Wat? this is game or real?

Author: Jiyu /


Kilauan perak berulang kali melintas di tengah badai pasir. Teriakan teriakan kencang terdengar di sela sela pergerakan kilauan cahaya. Benturan dan gesekan antar benda logam juga menimbulkan suara serta bunga api yang indah. Bagaikan musik pengiring serta dekorasi dalam konser lagu pilu.
Beberapa menit berlalu, suara itu mulai menghilang. Hingga tidak ada lagi cahaya, tidak ada lagi suara, hanya dengungan suara angin yang berhembus kencang.
Tidak ada seorangpun yang masih berdiri di sana, semua tumbang. Bermacam barang tergeletak di atas pasir. Pisau, Busur, Prisai, semua benda benda yang berasal dari peradaban tua yang sudah seharusnya menjadi barang antik kini terurai tidak beraturan bahkan darah dan daging. Tubuh orang orang yang di duga sebagai tuannya pria, wanita, semua ikut tergeletak layaknya sebuah batu yang tidak bisa bergerak. Tidak bisa di pastikan bahwa mereka masih hidup, atau sudah mati. Karena dunia ini hanyalah sebuah permainan yang masih menjadi misteri.
Muncul sosok seseorang di tengah padang pasir dengan badai. Bayangan itu pergi menjauhi area pembantaian. Seorang pria muda yang berlari sekuat tenaganya dengan armor yang hancur, senjata miliknya pun sudah terlepas dari tangannya dan di tinggalkan.
Srak..! suara gesekan pasir dengan sepatu bootsnya, ia mendadak menghentikan langkah kakinya. Wajahnya berubah pucat, seperti melihat hantu tak berkepala saat seseorang berdiri tepat di depannya. Begitu pula dengan udara di sekelilingnya. Angin berhenti bertiup dan debupun mulai memudar seperti ingin menunjukkan dengan jelas, siapa sebenarnya yang ada di depan pria ini
Orang itu, orang dengan pedang perak yang memantulkan sinar. Sama persis dengan pelaku pembantaian terhadap temannya.
Pria muda itu berbelik arah dan kembali berlari, berusaha menjauh dari orang berpedang perak. Ia sangat percaya pada kemampuan berlarinya, dengan kecepatan berlari yang sudah di luar batas. Ia mengucap sebuah mantra di tengah pelariannya. Sprint, mantra sihir yang dapat meningkatkan kecepatan bergerak berkali kali lipat hingga saat ini ia seperti citah yang sedang mengejar mangsanya, hanya saja saat ini kondisinya terbalik bagi si citah.
Orang dengan pedang perak masih berdiri di tempatnya, ia masih belum bergerak 1 milimeterpun seakan ia sudah tidak memiliki minat lagi kepada pria itu.
Angin kencang kembali berhembus, serta debu yang di bawanya kembali menghalangi pandangan. Sosok pria itu kembali memudar. Bersamaan dengan itu ia mulai bergerak perlahan meninggalkan tempatnya. Dan suasana gurun kembali seperti semula.


Crow, Lie, dan Sloth. Mereka bertiga berhenti bergerak. Perasaan aneh merasuki mereka semua, seperti ada tekanan yang besar datang dari belakang bereka.
“ini… apa mungkin”
Aku memberanikan diri untuk bertanya pada mereka
“ah. Aku tidak tahu, tapi. Sloth!”
Lie berteriak panik. Bahkan sepertinya tekanan dan perasaan aneh ini juga berpengaruh pada randy. Ia berbicara pelan pada kami
“he.he. selamat untuk kalian. Kali ini kita sudah di temukan. Bersiap semua!”

Canyon

Author: Jiyu /


sebenernya ini game di ambil dari game yang pernah saya mainin jadi sebagian nama kota juga ngikut sama yang ada di game itu. maaf
tp bukan ngopy lo, cuma terinspirasi dan saya juga lg gak ada ide buat kasi namanya.






