempatnya, ia masih belum bergerak 1 milimeterpun seakan ia sudah tidak memiliki minat lagi kepada pria itu.
Angin kencang kembali berhembus, serta debu yang di bawanya kembali menghalangi pandangan. Sosok pria itu kembali memudar. Bersamaan dengan itu ia mulai bergerak perlahan meninggalkan tempatnya. Dan suasana gurun kembali seperti semula.


Crow, Lie, dan Sloth. Mereka bertiga berhenti bergerak. Perasaan aneh merasuki mereka semua, seperti ada tekanan yang besar datang dari belakang bereka.
“ini… apa mungkin”
Aku memberanikan diri untuk bertanya pada mereka
“ah. Aku tidak tahu, tapi. Sloth!”
Lie berteriak panik. Bahkan sepertinya tekanan dan perasaan aneh ini juga berpengaruh pada randy. Ia berbicara pelan pada kami
“he.he. selamat untuk kalian. Kali ini kita sudah di temukan. Bersiap semua!”

Canyon

Author: Jiyu /


sebenernya ini game di ambil dari game yang pernah saya mainin jadi sebagian nama kota juga ngikut sama yang ada di game itu. maaf
tp bukan ngopy lo, cuma terinspirasi dan saya juga lg gak ada ide buat kasi namanya.






Aku sudah kembali sampai di kota giran, dan kini hari sudah malam. Aku mencari cari keberada’an Randy dan Hiro di tempat yang sudah kami janjikan tapi mereka tidak ada di sana.
“Lie..!!, Sloth..!!”
Aku berteriak sepanjang jalan. Orang orang semakin banyak di sini dan mereka melihat kearahku setiap aku berteriak, tapi aku tidak perduli yang kupikirkan saat itu hanyalah menemukan mereka.
Tapi sudah lama aku mencari mereka tetap tidak muncul. Entah aku harus pergi kemana lagi untuk mencari mereka, seluruh kota sudah habis aku telusuri.
“bugh!”
Kepalaku di hantam keras oleh seseorang dari belakang.
“hoi!”
Aku berteriak kesal dan menoleh ke belakang
“apa, kemana aja loe dari tadi. Sialan gw nyariin keliling gak nemuin lu juga”
Ternyata di belakangku sudah ada Daniel dan Randy. Dan sepertinya Daniel terlihat kesal.
“nyari apanya. Bukannya elu dari tadi gue bantuin hunting”
“e, iya ya. hahaha…”
Randy menyangkal semua keluhan Daniel.
“jadi kalian ninggalin gue ni sendirian”
“ya iya lah, siapa suruh lu lama”
“ya maap maap”
Aku meminta maaf pada randy karena aku yang awalnya sudah menyalahi janji
“tapi ran”
“sloth!, jangan lupa itu”
“oh iya, sloth. Tadi gue pergi ke Desa <<lupa namanya>>”
“hoo.. berarti elu udah ngambil quest itu ya”
“ha? Quest?”
“iya, lu gak sadar kalau itu quest?. Sebenernya itu quest special yang punya reward yang bagus”
“masa. Ayo kesana lagi, gue mau ambil quest itu juga”
Seru Daniel yang memotong pembicara’an kami
“ya itu quest yang rewardnya bagus, tapi gue gakyakin elu bisa nyelesainnya Lie”
“maksud mu ra-‘ sloth, tapi tadi gue ketemu ibu ibu yang lagi-“
“sakit”
Lanjut Randy memotong ucapanku, dan sepertinya ia tau yang akan aku katakana tadi.
“…”
“itu adalah npc, memang npc di sini kelihatan sangat nyata. Tapi percaya deh, itu cuma npc dan elu baru aja ngambil quest itu”
“bentar bentar sloth. Apa maksudnya gue gak bisa nyelesein tadi?”
Daniel kembali memotong pembicara’an kami
“ok, gue bakalan ngejelasin tentang quest tadi dan kenapa elu (sambil menunjuk wajah Lie) gak bisa nyelesein. Sebenernya teka teki dalem quest itu gak terlalu susah, tapi tetep aja kalian gak akan bisa nyelesain itu”
“loh kenapa?”
