Orang yang ku kenal

Author: Jiyu /

ehem...
ini ada lanjutannya yang tadi. dan lagi... jangan tanya judul.
oh iya 1 lagi. saya bukan Imam Firmansyah, tapi saya tuan darinya. dia assistant yang paling saya kagumi jd sebentar saya take over karakternya. hohohoho...
selamat menikmati~







“kaak.. kaak.. kaak.. kaak”
Suara burung gagak berbunyi nyaring terdengar di seluruh penjuru ruangan. Suara itu berasal dari jam alarm silinder seperti tiang, dengan figure burung gagak di atasnya. Ada beberapa angka berwarna merah yang muncul di tiang itu, menunjukkan tanggal bulan tahun dan jam saat ini, 5 Desember tahun 2031 pukul 5 pagi.
Suara suara itu berhasil menyadarkan seroang anak yang sedang tidur di atas ranjang empuknya. Ia menekan kepala dari gagak, dan memmbuat suara suara itu hilang. Anak dengan rambut spike berdiri tegak dan berwarna hitam, alisnya yang tebal membuat matanya seolah sulit untuk di buka ke atas.
Setelah ia melihat angka yang tertulis di alarmnya, dengan segera ia bediri dan berjalan menuju lemari pakaian yang berdiri di depannya.
Ia membuka pintu kamar dan menuruni tangga, dengan sepasang pakaian yang terantung di bahu kirinya. Berjalan terus – terus hingga sampai di depan pintu sebuah ruangan.
‘tok tok tok’
Suara pintu itu di ketuk dari luar
“hoi.. ka…, udah selesai belum”
Anak tadi mengetuk pintu sambil memanggil seseorang yang sepertinya sedang ada dalam ruangan itu. Ia memanggil sekali lagi.
“hoi..”
‘krek krek’ suara gagang pintu sedang di putar
Seseorang dengan keluar dari dalamnya dengan hanya mengenakan sehelai handuk yang menutupi pinggang hingga bawah, lalu menjawab dengan nada kesal.
“iya iya.. berisik”
Anak tadi tersenyum dan masuk ke dalam ruangan menggantikan orang tadi
Matahari mulai meninggi di luar. Di sebuah rumah muncul anak tadi yang baru saja keluar lewat pintu  depan rumahnya dengan tas yang menempel di punggungnya. Ia mengambil sepasang sepatu yang ada di rak di beranda rumahnya dan mulai memasangnya di kedua kakinya.
Setelah itu ia berlari keluar melewati pagar rumah dan kembali menutupnya. Berlari dan berlari hingga ia sampai di sebuah tempat. Tempat pemberhentian bis, mungkin halte bis adalah kata yang bisa dengan mudah kalian gambarkan.
Di tempat ini anak ini berdiri menunggu bis yang akan mengantarkannya hingga tujuannua. Sampai ada sebuah bis berwarna hitam, lebih tepatnya memang seluruh badan bis adalah sebuah gambar dari pemandangan senja yang gelap.
Anak tadi masuk dan melihat beberapa kursi masih kosong dan beberapa di tempati oleh anak dengan seragam yang melekat di tubuh mereka seperihalnya anak ini. ia segera duduk di salah satu tempat duduk yang masih kosong.
“huff..”
Anak itu menghembuskan nafas panjang, menandakan perasa’an lega darinya.