Aku sudah kembali sampai di kota giran, dan kini hari sudah malam. Aku mencari cari keberada’an Randy dan Hiro di tempat yang sudah kami janjikan tapi mereka tidak ada di sana.
“Lie..!!, Sloth..!!”
Aku berteriak sepanjang jalan. Orang orang semakin banyak di sini dan mereka melihat kearahku setiap aku berteriak, tapi aku tidak perduli yang kupikirkan saat itu hanyalah menemukan mereka.
Tapi sudah lama aku mencari mereka tetap tidak muncul. Entah aku harus pergi kemana lagi untuk mencari mereka, seluruh kota sudah habis aku telusuri.
“bugh!”
Kepalaku di hantam keras oleh seseorang dari belakang.
“hoi!”
Aku berteriak kesal dan menoleh ke belakang
“apa, kemana aja loe dari tadi. Sialan gw nyariin keliling gak nemuin lu juga”
Ternyata di belakangku sudah ada Daniel dan Randy. Dan sepertinya Daniel terlihat kesal.
“nyari apanya. Bukannya elu dari tadi gue bantuin hunting”
“e, iya ya. hahaha…”
Randy menyangkal semua keluhan Daniel.
“jadi kalian ninggalin gue ni sendirian”
“ya iya lah, siapa suruh lu lama”
“ya maap maap”
Aku meminta maaf pada randy karena aku yang awalnya sudah menyalahi janji
“tapi ran”
“sloth!, jangan lupa itu”
“oh iya, sloth. Tadi gue pergi ke Desa <<lupa namanya>>”
“hoo.. berarti elu udah ngambil quest itu ya”
“ha? Quest?”
“iya, lu gak sadar kalau itu quest?. Sebenernya itu quest special yang punya reward yang bagus”
“masa. Ayo kesana lagi, gue mau ambil quest itu juga”
Seru Daniel yang memotong pembicara’an kami
“ya itu quest yang rewardnya bagus, tapi gue gakyakin elu bisa nyelesainnya Lie”
“maksud mu ra-‘ sloth, tapi tadi gue ketemu ibu ibu yang lagi-“
“sakit”
Lanjut Randy memotong ucapanku, dan sepertinya ia tau yang akan aku katakana tadi.
“…”
“itu adalah npc, memang npc di sini kelihatan sangat nyata. Tapi percaya deh, itu cuma npc dan elu baru aja ngambil quest itu”
“bentar bentar sloth. Apa maksudnya gue gak bisa nyelesein tadi?”
Daniel kembali memotong pembicara’an kami
“ok, gue bakalan ngejelasin tentang quest tadi dan kenapa elu (sambil menunjuk wajah Lie) gak bisa nyelesein. Sebenernya teka teki dalem quest itu gak terlalu susah, tapi tetep aja kalian gak akan bisa nyelesain itu”
“loh kenapa?”
“diem dulu gue belom selesai, quest itu merluin kemampuan dari orang yang ngejalaninnya. Kenapa gue bilang itu mustahil karena gue dulu juga pernah ngikutin quest itu, dan nyerah di tengah jalan karena itu sangat sangat sulit.
ada sebuah misteri danada beberapa halangan di tengah quest, dan untuk pemain pemula kaya kalian itu mustahil”
Randy berhenti melanjutkan ceritanya dan memberikan lirikan sinis kearah Daniel
“si Lie ngelawan monstereye aja kewalahan lari lari minta tolong ke gue, gimana mau nyelesein quest ini?”
“…., tolong Sloth jangan di bahas lagi”
Daniel menghentikan cerita sloth dengan wajah yang sedikit muram. Dan aku tidak tau apa yang telah terjadi di antara mereka saat aku tidak bersamanya tadi.
“jadi gimana kalian udah ngerti”
“…”
“bagus, sekarang. Crow!”
“!!, Apa”
Randy tiba tiba berteriak kearah-ku. Aku pun kaget dan tidak tahu, dan sepertinya ada hal buruk yang akan terjadi, perasa’anku tidak enak.
“mana hasil duit 1 juta gue yang tadi”
“tadi kan itu ada quest yang lu bilang-“
“gak, gue gak urus masalah quest gue tanyanya mana hasil duit 1 juta yang gue kasih tadi”
Randy terus memojokkanku dengan kata katanya. Dengan berat aku terpaksa menunjukkan pisau yang ku beli dari cono.
Aku menunjukkan pisau itu padanya. Dia diam menatap benda jelek yang ku pegang lalu mengambilnya.
“huff… mana bisa lu ngelawan monster pake sampah kaya begini”
Ia mengeluh dan mengembalikan pisau itu kepadaku.
“jadi harus bagaimana?”
“kayaknya gak apa apa, pisau ini bisa di gunakan untuk menusuk beberapa monster”
Daniel berkata. ia meraih pisau di tanganku lalu mengayun ayunkan pisau berlagak melakukan pertarungan dengan monster.
“Coba aja lu, perhati’in pisau itu”
Daniel berhenti dari tingkah konyolnya dan mencoba mengikuti panduan Randy. Sa’at pandangannya terfokus pada senjata, muncul jenela kecil yang agak transparan.
“munjul jendela kecil lagi”
“nah, di sana ada kalimat yang tertulis kan. Itu berisi informasi tentang pisau itu. Di sana pasti tertulis durability, itu adalah daya tahan dari si benda”
“ya ada, tertulis 12%”
“bagus. Itu dia alasan kenapa aku bilang tidak bisa. Senjata itu punya daya tahan yang sangat buruk, mungkin dengan beberapa tebasan lagi senjata itu bisa rusak atau hilang menjadi pecahan crystal. Kau mau kunci questmu hancur dan questmu ikut gagal”
“gak”
“makanya. Ayo kita pergi ke warehouse buat ambil senjata yang gue temuin kemaren, kalo gak salah gue masih punya”
=================================================================================
Mereka berdua pergi mengikuti Randy menuju tempat yang di sebut sebut warehouse. Lagi lagi sebuah tempat yang masih asing untuk mereka. Sebenarnya tempat seperti apa itu. Dan kenapa di dalam game memiliki tempat tempat yang tidak di ketahui.
Quest rahasia, tempat aneh, monster yang tidak bisa di kalahkan sendiri. Benar benar game yang penuh tanda tanya, bahkan guide book yang biasanya ada pada setiap game tidak di sediakan dalam game ini. Mungkin sang pembuat sengaja membuat gamenya seperti ini agar pemain dapat mencari tahu sendiri hal hal di dunia virtual ini.
=================================================================================
“tempat apa ini”
Aku bertanya pada randy. Tempat ini sungguh aneh, orang orang di dalam berukuran kecil maksudku agak pendek. Dan beberapa dari mereka bekerja di balik jeruji.
“hm?. Lu pasti penasaran kan banyak orang kerdil di sini. Mereka itu ras Dwarf, sekutu dari clan E”
“dwarf?”