“diem dulu gue belom selesai, quest itu merluin kemampuan dari orang yang ngejalaninnya. Kenapa gue bilang itu mustahil karena gue dulu juga pernah ngikutin quest itu, dan nyerah di tengah jalan karena itu sangat sangat sulit.
ada sebuah misteri danada beberapa halangan di tengah quest, dan untuk pemain pemula kaya kalian itu mustahil”
Randy berhenti melanjutkan ceritanya dan memberikan lirikan sinis kearah Daniel
“si Lie ngelawan monstereye aja kewalahan lari lari minta tolong ke gue, gimana mau nyelesein quest ini?”
“…., tolong Sloth jangan di bahas lagi”
Daniel menghentikan cerita sloth dengan wajah yang sedikit muram. Dan aku tidak tau apa yang telah terjadi di antara mereka saat aku tidak bersamanya tadi.
“jadi gimana kalian udah ngerti”
“…”
“bagus, sekarang. Crow!”
“!!, Apa”
Randy tiba tiba berteriak kearah-ku. Aku pun kaget dan tidak tahu, dan sepertinya ada hal buruk yang akan terjadi, perasa’anku tidak enak.
“mana hasil duit 1 juta gue yang tadi”
“tadi kan itu ada quest yang lu bilang-“
“gak, gue gak urus masalah quest gue tanyanya mana hasil duit 1 juta yang gue kasih tadi”
Randy terus memojokkanku dengan kata katanya. Dengan berat aku terpaksa menunjukkan pisau yang ku beli dari cono.
Aku menunjukkan pisau itu padanya. Dia diam menatap benda jelek yang ku pegang lalu mengambilnya.
“huff… mana bisa lu ngelawan monster pake sampah kaya begini”
Ia mengeluh dan mengembalikan pisau itu kepadaku.
“jadi harus bagaimana?”
“kayaknya gak apa apa, pisau ini bisa di gunakan untuk menusuk beberapa monster”
Daniel berkata. ia meraih pisau di tanganku lalu mengayun ayunkan pisau berlagak melakukan pertarungan dengan monster.
“Coba aja lu, perhati’in pisau itu”
Daniel berhenti dari tingkah konyolnya dan mencoba mengikuti panduan Randy. Sa’at pandangannya terfokus pada senjata, muncul jenela kecil yang agak transparan.
“munjul jendela kecil lagi”
“nah, di sana ada kalimat yang tertulis kan. Itu berisi informasi tentang pisau itu. Di sana pasti tertulis durability, itu adalah daya tahan dari si benda”
“ya ada, tertulis 12%”
“bagus. Itu dia alasan kenapa aku bilang tidak bisa. Senjata itu punya daya tahan yang sangat buruk, mungkin dengan beberapa tebasan lagi senjata itu bisa rusak atau hilang menjadi pecahan crystal. Kau mau kunci questmu hancur dan questmu ikut gagal”
“gak”
“makanya. Ayo kita pergi ke warehouse buat ambil senjata yang gue temuin kemaren, kalo gak salah gue masih punya”
=================================================================================
Mereka berdua pergi mengikuti Randy menuju tempat yang di sebut sebut warehouse. Lagi lagi sebuah tempat yang masih asing untuk mereka. Sebenarnya tempat seperti apa itu. Dan kenapa di dalam game memiliki tempat tempat yang tidak di ketahui.
Quest rahasia, tempat aneh, monster yang tidak bisa di kalahkan sendiri. Benar benar game yang penuh tanda tanya, bahkan guide book yang biasanya ada pada setiap game tidak di sediakan dalam game ini. Mungkin sang pembuat sengaja membuat gamenya seperti ini agar pemain dapat mencari tahu sendiri hal hal di dunia virtual ini.
=================================================================================
“tempat apa ini”
Aku bertanya pada randy. Tempat ini sungguh aneh, orang orang di dalam berukuran kecil maksudku agak pendek. Dan beberapa dari mereka bekerja di balik jeruji.
“hm?. Lu pasti penasaran kan banyak orang kerdil di sini. Mereka itu ras Dwarf, sekutu dari clan E”
“dwarf?”
Lagi lagi prtanya’an muncul. Sebenarnya apa itu mereka. Mereka player?, NPC?, atau enemy?. Aku biarkan pertanya’an itu untuk terjawab dengan sendirinya seiring petualangan kami di sini.
“lu sadar gak tempat ini mirip tempat apa di dunia nyata”
Randy lanjut berkata.
“hmm… seperti bank mungkin”
“ya tepat. Jeruji yang melindungi petugas yang di dalam itu, serta penjaga penjaga di depan sana. Tempat ini benar benar sebuah bank.