Namaku Imam Firmansyah, aku berumur 17 tahun dan cukup dewasa untuk membaca manga dengan tanda H di depannya. Hehe. Aku adalah seorang siswa menengah atas di tingkat dua.
Seperti hari biasanya, kali ini aku berangkat untuk belajar di sekolah. Apa tadi kalian melihat koleksiku, Aku memang suka mengkoleksi benda benda yang berhubungan dengan anime. seperti salah satunya jam beker tadi. Aku membelinya saat ada festival anime di pekan raya. Saat itu aku kira jam itu adalah jam yang unik, karena bisa mengeluarkan suara gagak, selain itu dia mengingatkanku dengan seorang karakter dimana dia bersama burung gagaknya mengarungi samudera.
Oh, sepertinya aku hampir sampai di tempat pemberhentianku. Aku mulai memeriksa kembali apa semua barang barangku, semoga saja tidak ada yang tertinggal dalam bis.
Bis mulai berhenti di depan sebuah halte, dan kami semua mulai turun tepat di sebuah sekolah swasta ada sebuah bongkahan batu besar di halaman depan sekolah itu, yang di permuka’an sisinya terdapat ukiran bertuliskan <<Io Garden>>
 “ui.. pagi gung”
“aah.. pagi”
“haha..-”
“eh lu liat gak siaran bola semalem-”
Daerah ini mulai bising dengan suara siswa siswi yang saling bercakap cakap. Dan aku hanya berjalan lurus melewati mereka.
“oi mam, gue duluan ya.!”
Seru salah seorang temanku yang sedang berlari terburu masuk kedalam sekolah.
Ada beberapa orang yang aku kenal saat masuk melewati gerbang tadi, dan.. ada lebih banyak lagi orang yang juga tidak aku kenal masuk melalui gerbang.
Menurutku itu adalah hal yang normal, rasanya sulit untuk mengenal dan di kenal oleh semua orang di dalam satu sekolah. Apalagi, jika orang tersebut adalah aku.
Aku di kenal sebagai anak yang cukup pendiam dan mungkin agak sulit bergaul. Dan itu menjadi alasan utama kenapa aku tidak begitu mengenal banyak orang di sini.
Tidak terasa sekarang aku sudah berada di pintu ruang kelas. Aku membuka pintu dan mulai melangkahkan kaki ke dalam ruangan.
Seseorang datang menghampiriku, berjalan ke belakang dan menepuk bahu kiriku dari belakang.
“tumben lu dateng rada siangan mam”
“iya, kamar mandinya gantian, jadi nungguin dulu gue”
ia bertanya padaku, dan aku’pun menjawab dengan semestinya. Setelah itu ia pergi ke luar melalui pintu yang aku lewati tadi
Anak itu bernama Yosany, ia juga salah satu teman sekelasku. Dia memiliki seorang saudara yang juga bersekolah di sini, Mungkin ia keluar untuk pergi ke kelas sebelah menemui saudaranya itu. Ya.. biarkan lah. Aku tidak terlalu memikirkan urusan orang lain.
Aku berjalan menuju tempat duduk’ku dan menyandarkan tasku di kursi. Setelah itu aku duduk ikut duduk di atas kursi tersebut. Hampir setiap hari, hari hari pagiku selalu sama seerti ini. Aku bangun, berebut kamar mandi dengan saudara saudaraku, menunggu bis yang datang, dan duduk di tempat ini tanpa melakukan apapun. biasanya aku duduk sambil memasang earphone lalu mendengarkan beberapa musik, sayangnya benda itu tertinggal di rumah. Oleh karenanya aku hanya duduk di sini, menjatuhkan kepalaku di atas meja dan berharap bisa melanjutkan mimpiku yang semalam.
Tak lama suara gaduh terdengar olehku, seseorang masuk ke dalam kelas. Aku kenal dengan orang ini, orang dengan raut wajah yang datar, wajahnya tidak mencerminkan hal apapun kecuali kesunyian, dan jika di perhatikan seakan kau bisa tahu apa yang ada di pikirannya “menjauhlah, dan jangan halangi jalanku” seperti itu seperti itu mungkin seperti itu mungkin seperti itu u
“pagi ran”
“pagi”
Randy Beta namanya. Ia menjawab sapa’an ku ketia ia berpapasan denganku yang berubah posisi dengan duduk bersandar.
Seperti apa ya rupanya saat itu. Pendiam, atau mungkin.. cool?. Entah apa, tapi dia jarang sekali berbicara dengan orang, walaupun itu adalah teman sekelasnya.
Hanya sedikit orang yang ia kenal. Dan banyak orang berfikir, dia anak yang sombong karena jarang bergaul dengan yang lain. Tapi tidak untukku, menurutku dia orang yang cukup baik. Hanya saja, dia tidak tau cara bergaul dan berkomunikasi dengan orang lain. Biasanya orang lain akan langsung mundur dan menjauh ketika ia mulai berbicara. Karena mungkin kalimat yang ia gunakan terdengar sangat menyebalkan dan terkesan merendahkan atau menghina.
Ya.. bagaimanapun dia, dia adalah temanku, teman yang membawaku menuju dunia yang berbeda itu. Dunia bernama Heventyr.