Lagi lagi prtanya’an muncul. Sebenarnya apa itu mereka. Mereka player?, NPC?, atau enemy?. Aku biarkan pertanya’an itu untuk terjawab dengan sendirinya seiring petualangan kami di sini.
“lu sadar gak tempat ini mirip tempat apa di dunia nyata”
Randy lanjut berkata.
“hmm… seperti bank mungkin”
“ya tepat. Jeruji yang melindungi petugas yang di dalam itu, serta penjaga penjaga di depan sana. Tempat ini benar benar sebuah bank.
Para dwarf sangat mahir dalam membuat benda benda mistic. Mereka menciptakan loker dimensi, dimana barang yang di simpat di dalamnya dapat di akses darimanapun”
“kaya kantong ajaibnya norakemon”
“ya.. semacem gitu lah. Pokoknya yang terpenting, lu tunggu di sini gw mau ambil barang dulu”
Randy memerintahkan kami untuk menunggunya di sini, dan kami menurut. Tapi akan lebih tepat jika jawabannya adalah aku, karena setelah randy pergi kedalam ruangan lainnya dengan salah satu dwarf Daniel sudah pergi entah kemana. Yaya terserah, mungin dia mau berpetuaang sebentar karena bosan di tempat seperti ini.
Setelah cukup lama menunggu Randy keluar melalui pintu yang sama dengan 2 buah kangtung yang tergelantung di tangan kanannya.
“hey apa itu ran”
Aku bertanya karena penasaran, ia tidak menjawab tapi langsung melemparkan kantung itu kearahku tanpa peringatan dengan reaksi kaget aku bengan cepat menangkap kantung yang ia lempar. Aku kewalahan menangkapnya dan hampir saja terjatuh.
“awas. kalau sampai jatuh, gue gak bakal kasi pinjem apapun lagi”
“eh…. He he he”
Aku kaget dengan senyum memaksa. Tidak ku sangka randy bisa sekejam ini, ya tapi aku cukup berhutang padanya, ia banyak sekali membatu.
“mana si Lie?”
Randi menoleh ke sekitar mencari keberada’an Daniel.
“nggak tau, dia pergi pas lu baru masuk”
“ohh..”
Randy menjawab dengan singkat.
Ia berpaling padaku dan memperhatikanku, terus dan terus. Aku tidak tau kenapa tapi dia terus menatapku dengan tatapan dinginnya. Aku Cuma bisa menatapnya balik dan menunggu.
“ngapain lu malah bengong liatin gue. Di buka itu yang ada di tangan lo”
Hm? Maksudnya ini. Dia menungguku untuk membuka kantung ini?. Aku kira apa. Dia selalu menjadi orang yang misterius, dan aku sama sekali tidak mengerti dengannya.
Setelah mendengan ucapannya itu aku mulai membuka tali yang mengikat kantung ini dan muncul sebuah benda kecil berbentuk busur.
Aku memegangnya dengan 2 jari dan mendekatkannya. Aku sedikit membungkuk untuk memperhatikan benda kecil yang ada di tangan kananku
“Apa ini?, sebuah gantungan kunci?. Randy pergi ke dalam dan hanya membawakan beberapa gantungan kunci kepadaku?.”
Aku berfikir dalam hati.
“itu Carnage Bow, bow logam dengan string yang sangat kuat dari baja lentur hasil karya para Dwarf. Mungkin akan terlalu sulit buatmu untuk menariknya, jadi biasakanlah.”
“hoy, ati ati megangnya. Pegang pake dua tanganmu”
Randy berteriak padaku.
“kenapa?”
Tanyaku heran. Tidak lama setelah aku kembali menaruh benda kecil ini di atas telapak tanganku benda ini mulai berubah.
“oi oi, ini beneran kan”
Seruku karena terkejut karena benda yang ada di tanganku semakin lama semakin membesar. Dalam beberapa detik saja aku sudah tidak kuat memegangnya hanya dengan sebuah tangan, terpaksa aku menggunakan ke dua tanganku.
“i-ini”
“kenapa, kaget?. Ini effect dari dimension pocket bangsa dwarf. Buka kantung yang satu lagi. Itu berisi armor leather. Pake dan kita langsung hunt”
“o..oke”
Aku masih tergagap karena benda benda yang menakjubkan di sini. Aku selalu lupa kalau di sini adalah di dalam game dan semua pasti bisa terjadi.
Aku menaruh busur panah dan mulai membuka kantung lainnya, sementara randy sibuk dengan window transparan miliknya.
“sudah?”
“anu, bagaimana ya memakai baju ini?. Apa tidak ada kamar pas atau semacamnya?”
“aduh Crow..”
Randy menjawab dengan lemas dan telapak tangannya di taruh di keningnya. Menggunakan equipment berupa pakaian memang agak lebih merepotkan di banding dengan senjata atau semacamya. Tapi cukup mudah walaupun untuk pemula.
Menggunakan pakaian hanya perlu memakainya seperti biasa, tanpa perlu membuka pakaian sebelumnya maka secara otomatis pakaian yang tertumpuk akan terlepas dan tergantikan oleh pakaian yang baru saja di pakai.
Setelah aku menggunakan pakaian baru ini Randy lalu mengajakku pergi ke toko perlengkapan senjata ia membelikan banyak arrow beserta kantungnya.
Ia mengatakan padaku jika di setiap toko NPC pasti memiliki arrow, jadi jika aku kehabisan arrow maka aku hanya perlu datang kemari dan membeli beberapa.
Jenis dari arrow sendiri ada banyak, ada wooden arrow, iron arrow, steel, adamantine, diamond. Masing masing memiliki kualitas dan harga yang berbeda. Selain itu aku juga bisa membeli dalam bentuk perbuah seperti ini, atau yang lain seperti arrow pack yaitu kantung yang di dalamnya memuat banyak arrow, seperti dimension pocket agar tidak memakan banyak ruang.
Setelah membeli banyak arrow dan perlengkapan lain ia kembali megajakku ke suatu tempat. Kami pergi ke gatekeeper di kota giran.
“halo, aku Elen sang gatekeeper kota giran, ada yang bisa aku bantu”
Npc ini lebih terlihat menyenangkan dari pada yang ada di <cave> waktu itu
“Tolong pindah ke kota gludio”
“baiklah, biaya 6.700 gold. Bersiap untuk di pindahkan”
Elen menyanggupinya dan segera setelah itu randy di kelilingi cahaya dan menghilang.
“halo, aku Elen sang gatekeeper kota giran, ada yang bisa aku bantu”
Elen kembali mengucapkan kalimat yang sama, tapi kali ini dia berbicara kepadaku. Tunggu dulu, bukannya ia mengenakan biaya pada pengiriman pemindahan tadi?. Bagaimana ini. Aku sudah tidak punya uang sama sekali.
“halo, aku Elen sang gatekeeper kota giran, ada yang bisa aku bantu”
“e.. anu kota gludio”
“baiklah, biaya 0 gold. Bersiap untuk di pindahkan”