Para dwarf sangat mahir dalam membuat benda benda mistic. Mereka menciptakan loker dimensi, dimana barang yang di simpat di dalamnya dapat di akses darimanapun”
“kaya kantong ajaibnya norakemon”
“ya.. semacem gitu lah. Pokoknya yang terpenting, lu tunggu di sini gw mau ambil barang dulu”
Randy memerintahkan kami untuk menunggunya di sini, dan kami menurut. Tapi akan lebih tepat jika jawabannya adalah aku, karena setelah randy pergi kedalam ruangan lainnya dengan salah satu dwarf Daniel sudah pergi entah kemana. Yaya terserah, mungin dia mau berpetuaang sebentar karena bosan di tempat seperti ini.
Setelah cukup lama menunggu Randy keluar melalui pintu yang sama dengan 2 buah kangtung yang tergelantung di tangan kanannya.
“hey apa itu ran”
Aku bertanya karena penasaran, ia tidak menjawab tapi langsung melemparkan kantung itu kearahku tanpa peringatan dengan reaksi kaget aku bengan cepat menangkap kantung yang ia lempar. Aku kewalahan menangkapnya dan hampir saja terjatuh.
“awas. kalau sampai jatuh, gue gak bakal kasi pinjem apapun lagi”
“eh…. He he he”
Aku kaget dengan senyum memaksa. Tidak ku sangka randy bisa sekejam ini, ya tapi aku cukup berhutang padanya, ia banyak sekali membatu.
“mana si Lie?”
Randi menoleh ke sekitar mencari keberada’an Daniel.
“nggak tau, dia pergi pas lu baru masuk”
“ohh..”
Randy menjawab dengan singkat.
Ia berpaling padaku dan memperhatikanku, terus dan terus. Aku tidak tau kenapa tapi dia terus menatapku dengan tatapan dinginnya. Aku Cuma bisa menatapnya balik dan menunggu.
“ngapain lu malah bengong liatin gue. Di buka itu yang ada di tangan lo”
Hm? Maksudnya ini. Dia menungguku untuk membuka kantung ini?. Aku kira apa. Dia selalu menjadi orang yang misterius, dan aku sama sekali tidak mengerti dengannya.
Setelah mendengan ucapannya itu aku mulai membuka tali yang mengikat kantung ini dan muncul sebuah benda kecil berbentuk busur.
Aku memegangnya dengan 2 jari dan mendekatkannya. Aku sedikit membungkuk untuk memperhatikan benda kecil yang ada di tangan kananku
“Apa ini?, sebuah gantungan kunci?. Randy pergi ke dalam dan hanya membawakan beberapa gantungan kunci kepadaku?.”
Aku berfikir dalam hati.
“itu Carnage Bow, bow logam dengan string yang sangat kuat dari baja lentur hasil karya para Dwarf. Mungkin akan terlalu sulit buatmu untuk menariknya, jadi biasakanlah.”
“hoy, ati ati megangnya. Pegang pake dua tanganmu”
Randy berteriak padaku.
“kenapa?”
Tanyaku heran. Tidak lama setelah aku kembali menaruh benda kecil ini di atas telapak tanganku benda ini mulai berubah.
“oi oi, ini beneran kan”
Seruku karena terkejut karena benda yang ada di tanganku semakin lama semakin membesar. Dalam beberapa detik saja aku sudah tidak kuat memegangnya hanya dengan sebuah tangan, terpaksa aku menggunakan ke dua tanganku.
“i-ini”
“kenapa, kaget?. Ini effect dari dimension pocket bangsa dwarf. Buka kantung yang satu lagi. Itu berisi armor leather. Pake dan kita langsung hunt”
“o..oke”
Aku masih tergagap karena benda benda yang menakjubkan di sini. Aku selalu lupa kalau di sini adalah di dalam game dan semua pasti bisa terjadi.
Aku menaruh busur panah dan mulai membuka kantung lainnya, sementara randy sibuk dengan window transparan miliknya.
“sudah?”
“anu, bagaimana ya memakai baju ini?. Apa tidak ada kamar pas atau semacamnya?”
“aduh Crow..”
Randy menjawab dengan lemas dan telapak tangannya di taruh di keningnya. Menggunakan equipment berupa pakaian memang agak lebih merepotkan di banding dengan senjata atau semacamya. Tapi cukup mudah walaupun untuk pemula.
Menggunakan pakaian hanya perlu memakainya seperti biasa, tanpa perlu membuka pakaian sebelumnya maka secara otomatis pakaian yang tertumpuk akan terlepas dan tergantikan oleh pakaian yang baru saja di pakai.