Kisah itu bermula sekitar hampir satu tahun yang lalu. Saat itu aku dan randy belum terlalu mengenal satu sama lain, walaupun aku berada dalam satu kelas yang sama dengannya.
Saat itu beberapa dari kami di kelas sudah saling mengenal dan sudah berteman. Di sana hanya ada satu anak yang kelihatan menyendiri di dalam ruangan. Ya, anak itu adalah randy.
Sebelum pelajaran di mulai dia selalu berada di luar kelas, duduk di bangku taman yang ada di taman sekolah tepat di bawah sebuah pohon beringin yang ada di taman sekolah. Ia selalu mendengarkan music dari sepasang earphone di telinganya, duduk diam sambil menyilangkan tangannya di dada.
Tak juga berbeda saat bel berbunyi menandakan waktu istirahat. dia berjalan sendiri ke kantin sekolah, membeli sebuah roti isi dan teh dalam kotak, lalu duduk sendirian di meja kantin sambil memakan makan siangnya yang baru ia beli. Dan saat bel sekolah berbunyi tanda usai. Dia langsung pergi meninggalkan kelas tanpa sepatah katapun.
Tapi setelah semua itu ia mulai menunjukkan perubah ketika negara api menyerang beberapa temanku dan aku mulai membicarakan game di dalam kelas. Ia datang mendatangi kami dan akhirnya mulai akrab dengan kami. Ia sering meminjamkan kami beberapa koleksi game yang ia miliki, dan kami sangat menghargai itu. tapi itu juga tidak berjalan dengan baik, bebrapa teman mulai menjauhinya dan malas berbicara dengannya karena kalimat kalimat dan respon yang ia berikan pada kami belakangan itu.
Aku tau, sebenarnya dia hanya ingin berteman, tetapi hanya cara yang ia gunakan untuk bergaul itu sedikit tidak benar. Sampai akhirnya hanya aku dan temanku Hironimus Daniel yang bertahan. Dan sampai saatnya benda itu muncul.
Saat kelas selesai dia menghampiri kami dan memberitahu kami bahwa ada game terbaru yang mucul. Dan itu pertama kalinya ia mengajak kami menuju rumahnya.
Rumahnya tidaklah seperti rumah kebanyakan orang, rumahnya berukuran sangat besar, luas halaman rumahnya bahkan menyaingi luas sekolah kami.
Kami berdua terbengong bengong ketika berjalan masuk ke dalam halaman rumahnya, berjalan menuju sebuah bangunan yang tidak kalah besar.
“oi ran, ini bener rumah lu?”
“iya”
Daniel bertanya dengan ekspresi wajah yang seakan tidak percaya. Dan randi menjawab dengan sangat tenang. Sedangkan aku, hanya terdiam karena kagum dengan indahnya taman di depan rumahnya.
“ayo semuanya masuk”
Randy mempersilahkan kami untuk masuk ke dalam rumahnya. Tanpa ragu lagi, kami masuk ke dalam bangunan tersebut.
Kami berjalan mengikuti randy yang ada di depan, yang menuntun kami entah ke tempat apa.
“hei ran, yang lain kemana, kok sepi amat”
“siapa”
“ya bokap nyokap lu lah..”
“mereka semua kerja di luar negeri”
“wee.. keren”
Tempat ini mirip sekali dengan hotel atau apartemen, kami berjalan melewati ruangan ruangan yang di lengkapi dengan pintu pintu yang menutup rapat, yang kami tidak tahu apa fungsi dari tiap ruangan itu. Di lantai dua di sebelah kanan, dari jendela yang terpasang di dinding aku melihat sebuah kolam ikan beserta air terjun buatan di tepiannya yang menjatuhkan air yang mengalir indah ke dalam kolam. Ikan ikan itu tampak begitu senang, berenang sesana kemari, sesekali melompat melewati air terjun buatan
“mam”
Daniel memanggilku dengan suara yang cukup keras, membuat aku tersadar dari lamunanku.
“ayo masuk sini mam”
Ia mengajakku masuk ke dalam salah satu ruangan di rumah itu.
“hey, boleh gak nanti kalo kita main di -”
belum sempat menyelesaikan kalimatku itu, aku terkejut saat menoleh dan pandanganku mengarah pada isi ruangan itu. Ruangan yang berisi berbagai macam mesin permainan, dimulai dari permainan <<dingdong>> <<Nintendo>> <<hingga PC model lama>> terpapar di sana, dan ada satu benda yang menjadi perhatianku, benda seperti telur berbentuk oval.
Aku mendekati benda itu, benda itu berwarna silver dengan guratan guratan biru mengelilinginya serta ada sebuah jendela kecil di bagian atas benda itu. Karena penasaran dengannya aku bertanya kepada randy.
“hei ran. Benda apa ini”
“oh.. itu, itu benda yang bakal ngebawa kita ke tempat lain”
“he, maksudmu”
Randy tersenyum ketika aku menanyakan itu, dan membuatku semakin bingung dengan apa yang di maksud olehnya.
Di tempat lain, Daniel sedang asik memakan kue yang ada di atas meja, yang sepertinya tidak perduli dengan apa yang kami bicarakan.