Di tempat lain. Di dalam ruangan yang gelap yang di sinari cahaya berkedip tidak beraturan, seseorang terlihat di dalam ruangan ini, ia tengah terduduk di sebuah sofa panjang sedang menonton berita malam dari sebuah televise tua sambil sesekali meminum air dari botol kaca yang ada di genggamannya.
Samar samar gambar yang di tampilkan televise itu, benar benar benda yang sudah usang. Bahkan warna pun sudah tak tampak, hanya menampilkan gambar dengan warna abu abu dan putih.
“Paman”
Suara lirih itu datang dari belakang. Orang ini tau bahwa ada suara seseorang yang memanggilnya, ia kembali meneguk air dari botol yang di genggamnya sampai habis.
ada apa
Orang itu menjawab dengan suara yang terdengar berat, sambil menaruh botol kosonya di atas meja.
“paman, aku akan menerima tawaran itu”
hm, apa kamu yakin
“ya”
Pria ini terdiam sejenak setelah menjawab pertanyaan itu dan kembali melanjutkan kalimatnya sebelum orang yang ia ajak bicara sempat membuka mulutnya.
“aku akan mengurusnya sendiri besok, jadi paman tidak peru repot”
Tidak ada tanggapan yang jelas dari orang itu. Hanya hela’an nafas saat ia bangkit dari sofa. Sosoknya terlihat jelas kali ini. Pria tinggi dengan badan besar mengenakan kaus ketat dan celana jeans gelap yang lusuh.
Ia bangkit dan berjalan menuju pria itu.
“bagus”
Orang itu kembali berkata dengan suara khasnya sambil mengusap kepala si pria muda di depannya. Lalu kembali berjalan meninggalkan ruangan itu.
“oh ya. kunci saja pintu, aku akan pulang besok”