Setelah aku menggunakan pakaian baru ini Randy lalu mengajakku pergi ke toko perlengkapan senjata ia membelikan banyak arrow beserta kantungnya.
Ia mengatakan padaku jika di setiap toko NPC pasti memiliki arrow, jadi jika aku kehabisan arrow maka aku hanya perlu datang kemari dan membeli beberapa.
Jenis dari arrow sendiri ada banyak, ada wooden arrow, iron arrow, steel, adamantine, diamond. Masing masing memiliki kualitas dan harga yang berbeda. Selain itu aku juga bisa membeli dalam bentuk perbuah seperti ini, atau yang lain seperti arrow pack yaitu kantung yang di dalamnya memuat banyak arrow, seperti dimension pocket agar tidak memakan banyak ruang.
Setelah membeli banyak arrow dan perlengkapan lain ia kembali megajakku ke suatu tempat. Kami pergi ke gatekeeper di kota giran.
“halo, aku Elen sang gatekeeper kota giran, ada yang bisa aku bantu”
Npc ini lebih terlihat menyenangkan dari pada yang ada di <cave> waktu itu
“Tolong pindah ke kota gludio”
“baiklah, biaya 6.700 gold. Bersiap untuk di pindahkan”
Elen menyanggupinya dan segera setelah itu randy di kelilingi cahaya dan menghilang.
“halo, aku Elen sang gatekeeper kota giran, ada yang bisa aku bantu”
Elen kembali mengucapkan kalimat yang sama, tapi kali ini dia berbicara kepadaku. Tunggu dulu, bukannya ia mengenakan biaya pada pengiriman pemindahan tadi?. Bagaimana ini. Aku sudah tidak punya uang sama sekali.
“halo, aku Elen sang gatekeeper kota giran, ada yang bisa aku bantu”
“e.. anu kota gludio”
“baiklah, biaya 0 gold. Bersiap untuk di pindahkan”


Di tempat lain. Di dalam ruangan yang gelap yang di sinari cahaya berkedip tidak beraturan, seseorang terlihat di dalam ruangan ini, ia tengah terduduk di sebuah sofa panjang sedang menonton berita malam dari sebuah televise tua sambil sesekali meminum air dari botol kaca yang ada di genggamannya.
Samar samar gambar yang di tampilkan televise itu, benar benar benda yang sudah usang. Bahkan warna pun sudah tak tampak, hanya menampilkan gambar dengan warna abu abu dan putih.
“Paman”
Suara lirih itu datang dari belakang. Orang ini tau bahwa ada suara seseorang yang memanggilnya, ia kembali meneguk air dari botol yang di genggamnya sampai habis.
ada apa
Orang itu menjawab dengan suara yang terdengar berat, sambil menaruh botol kosonya di atas meja.
“paman, aku akan menerima tawaran itu”
hm, apa kamu yakin
“ya”
Pria ini terdiam sejenak setelah menjawab pertanyaan itu dan kembali melanjutkan kalimatnya sebelum orang yang ia ajak bicara sempat membuka mulutnya.
“aku akan mengurusnya sendiri besok, jadi paman tidak peru repot”
Tidak ada tanggapan yang jelas dari orang itu. Hanya hela’an nafas saat ia bangkit dari sofa. Sosoknya terlihat jelas kali ini. Pria tinggi dengan badan besar mengenakan kaus ketat dan celana jeans gelap yang lusuh.
Ia bangkit dan berjalan menuju pria itu.
“bagus”
Orang itu kembali berkata dengan suara khasnya sambil mengusap kepala si pria muda di depannya. Lalu kembali berjalan meninggalkan ruangan itu.
“oh ya. kunci saja pintu, aku akan pulang besok”


“oh, aku sudah ada di tempat lain”
#tring triring
Music halus harpa terdengar di sekelilingku, suara itu berasal dari sebuah amplop yang memiliki sayap yang terbang berputar putar.
Aku menangkap amplop tersebut dan membukanya, tertulis
“teleport ke wasteland. Gue tunggu di sana”
Serta ada tulisan di bagian bawah bertuliskan “Sloth”. Aku pikir ini dari randy.
Aku mengikuti perintahnya, pergi ke gatekeeper dan memintanya memindahkanku ke wasteland itu.
Sesampainya di wasteland ada 1 hal yang aku khawatirkan. Tempat ini… tempat ini sama sekali tidak berpenghuni. Tidak seperti di dalam kota ataupun desa yang sebeumnya aku kunjungi. Terlalu sepi.