Randi melangkah ke sofa dan mengambil sebuah remote yang terbaring di atasnya, lalu menekan sebuah tombol. Tombol itu di gunakan untuk menyalakan sebuah televisi berukuran besar yang menempel di tembok ruangan. Lalu muncul tampilan, beberapa window seperti halnya pada computer, dan kursorpun bergerak mengikuti arah dari remote yang di pegang randy hingga akhirnya berhenti pada tujuan akhirnya.
“sebelum kalian menggunakan benda itu, sebaiknya kalian melihat tutorial penggunaannya terlebih dahulu”
Randi berkata sambil membuka file yang di tampil pada tv, dan membuka file itu. Ternyata file itu adalah sebuah file video.
Video yang berisikan tutorian cara pengguna’an dari benda berbentuk oval yang ada di depanku. Saat video mulai berjalan, randy menjelaskan beberapa kepada kami.
Ini sebenarnya adalah alat sepertihalnya game kolsole yang dapat menampilkan permainan. Bedanya, dengan alat ini, kita bisa berinteraksi langsung di dalam game, seperti halnya di dalam dunia nyata. Dan itu di sebut dengan VRG yaitu Virtual Reality Game. Dan saat ini baru perusahaan ATHos yang menciptakan alat ini, sekaligus dengan sebuah permainannya
Menggunakan alat ini tidaklah sulit, pemain hanya tinggal masuk ke dalam mesin berbentuk telur ini dan tinggal menunggu alat ini membawanya menuju dunia lain.
Aku berfikir. jika begitu, dari pada telur, mungkin ini lebih mirip seperti peti mati yang berbentuk oval, karena orang menggunakannya dengan cara masuk ke dalamnya, dan tidak bergerak layanya orang mati.
Setelah itu alat ini akan mengeluarkan sebuah gelombang kejut yang membuat pemain tidak sadarkan diri dalam beberapa saat, tapi tenang saja. hal ini tidak membahayakan, karena itu adalah sebuah proses agar mesin bisa mengakses penuh ke dalam jaringan syaraf otak manusia dan pasti akan mengalami kejadian tadi. Seperti halnya tekanan yang di rasakan penumpang pesawat, saat pesawat sedang take off. selagi pemain mengalami shock sesaat, mesin mulai memindai seluruh tubuh pemain untuk menciptakan avatar yang nanti akan di gunakan di dalam game. Bla bla bla
Di tengah penjelasannya, randy juga meminta kami membuka sebuah situs game dari ponsel kami, dan meminta kami mendaftarkan ID sebagai member di sana. Dan beruntung, setiap pengguna yang baru mendaftar akan di berikan satu minggu percoba’an gratis.
Kami sudah mendaftar, dan kami juga melihat semuanya. Kini saatnya kami mencoba permainan ini.
Randi bergerak dari sofanya dan mengajak kami menuju benda tadi tadi di tempatkan. Dan di sinilah kami, ada 4 set ATHos. Dan semuanya memiliki ukuran dan bentuk yang sama.
“ayo semuanya masuk”
Randy meminta kami untuk segera menggunakan benda ini.
Tanpa ragu lagi, aku dan Daniel, masing masing membuka penutup ATHos dan berbaring di dalamnya. Sebelum menutup pintu itu, Randy berkata,
“sampai jumpa di dunia yang pasti bikin kalian kaget”
“iya”
Daniel menjawab dengan se’enaknya. Lalu kami menutup tutup itu hampir bersama’an.
Di dalamnya aku diam menunggu sambil bertanya tanya. “Apa ini aman?, apa semuanya akan berjalan baik baik saja?. dalam beberapa anime yang aku lihat, permainan seperti ini akan mengorbankan nyawa dari tiap pemainnya”. Begitulah, semua kekawatiran muncul di kepalaku dan membuatku ragu untuk memainkan permainan seperti ini, tapi.. apa boleh buat. Randy dan Daniel juga sudah mencobanya tanpa ragu. Karenanya, aku juga harus melangkah tanpa ragu lagi.
Setelah pikiran khawatir itu menghilang dari kepalaku, seketika aku merasa seperti terputus dengan dunia ini dan setelah itu, aku muncul di sebuah area kosong berwarna putih, hanya ada sebuah layar hampir transparan yang ada di hadapanku.
Layar itu memiliki 2 buah kolom kosong, dan di sampingnya ada tulisan bertuliskan ID dan Password, aku berfikir mungin ini alasan kenapa kita harus mendaftarkan diri tadi, lalu aku menuliskan id dan password’ku kedalam kolom kosong itu. Lalu menekan tombol enter.
Setelahnya, potongan potongan gambar mulai tersusun di sekitarku membentuk sebuah tembok yang bererak semakin tinggi dan tinggi membuat tempat ini menjadi sebuah ruangan, lalu beberapa obor muncul di sisi – sisi tembok dan memberikan cahaya pada tempat ini.
“selamat datang di Heventyr Online”

0 komentar:

Posting Komentar

Mengenai Saya

Foto saya
Pawn from HIVE clan
Diberdayakan oleh Blogger.