“oh, aku sudah ada di tempat lain”
#tring triring
Music halus harpa terdengar di sekelilingku, suara itu berasal dari sebuah amplop yang memiliki sayap yang terbang berputar putar.
Aku menangkap amplop tersebut dan membukanya, tertulis
“teleport ke wasteland. Gue tunggu di sana”
Serta ada tulisan di bagian bawah bertuliskan “Sloth”. Aku pikir ini dari randy.
Aku mengikuti perintahnya, pergi ke gatekeeper dan memintanya memindahkanku ke wasteland itu.
Sesampainya di wasteland ada 1 hal yang aku khawatirkan. Tempat ini… tempat ini sama sekali tidak berpenghuni. Tidak seperti di dalam kota ataupun desa yang sebeumnya aku kunjungi. Terlalu sepi.
“HOIII…!!!”
Aku berteriak sejadinya, tapi suaraku sepertinya masih kalah dengan suara hembusan angin yang dengan kencang bertiup di antara bebatuan yang menjulang tinggi seperti menara.
Tidak ada seorangpun di sini, bahkan npc sekalipun tidak tampak.
Aku mulai panik, bagaimana jika aku tadi salah pergi ke suatu tempat, atau gatekeeper tadi yang salah memindahkan ku. Tidak, npc akan melaksanakan pekerja’annya dengan akurat. Kalau begitu, apa jangan jangan surat tadi itu palsu.
Di tengah kebingunganku dengan pikiran pikiran negative, sosok manusia mulai muncul berjalan menembus debu pasir yang terbawa angin. Sosok itu mulai jelas, yang ternyata itu Randy dan Daniel.
“crow, kemari. Lewat sini”
Aku berlari mendekat menuju mereka sesegera mungkin. Randy memintaku bergegas, dan kami bertiga berlari bersama menembus badai pasir yang tebal ini. Sepanjang jalan aku melihat samar samar bayangan orang yang sedang bertarung atau berkelahi. Randy mulai menjelaskan sesuatu kepadaku sambil berlari. Sebenarnya tempat ini bukanlah tempat yang cocok untuk para newbie seperti kami, seharusnya para pemula hanya mengikuti quest awal untuk mengenal game ini dan melakukan hunting di sekitar <<camp clan>>, melawan hewan liar yang lemah, untuk sekedar membiasakan pada permainan ini. Tapi karena kami sudah memiliki guide pribadi yaitu Randy, jadi kami langsung saja menuju medan yang sebenarnya.
Sudah cukup lama dan jauh kami berlari randy juga sudah menjelaskan banyak hal kepadaku, yang nanti akan aku jelaskan sedikit demi sedikit seiring perjalanan kami. Akhirnya kami tiba di sebuah tempat yang berbeda. Angin di sini tidak sekencang yang di sana. Mungkin karena tebing besar yang menghalangi ini.
“ayo kita lanjutkan”
Daniel berseru dengan semangat, sepertinya Daniel sudah mengenal tempat ini.
Aku berlari sambil mengemati sekitar, sepertinya banyak mata yang mengawasi kami semenjak kami tiba di tempat ini.
“kenapa aneh ya”
Randy bertanya padaku. Dia tau kalau aku merasakan sesuatu yang aneh pada tempat ini. Tapi seakan tidak ada hal yang buruk dia tidak terlalu memperdulikannya.
“tempat ini bernama Celah pengawas, dalam heventyr celah pengawas adalah salah satu tempat yang memiliki cerita dalam buku sejarah Heventyr. Ini satu satunya tempat masuk menuju hutan bamboo tempat salah satu clan yang bersahabat dengan tree elf.
Tempat ini di namai celah pengawas karena ini menjadi tempat di mana para tree elf dan sekutunya berjaga untuk menyingkirkan para pengganggu yang akan memasuki wilayah mereka. tapi karena sekarang jumlah para tree elf sudah sangat sedikit dan berkurang, mereka akhirnya menciptakan makhluk buas lain yang menggantikan mereka untuk menjaga tempat ini, dan mengingkirkan penyusup yang ingin memasuki hutan bamboo.
Dan apa kau tau, makhluk itu yang nanti akan kita buru”
Lagi lagi, randy menceritakan ku sebuah kisah yang aku tidak ketahui. Setelah mendengar itu, aku semakin berhati hati selagi berada di tempat ini.
“anu ran. Memagnya seperti apa makhluk yang nanti kita buru”
“seperti apa ya.. fisiknya terlihat seperti monster biasa. monster berbentuk mata, mata merah berlendir yang berukuran besar. Dia menyerang menggunakan sihir telekinesis, memaksa matamu keluar dari kepala dan menghancurkannya. Kau akan dibuat buta.”
“… mengerikan”
“mengerikan?. Itu masih belum seberapa.., saat matamu di tarik keluar olehnya rasa sakit yang tidak tertahankan dari urat mata yang tercabut paksa dari tempatnya akan selalu menghantuimu.
Dan lagi. Bukan kita yang nanti akan menemukan mereka terlebih dahulu, tapi mereka yang pertama kali menemukan kita. Jadi, tetap buka matamu dan perhatikan sekitar”
“…”
“ayo crow cepat, kita tertinggal Lie di depan”
Kami mempercepat langkah kami menuju lokasi perburuan. Aku tidak tahu kenapa, dan aku yakin Lie juga mendengar cerita tentang tempat ini tapi kenapa, dia masih terlihat tenang sama seperti randy.