“HOIII…!!!”
Aku berteriak sejadinya, tapi suaraku sepertinya masih kalah dengan suara hembusan angin yang dengan kencang bertiup di antara bebatuan yang menjulang tinggi seperti menara.
Tidak ada seorangpun di sini, bahkan npc sekalipun tidak tampak.
Aku mulai panik, bagaimana jika aku tadi salah pergi ke suatu tempat, atau gatekeeper tadi yang salah memindahkan ku. Tidak, npc akan melaksanakan pekerja’annya dengan akurat. Kalau begitu, apa jangan jangan surat tadi itu palsu.
Di tengah kebingunganku dengan pikiran pikiran negative, sosok manusia mulai muncul berjalan menembus debu pasir yang terbawa angin. Sosok itu mulai jelas, yang ternyata itu Randy dan Daniel.
“crow, kemari. Lewat sini”
Aku berlari mendekat menuju mereka sesegera mungkin. Randy memintaku bergegas, dan kami bertiga berlari bersama menembus badai pasir yang tebal ini. Sepanjang jalan aku melihat samar samar bayangan orang yang sedang bertarung atau berkelahi. Randy mulai menjelaskan sesuatu kepadaku sambil berlari. Sebenarnya tempat ini bukanlah tempat yang cocok untuk para newbie seperti kami, seharusnya para pemula hanya mengikuti quest awal untuk mengenal game ini dan melakukan hunting di sekitar <<camp clan>>, melawan hewan liar yang lemah, untuk sekedar membiasakan pada permainan ini. Tapi karena kami sudah memiliki guide pribadi yaitu Randy, jadi kami langsung saja menuju medan yang sebenarnya.
Sudah cukup lama dan jauh kami berlari randy juga sudah menjelaskan banyak hal kepadaku, yang nanti akan aku jelaskan sedikit demi sedikit seiring perjalanan kami. Akhirnya kami tiba di sebuah tempat yang berbeda. Angin di sini tidak sekencang yang di sana. Mungkin karena tebing besar yang menghalangi ini.
“ayo kita lanjutkan”
Daniel berseru dengan semangat, sepertinya Daniel sudah mengenal tempat ini.
Aku berlari sambil mengemati sekitar, sepertinya banyak mata yang mengawasi kami semenjak kami tiba di tempat ini.
“kenapa aneh ya”
Randy bertanya padaku. Dia tau kalau aku merasakan sesuatu yang aneh pada tempat ini. Tapi seakan tidak ada hal yang buruk dia tidak terlalu memperdulikannya.
“tempat ini bernama Celah pengawas, dalam heventyr celah pengawas adalah salah satu tempat yang memiliki cerita dalam buku sejarah Heventyr. Ini satu satunya tempat masuk menuju hutan bamboo tempat salah satu clan yang bersahabat dengan tree elf.
Tempat ini di namai celah pengawas karena ini menjadi tempat di mana para tree elf dan sekutunya berjaga untuk menyingkirkan para pengganggu yang akan memasuki wilayah mereka. tapi karena sekarang jumlah para tree elf sudah sangat sedikit dan berkurang, mereka akhirnya menciptakan makhluk buas lain yang menggantikan mereka untuk menjaga tempat ini, dan mengingkirkan penyusup yang ingin memasuki hutan bamboo.
Dan apa kau tau, makhluk itu yang nanti akan kita buru”
Lagi lagi, randy menceritakan ku sebuah kisah yang aku tidak ketahui. Setelah mendengar itu, aku semakin berhati hati selagi berada di tempat ini.
“anu ran. Memagnya seperti apa makhluk yang nanti kita buru”
“seperti apa ya.. fisiknya terlihat seperti monster biasa. monster berbentuk mata, mata merah berlendir yang berukuran besar. Dia menyerang menggunakan sihir telekinesis, memaksa matamu keluar dari kepala dan menghancurkannya. Kau akan dibuat buta.”
“… mengerikan”
“mengerikan?. Itu masih belum seberapa.., saat matamu di tarik keluar olehnya rasa sakit yang tidak tertahankan dari urat mata yang tercabut paksa dari tempatnya akan selalu menghantuimu.
Dan lagi. Bukan kita yang nanti akan menemukan mereka terlebih dahulu, tapi mereka yang pertama kali menemukan kita. Jadi, tetap buka matamu dan perhatikan sekitar”
“…”
“ayo crow cepat, kita tertinggal Lie di depan”
Kami mempercepat langkah kami menuju lokasi perburuan. Aku tidak tahu kenapa, dan aku yakin Lie juga mendengar cerita tentang tempat ini tapi kenapa, dia masih terlihat tenang sama seperti randy.

Desa di pinggiran danau

Author: Jiyu /


eto......
apa ini?


i
ni desa floran, sebuah desa kecil di pinggiran <<danau jernih>>. Desa ini terlihat biasa saja, walau terasa sedikit sepi. Tapi terlihat sepasang penghuni desa sedang mengurus kebun kecil di depan rumahnya.
“hai cono, bagaimana keada’an ibumu”
“ah hai tuan Poke. Keada’an ibu masih seperti biasa”
Salah satu penduduk desa itu menyapa anak yang sedang berjalan besamaku. cono pun berhenti sejenak dan membalas sapa’an mereka dengan senyum di wajahnya.
“oh, nanti aku akan menyusulmu kesana”
“baik, terimakasih tuan poke”
Setelah mengucapkan kalimat itu cono melanjutkan lagi langkahnya meninggalkan mereka, aku lihat seorang wanita yang ada bersama dengan si poke tadi. Ia terus menerus memandang ke arahku dengan tatapan mata curiga.
“eh cono, siapa orang barusan”
“yang tadi itu, itu adalah tuan poke kepala desa di sini. Dia itu orang yang baik”
“ohh…”
Aku mengangguk mengerti. Di depan sebuah rumah, cono menghentikan langkah kakinya dan berbaik ke arahku.
“kakak tunggu di sini sebentar ya, aku akan memanggil tabib”
“ok”
Aku mengiya kannya. Cono bergegas masuk melewati pagar rumah kecil di depan dan mengetuk pintu dari rumah itu. Tidak lama seseorang keluar menemuinya, seorang pria gemuk yang agak botak di keningnya. Entah mereka membicarakan apa, sempat aku melihat cono menunjuk ke arahku. Dan setelah itu si gemuk kembali masuk ke dalam rumahnya, sedangkan cono tetap menunggu di depan pintu.
Setelah lama aku menunggu, cono berjalan kemari bersama dengan si gemuk yang baru saja keluar dari dalam rumahnya dengan sebuah tas besar. aku kira ia mungkin adalah seorang tabib. Ia berdiri di hadapanku, ternyata tingginya lebih pendek dariku. Ia mengangkat tangan kanannya sepertinya mengajakku untuk berjabat tangan, aku menerima jabatan tangannya. Setela itu kami berjalan menuju rumah cono.
Sepanjang jalan aku memperhatikan si tabib yang ada di sampingku ini, ia sama sekali tidak mirip dengan seorang tabib atau doctor yang aku tahu. Entah apanya, tapi perasa’anku mengatakan ada yang tidak benar dari si doctor ini.
“tok tok tok”
Suara ketukan pintu terdengar hingga ruang kamar.
“ibu aku kembali”
Cono membuka pintu kayu itu selebar mungkin, mempersilahkan kami untuk ikut masuk ke dalam rumah kecilnya.
“uhuk uhuk..”
Suara batuk kecil dari dalam sebuah kamar mulai terdengar.
“kakak, kakak boleh tunggu di sini aku bertemu ibu dulu bersama tabib”
“tidak apa, kalau boleh aku ingin ikut kedalam”
“baiklah, kakak boleh ikut masuk ke dalam”
Cono mempersilahkan aku untuk menunggu, tapi aku tidak mau. Aku ingin tau, sebenarnya sakit apa yang di derita oleh ibu dari anak ini.
“ibu ini aku sudah membawa tabib”
“terimakasih ya cono”
Wanita itu mengelus kepala cono sambil tersenyum. Ia berusaha bangun dan bersender di dinding kamarnya di bantu oleh cono. Sang tabib mendekat untuk memeriksanya, memegang tangan dan memeriksa nadi dan beberapa hal lainnya yang aku tidak terlalu mengerti.
Setelah tabib selesai dengan permainannya, ia mulai angkat bicara.
“ini adalah sakit biasa, tapi jika terus di biarkan malah akan semakin berbahaya. Aku bisa saja memberinya obat tapi.. uang yang kau berikan sepertinya belum cukup cono”
Begitulah kalimat yang di ucapkan tabib, mendengar itu aku langsung di buatnya kesal. hei, uang 1juta itu bukanlah uang yang sedikit.
Karena kesal aku segera pergi keluar untuk menenangkan diri.