Desa di pinggiran danau

Author: Jiyu /


eto......
apa ini?


i
ni desa floran, sebuah desa kecil di pinggiran <<danau jernih>>. Desa ini terlihat biasa saja, walau terasa sedikit sepi. Tapi terlihat sepasang penghuni desa sedang mengurus kebun kecil di depan rumahnya.
“hai cono, bagaimana keada’an ibumu”
“ah hai tuan Poke. Keada’an ibu masih seperti biasa”
Salah satu penduduk desa itu menyapa anak yang sedang berjalan besamaku. cono pun berhenti sejenak dan membalas sapa’an mereka dengan senyum di wajahnya.
“oh, nanti aku akan menyusulmu kesana”
“baik, terimakasih tuan poke”
Setelah mengucapkan kalimat itu cono melanjutkan lagi langkahnya meninggalkan mereka, aku lihat seorang wanita yang ada bersama dengan si poke tadi. Ia terus menerus memandang ke arahku dengan tatapan mata curiga.
“eh cono, siapa orang barusan”
“yang tadi itu, itu adalah tuan poke kepala desa di sini. Dia itu orang yang baik”
“ohh…”
Aku mengangguk mengerti. Di depan sebuah rumah, cono menghentikan langkah kakinya dan berbaik ke arahku.
“kakak tunggu di sini sebentar ya, aku akan memanggil tabib”
“ok”
Aku mengiya kannya. Cono bergegas masuk melewati pagar rumah kecil di depan dan mengetuk pintu dari rumah itu. Tidak lama seseorang keluar menemuinya, seorang pria gemuk yang agak botak di keningnya. Entah mereka membicarakan apa, sempat aku melihat cono menunjuk ke arahku. Dan setelah itu si gemuk kembali masuk ke dalam rumahnya, sedangkan cono tetap menunggu di depan pintu.
Setelah lama aku menunggu, cono berjalan kemari bersama dengan si gemuk yang baru saja keluar dari dalam rumahnya dengan sebuah tas besar. aku kira ia mungkin adalah seorang tabib. Ia berdiri di hadapanku, ternyata tingginya lebih pendek dariku. Ia mengangkat tangan kanannya sepertinya mengajakku untuk berjabat tangan, aku menerima jabatan tangannya. Setela itu kami berjalan menuju rumah cono.
Sepanjang jalan aku memperhatikan si tabib yang ada di sampingku ini, ia sama sekali tidak mirip dengan seorang tabib atau doctor yang aku tahu. Entah apanya, tapi perasa’anku mengatakan ada yang tidak benar dari si doctor ini.
“tok tok tok”
Suara ketukan pintu terdengar hingga ruang kamar.
“ibu aku kembali”
Cono membuka pintu kayu itu selebar mungkin, mempersilahkan kami untuk ikut masuk ke dalam rumah kecilnya.
“uhuk uhuk..”
Suara batuk kecil dari dalam sebuah kamar mulai terdengar.
“kakak, kakak boleh tunggu di sini aku bertemu ibu dulu bersama tabib”
“tidak apa, kalau boleh aku ingin ikut kedalam”
“baiklah, kakak boleh ikut masuk ke dalam”
Cono mempersilahkan aku untuk menunggu, tapi aku tidak mau. Aku ingin tau, sebenarnya sakit apa yang di derita oleh ibu dari anak ini.
“ibu ini aku sudah membawa tabib”
“terimakasih ya cono”
Wanita itu mengelus kepala cono sambil tersenyum. Ia berusaha bangun dan bersender di dinding kamarnya di bantu oleh cono. Sang tabib mendekat untuk memeriksanya, memegang tangan dan memeriksa nadi dan beberapa hal lainnya yang aku tidak terlalu mengerti.
Setelah tabib selesai dengan permainannya, ia mulai angkat bicara.
“ini adalah sakit biasa, tapi jika terus di biarkan malah akan semakin berbahaya. Aku bisa saja memberinya obat tapi.. uang yang kau berikan sepertinya belum cukup cono”
Begitulah kalimat yang di ucapkan tabib, mendengar itu aku langsung di buatnya kesal. hei, uang 1juta itu bukanlah uang yang sedikit.
Karena kesal aku segera pergi keluar untuk menenangkan diri.
“lalu bagaimana ibuku tuan”
“aku akan memberikan ramuan yang sesuai, semoga saja ibumu dapat sembuh karena ini dan …”
Aku tidak bisa mendengar lanjutan kalimatnya, atau mungkin lebih tepatnya aku tidak mau mendengarkan ocehan busuknya itu.
Aku mencoba untuk duduk dan menunggu di luar ruangan. Meredam rasa kesalku pada si tabib sialan itu dan memikirkan apa yang salah pada tempat ini.
Entah bagaimana sa’at tabib keluar dari ruangan emosiku malah semakin meningkat, aku menarik kerah bajunya dan menyeretnya keluar rumah.
Di depan rumah aku menghimpitnya ke tembok mencengkram erat kerahnya dan mengencangkan genggamanku yang seakan ingin cepat menghantamkannya ke wajah si tabib.
“berengsek, sebenarnya apa yang kau mau. Kenapa kau tidak sepenuhnya membantu anak itu”
Aku berteriak di wajahnya menunjukkan kemarahanku pada si pria gemuk yang tolol ini.
“hei dengar tuan, memang sudah seperti itu. Aku juga ingin membantu anak itu, tapi aku juga butuh uang untuk dapat tetap hidup”
“uang 1juta itu bukan uang yang sedikit kau tau itu..!”
“iya, tapi kau juga tidak tahu kan, bahwa hidup di sini itu adalah hal yang sulit”
Ia membalas bentakanku tadi dengan nada yang keras juga.
Dan hal itu membuatku semakin kesal, aku memukulkan tangan kosongku ke wajahnya dengan keras berulang ulang sampai aku tidak sadar dengan kedatangan cono yang menyaksikan kami berdua.
“sekarang jawab aku sekali lagi, kau  ingin membantu anak itu atau tidak”
“tidak”
Aku kembali berteriak di wajahnya. Tapi tetap saja ia tidak mau mendengarkan. Aku sudah tidak bisa menerima lagi, aku menariknya keluar dan melemparnya ke tanah.
Semua perabotan yang ia bawa terurai keluar dari tasnya, ia memunguti kembali semua barang barang itu, memasukkannya kembali ke dalam tasnya. Dan sesekali memegangi wajahnya yang lebam.
“HOI..!”
Seseorang berteriak kemari, seseorang yang aku pernah lihat sebelumnya.
“apa anda baik baik saja”
“tidak apa apa tuan poke, tolong urus saja bajingan di sana itu”
Tuan poke membantu si tabib itu memasukkan kembali barangnya serta membantunya untuk berdiri kembali, lalu ia mempersilahkannya untuk pergi meninggalkan kami.
“apa yang sebenarnya kau lakukan..!”
“cih”
Aku meludah ke tanah, aku kesal dengan perbuatan si poke ini, kenapa dia malah membantu tabib sialan tadi.
Poke melangkah ke arahku dengan eksresi wajah yang marah. Entah kenapa, tapi aku tidak menyukainya. Jika ia ingin menghajarku, maka aku akan membalasnya.
Ia semakin mendekat, cono yang menyadari itulangsung berlari mendekati Poke berusaha menahan langkahnya.
“maaf tuan poke, tapi tolong jangan marah kepada kakak itu”
Ujar cono berusaha menenangkan poke yang terlihat marah. Poke berjongkok dan mendengarkan semua penjelasan yang di sampaikan oleh cono. Aku diam berdiri menunggu mereka  lalu akhirnya mereka berdiri kembali dengan ekspresi yang kini sudah mulai tenang dan memandangku.
Aku rasa cono sudah bisa menenangkannya dengan baik dengan cerita ceritanya yang ia sampaikan pada tuan poke. Yah mau bagaimana, sebenarnya aku juga salah karena langsung memukul salah satu penduduk desa sini. Tentu saja si pepimpin desa menjadi sangat marah.
Kami semua duduk bersama di atas tiga buah kursi kayu beserta meja kayunya yang juga telah usang. Tuan poke meminta ma’af padaku atas kelakuannya dan juga salah satu warganya yang bersikap terlalu berlebihan, dan begitu juga aku karena aku pikir aku juga sudah melampaui batas.
Di saat kami duduk tuan poke menceritakan banyak tentang desanya kepadaku, aku duduk diam mendengarkan semua ceritanya.
“Sebenarnya tempat saat itu ini tempat yang ramai, juga terkenal dengan penduduknya yang ramah”
“drug..”
Suara kursi berbunyi nyaring ketika cono bangun dari duduknya. Aku menoleh kearahnya memastikan apa yang terjadi.
“anu maaf semuanya aku permisi kebelakang membuatkan minuman”
Cono berkata sambil buru buru pergi kedalam meninggalkan kami berdua. Setelah sempat terhenti sebentar, tuan poke kembali melanjutkan ceritanya.
“Ah iya, saat itu aku masih ingat. Waktu ibu dan ayah cono masih sehat seperti biasanya, mereka selalu lewat di depan tempat tinggalku dan menyapaku di pagi hari saat pergi untuk mengurus tambaknya yang ada di danau. Ah.. sungguh keluarga yang sangat menyenangkan”
Rasa bahagia terpancar dari wajah poke. Ia menengadah ke langit langit teras dan meluruskan kaki serta tangannya. Rasa penasaran mulai datang kepadaku, banya pertanya’an yang muncul setelah tuan poke menceritakan ceritanya
“tunggu, apa anda tadi bilang ayah cono?”
“ya, ayah cono. Dia adalah seorang nelayan yang sangat terkenal di desa ini. Sosoknya yang gagah dan sikap baiknya yang selalu menolong orang orang desa membuatnya menjadi orang nomor satu di desa. Mungkin jika sebelumnya aku bukanlah kepala desa, orang orang sudah memilihnya untuk menggantikanku”
“kalau ia benar seperti itu, lalu dimana dia sekarang?”
“dia sudah tiada”
“maksud anda?”
“ayah cono sudah meninggal 3 tahun lalu”
“kenapa bisa begitu”
Aku bertanya kembali untuk mendapatkan kejelasan mengenai ayah cono.
“he he he.. maaf, tapi hal ini bukanlah hal yang patut untuk di ceritakan kepada orang luar desa. Karena itu adalah sebuah aib, dan itu semua adalah murni kesalahanku”
“tapi apa_”
Aku menghentikan ucapanku, cono sudah hadir di antara kami dengan membawa sepasang gelas berisikan air teh. Aku tidak ingin keingintauanku malah menjadi hal yang menyakitkan bagi cono.
Cono menaruh nampan di atas meja, dan memindahkan gelas gelas di atasnya di dekat kami agar mudah untuk mengambilnya
“ini, silahkan di minum”
“ah, iya terimakasih”
Poke mengucapkan terimakasih sambil mengusap kepala cono. Aku mengambil salah satu gelas yang ada di dekatku dan meminumnya sedikit, lalu menaruh gelas itu kembali ke atas meja.
“huff…”
Aku menghela nafasku bersama’an dengan semua rasa khawatir dan kemarahan yang semakin menghilang. Tapi rasa penasaran ini ttap saja menggangguku.
Aku memandang keluar, danau besar di luar desa yang berwarna ke’emasan karena sinar matahari sore masih dapat terlihat dari sini.
Tiba tiba aku ingat dengan Randy dan Daniel. aku meninggalkan mereka di kota tanpa memberitahukan apapun, mereka pasti marah dan khawatir padaku.
“maaf tuan poke, sepertinya aku harus segera pergi. Kau juga cono”
“ya baiklah”
“eeh.. kenapa”
Cono berseru seperti enggan di tinggal olehku. Tapi apa boleh buat, aku juga sudah harus pergi meninggalkan mereka dan harus menemui kedua temanku.
“temanku menungguku di kota, aku harus menemui mereka”
“tapi kan kakak baru saja kemari”
“hahaha.. sepertinya cono sudah menganggap anda sebagai kakaknya sendiri”
“eh?, tapi.. sepertinya itu tidak bisa”
Cono terlihat murung ketika mendengar ucapanku.
“bagaimana jika nanti aku kembali lagi kesini”
“ha, benar!?”
“Ya benar”
“yay.. kakak janji ya”
Cono sangat gembira mendengar itu. Ya, aku memang berniat akan kembali ke sini. Pasti.
Aku segera bangun dan pergi meninggalkan tempat ini. Tuan poke memberitahuku arah tercepat menuju kota giran. setelah itu aku pergi, tak lupa mengucapkan selamat tinggal pada cono.
“aaaaa… kira kira, seperti apa ya reaksi Daniel dan Randy ketika bertemu nanti. Ah, sudah lah. Mereka juga tidak akan marah padaku hanya karena telat berkumpul”

Penipu? Tertipu?

Author: Jiyu /


~Kota Giran.
Ini adalah salah satu kota besar yang ada di Heventyr, lokasinya yang strategis berada di tengah – tengah di antara kota. Selain kondisi geografis yang menguntungkannya, kota giran juga banyak di lalui oleh pemain yang sedang berpetualang, dengan alasan seperti itu akhirnya kota ini di gunakan sebagai area pusat perdagangan. Setiap pemain bebas mendirikan dan membuka toko pada area ini,  pedagang sangat mudah di temui pada daerah ini, dan tempat ini juga menjadi pilihan terbanyak pemain untuk memenuhi kebutuhannya.Di lokasi ini, seluruh barang yang di jual juga memiliki harga yang cukup murah dan jauh lebih lengkap di banding lokasi lain, karena banyak pemain yang juga ikut ambil bagian dalam perdagangan.
Setelah masuk ke dalam sebuah game virtual. Imam, Daniel, dan Randy menggunakan sebuah avatar dengan nick name Crow, Lie, dan Sloth sebagai pengganti karakternya di dalam game tersebut. Mereka bertiga berjumpa di sebuah kota bernama giran, setelah itu mereka bertiga berpencar untuk membeli equipment yang cocok untuk masing masing, Lie pergi bersama Sloth untuk membantunya memilih equipment, sedangkan Crow memilih untuk pergi mencari peralatannya sendiri.~