“lalu bagaimana ibuku tuan”
“aku akan memberikan ramuan yang sesuai, semoga saja ibumu dapat sembuh karena ini dan …”
Aku tidak bisa mendengar lanjutan kalimatnya, atau mungkin lebih tepatnya aku tidak mau mendengarkan ocehan busuknya itu.
Aku mencoba untuk duduk dan menunggu di luar ruangan. Meredam rasa kesalku pada si tabib sialan itu dan memikirkan apa yang salah pada tempat ini.
Entah bagaimana sa’at tabib keluar dari ruangan emosiku malah semakin meningkat, aku menarik kerah bajunya dan menyeretnya keluar rumah.
Di depan rumah aku menghimpitnya ke tembok mencengkram erat kerahnya dan mengencangkan genggamanku yang seakan ingin cepat menghantamkannya ke wajah si tabib.
“berengsek, sebenarnya apa yang kau mau. Kenapa kau tidak sepenuhnya membantu anak itu”
Aku berteriak di wajahnya menunjukkan kemarahanku pada si pria gemuk yang tolol ini.
“hei dengar tuan, memang sudah seperti itu. Aku juga ingin membantu anak itu, tapi aku juga butuh uang untuk dapat tetap hidup”
“uang 1juta itu bukan uang yang sedikit kau tau itu..!”
“iya, tapi kau juga tidak tahu kan, bahwa hidup di sini itu adalah hal yang sulit”
Ia membalas bentakanku tadi dengan nada yang keras juga.
Dan hal itu membuatku semakin kesal, aku memukulkan tangan kosongku ke wajahnya dengan keras berulang ulang sampai aku tidak sadar dengan kedatangan cono yang menyaksikan kami berdua.
“sekarang jawab aku sekali lagi, kau  ingin membantu anak itu atau tidak”
“tidak”
Aku kembali berteriak di wajahnya. Tapi tetap saja ia tidak mau mendengarkan. Aku sudah tidak bisa menerima lagi, aku menariknya keluar dan melemparnya ke tanah.
Semua perabotan yang ia bawa terurai keluar dari tasnya, ia memunguti kembali semua barang barang itu, memasukkannya kembali ke dalam tasnya. Dan sesekali memegangi wajahnya yang lebam.
“HOI..!”
Seseorang berteriak kemari, seseorang yang aku pernah lihat sebelumnya.
“apa anda baik baik saja”
“tidak apa apa tuan poke, tolong urus saja bajingan di sana itu”
Tuan poke membantu si tabib itu memasukkan kembali barangnya serta membantunya untuk berdiri kembali, lalu ia mempersilahkannya untuk pergi meninggalkan kami.
“apa yang sebenarnya kau lakukan..!”
“cih”
Aku meludah ke tanah, aku kesal dengan perbuatan si poke ini, kenapa dia malah membantu tabib sialan tadi.
Poke melangkah ke arahku dengan eksresi wajah yang marah. Entah kenapa, tapi aku tidak menyukainya. Jika ia ingin menghajarku, maka aku akan membalasnya.
Ia semakin mendekat, cono yang menyadari itulangsung berlari mendekati Poke berusaha menahan langkahnya.
“maaf tuan poke, tapi tolong jangan marah kepada kakak itu”
Ujar cono berusaha menenangkan poke yang terlihat marah. Poke berjongkok dan mendengarkan semua penjelasan yang di sampaikan oleh cono. Aku diam berdiri menunggu mereka  lalu akhirnya mereka berdiri kembali dengan ekspresi yang kini sudah mulai tenang dan memandangku.
Aku rasa cono sudah bisa menenangkannya dengan baik dengan cerita ceritanya yang ia sampaikan pada tuan poke. Yah mau bagaimana, sebenarnya aku juga salah karena langsung memukul salah satu penduduk desa sini. Tentu saja si pepimpin desa menjadi sangat marah.
Kami semua duduk bersama di atas tiga buah kursi kayu beserta meja kayunya yang juga telah usang. Tuan poke meminta ma’af padaku atas kelakuannya dan juga salah satu warganya yang bersikap terlalu berlebihan, dan begitu juga aku karena aku pikir aku juga sudah melampaui batas.
Di saat kami duduk tuan poke menceritakan banyak tentang desanya kepadaku, aku duduk diam mendengarkan semua ceritanya.
“Sebenarnya tempat saat itu ini tempat yang ramai, juga terkenal dengan penduduknya yang ramah”
“drug..”
Suara kursi berbunyi nyaring ketika cono bangun dari duduknya. Aku menoleh kearahnya memastikan apa yang terjadi.
“anu maaf semuanya aku permisi kebelakang membuatkan minuman”
Cono berkata sambil buru buru pergi kedalam meninggalkan kami berdua. Setelah sempat terhenti sebentar, tuan poke kembali melanjutkan ceritanya.
“Ah iya, saat itu aku masih ingat. Waktu ibu dan ayah cono masih sehat seperti biasanya, mereka selalu lewat di depan tempat tinggalku dan menyapaku di pagi hari saat pergi untuk mengurus tambaknya yang ada di danau. Ah.. sungguh keluarga yang sangat menyenangkan”
Rasa bahagia terpancar dari wajah poke. Ia menengadah ke langit langit teras dan meluruskan kaki serta tangannya. Rasa penasaran mulai datang kepadaku, banya pertanya’an yang muncul setelah tuan poke menceritakan ceritanya
“tunggu, apa anda tadi bilang ayah cono?”
“ya, ayah cono. Dia adalah seorang nelayan yang sangat terkenal di desa ini. Sosoknya yang gagah dan sikap baiknya yang selalu menolong orang orang desa membuatnya menjadi orang nomor satu di desa. Mungkin jika sebelumnya aku bukanlah kepala desa, orang orang sudah memilihnya untuk menggantikanku”
“kalau ia benar seperti itu, lalu dimana dia sekarang?”
“dia sudah tiada”
“maksud anda?”
“ayah cono sudah meninggal 3 tahun lalu”
“kenapa bisa begitu”
Aku bertanya kembali untuk mendapatkan kejelasan mengenai ayah cono.
“he he he.. maaf, tapi hal ini bukanlah hal yang patut untuk di ceritakan kepada orang luar desa. Karena itu adalah sebuah aib, dan itu semua adalah murni kesalahanku”
“tapi apa_”
Aku menghentikan ucapanku, cono sudah hadir di antara kami dengan membawa sepasang gelas berisikan air teh. Aku tidak ingin keingintauanku malah menjadi hal yang menyakitkan bagi cono.
Cono menaruh nampan di atas meja, dan memindahkan gelas gelas di atasnya di dekat kami agar mudah untuk mengambilnya
“ini, silahkan di minum”
“ah, iya terimakasih”
Poke mengucapkan terimakasih sambil mengusap kepala cono. Aku mengambil salah satu gelas yang ada di dekatku dan meminumnya sedikit, lalu menaruh gelas itu kembali ke atas meja.
“huff…”
Aku menghela nafasku bersama’an dengan semua rasa khawatir dan kemarahan yang semakin menghilang. Tapi rasa penasaran ini ttap saja menggangguku.
Aku memandang keluar, danau besar di luar desa yang berwarna ke’emasan karena sinar matahari sore masih dapat terlihat dari sini.
Tiba tiba aku ingat dengan Randy dan Daniel. aku meninggalkan mereka di kota tanpa memberitahukan apapun, mereka pasti marah dan khawatir padaku.
“maaf tuan poke, sepertinya aku harus segera pergi. Kau juga cono”
“ya baiklah”
“eeh.. kenapa”
Cono berseru seperti enggan di tinggal olehku. Tapi apa boleh buat, aku juga sudah harus pergi meninggalkan mereka dan harus menemui kedua temanku.
“temanku menungguku di kota, aku harus menemui mereka”
“tapi kan kakak baru saja kemari”
“hahaha.. sepertinya cono sudah menganggap anda sebagai kakaknya sendiri”
“eh?, tapi.. sepertinya itu tidak bisa”
Cono terlihat murung ketika mendengar ucapanku.
“bagaimana jika nanti aku kembali lagi kesini”
“ha, benar!?”
“Ya benar”
“yay.. kakak janji ya”
Cono sangat gembira mendengar itu. Ya, aku memang berniat akan kembali ke sini. Pasti.
Aku segera bangun dan pergi meninggalkan tempat ini. Tuan poke memberitahuku arah tercepat menuju kota giran. setelah itu aku pergi, tak lupa mengucapkan selamat tinggal pada cono.
“aaaaa… kira kira, seperti apa ya reaksi Daniel dan Randy ketika bertemu nanti. Ah, sudah lah. Mereka juga tidak akan marah padaku hanya karena telat berkumpul”

Mengenai Saya

Foto saya
Pawn from HIVE clan
Diberdayakan oleh Blogger.