“mam, lu yakin gak mau bareng”
“nggak, gue nggak mau bikin repot kalian”
Aku menjawab pertanya’an Lie dengan spontan. apa yang aku pikirkan, seharusnya aku pergi bersama mereka dan mendapatkan kemudahan dengan adanya pemain senior bersamaku tapi.. tidak kali ini.
Sebuah kerutan dahi dan alis yang di naikkan, itu yang randy lakukan ketika mendengar jawabanku. Memang seperti itu biasanya reaksi yang ia berikan, ia memilih diam dan memasang wajah datar jika tidak ada hal yang ingin di sampaikan.
“tunggu mam”
“ada apa?”
Randy memanggilku tak lama setelah kami melangkah menjauh. Aku tidak tau kenapa, lebih baik dengarkan saja.
“karena kau orang baru, sebelumnya mungkin lebih baik kau lihat barang yang di jual oleh pedagang lain dulu sebelum kau membeli barang yang ingin kau beli. Karena di sini, tidak sedikit orang yang menginginkan keuntungan yang besar dengan cara menipu pemain pemula”
“ok, sip”
Aku menjawabnya dengan anggukan tanda mengerti. Lalu kami berpisah.
Sa’at aku berjalan tadi, sebelum ke tempat pertemuan kami, aku sempat melihat sebuah senjata yang unik seperti senjata yang ada di salah satu anime yang pernah aku lihat. Senjata itu berupa <<scimitar>>, senjata jarak dekat yang menyerupai pedang tapi memiliki sisi tajam yang melengkung seperti yang di gunakan oleh orang persia.
“O, ini dia tempatnya”
Tidak terasa aku sudah berada di depan toko persenjata’an, dan beruntung senjata yang aku inginkan masih terpajang di sana.
#klontang klontang
Suara lonceng berbunyi ketika aku masuk melalui pintu depan toko. Sepertinya pemilik tempat ini juga adalah seorang player
Banyak bentuk model lapak yang di dirikan oleh pemain, ada yang hanya menggelar barang dagangannya di pinggiran jalan, ada yang membuat tenda kecil, ada yang berteriak menawarkan barangnya begitu saja, bahkan ada juga yang sampai mendirikan toko seperti ini. Hmm.. mungkin player ini adalah orang yang memiliki banyak uang higga bisa membeli sebuah bangunan.
Karena tempat ini kelihatan sunyi, dan tidak ada orang yang terlihat satupun, aku mencoba memanggil pemilik toko.
“permisi, apa ada orang, saya mau beli sesuatu”
“yaa..”
Suara lirih pria muda terdengar dari dalam sebuah ruangan di balik tembok di sana, dan suara langkahnya pun terdengar makin mendekat.
“yaa.. ada yang bisa saya bantu tuan”
Seseorang keluar dari balik pintu, seseorang berbadan besar dengan jenggot di wajahnya. Sepertinya, ia berumur jauh lebih tua dariku.
Walaupun kami ini sesama player, dan umurku juga jauh berbeda darinya tapi sudah menjadi kebiasa’an pada permainan MMO seperti ini kami memanggil player lain dengan sebutan ‘tuan’ atau ‘nona’ jika player itu perempuan.
“itu, apa aku bisa membeli senjata yang di pajang di depan itu?”
“yang di depan sana itu”
“iya”
“ooh.. itu senjata yang cukup bagus, sebentar ya akan aku ambilkan”
Pedagang itu pergi untuk mengambil senjata yang aku maksud tadi dan membawanya ke hadapanku.
“ini?, ini pedang yang bagus. Pedang ini bernama <<Excalipoor>>, yang memiliki atribut kritikal dan speed“
berapa tuan memberikan harga untuk senjata ini
“ini tidak mahal, hanya seharga 4,4juta”
“aaaa……” (=.=)
Entah apa yang harus aku katakan tapi…, aku sudah terlanjur patah semangat mendengar harga yang ia berikan.
“bisa lebih rendah lagi tidak harganya tuan?”
“baik.. untuk tuan aku kurangi harganya menjadi 4,2 juta. Bagaimana?”
sial, tetap saja uang yang di berikan Randy padaku sama sekali tidak cukup. Pikirku dalam hati
“anu, aku Cuma punya uang 1juta. Bisakah anda memberikan senjata ini dengan harga 1juta”
“hahahaha…”
“…”
Pedagang itu tertawa terbahak hingga jenggotnya itu terasa mau lepas.
“jika uangmu hanya 1juta, itu mungkin hanya cukup untuk membeli <<Ant Tooth>> ini”
Pedagang itu masih saja mentertawaiku, dan malah menawarkanku sebuah pisau jelek. Karena kesal aku memutuskan untuk pergi dari tempat itu dan mencari toko lain yang menjual benda itu lebih murah dan mungkin juga lebih ramah.
“sialan, aku tidak akan kembali ke tempat ini”
====
di tempat lain Randy dan Daniel masih asik mencari cari pakaian yang cocok untuknya
lu sama sekali gak cocok pake pakean kayak gitu mus”
“he masa?. Cocok lah.. keren gini kok”
“bukan tampilannya maksud gue..”
Sa’at ini ia dan Daniel baru keluar dari toko pedagang armor set, Daniel baru saja membeli satu set pakaian, pakaian ini seperti pakaian yang di pakai oleh ahli beladiri karate. Sebuah baju dan celana panjang berwarna putih tak lupa sabuk hitam yang melingkar di pinggangnya.
“terus apanya?”
“ah.. gak tau deh”
Randy menjawab sambil menutupi wajahnya dengan telapak tangan.
#tak tok tak tok…
Suara benturan sandal kayu dengan lantai batu meng<<berisiki>> setiap langkah Daniel dan Randy.
“Lie, bisa tolong lu rasain lantai yang kita injek ini”
“iya kenapa?”
Daniel bertanya heran dengan pernyata’an Randy barusan, dan tanpa ragu ia turun dari sandal bakiaknya untuk merasakan lantai dengan telapak kakinya.
Baru Daniel turun, langsung saja randy mengambil dan melempar sepasang sandal kayu itu sejauh mungkin sekuat tenaga.
Waaaaaaaa….!!!, sandal gue….”
Daniel berteriak sejadi jadinya karena di tinggal pergi oleh sadal barunya. Ia berguling guling berputar dan melakukan gerakan break dance di permuka’an lantai batu.
“tai lu ran..!! ngapain lu buang”
Daniel kembali berteriak dengan keras pada randy karena kesal. tapi randy tidak memperdulikannya sedikitpun seperti tidak terjadi apapun malah terus berjalan meninggalkannya.
“ayo cepetan jalan, kita masih harus cari weapon buat lu”
****


“argh… ini gak bagus. Sampe sekarang gue belum nemu senjata yang pas. KENAPA SI SEMUA HARGANYA DI ATAS 1 JUTA…!
ini harganya yang pada mahal atau gue yang di begoin tukang dagangnya”
“ee.. anu. Kakak lagi cari senjata ya”
Seorang anak kecil berdiri di depanku. Ia berpenampilan kumuh denga pakaian yang kotor dan lusuh. Sepertinya juga anak ini pemalu, sejak tadi ia menundukkan kepalanya dan menyembunyikan kedua tangannya di belakang.
“tau dari mana kamu saya lagi butuh senjata”
“emm.. tadi kan kaka yang berteriak”
aih iya, lupa gue tadi teriak teriak. Ajrit, malu banget gue.
Aku melihat kesekeliling dan sepertinya tidak ada yang menoleh ke arahku.
ya.. kayaknya aman, dan cuma anak ini yang sadar kalo gue teriak teriak.
“ah iya, saya lupa tadi saya teriak. Jadi kamu siapa dan ada perlu apa”
“aku Cono, aku menjual ini kak”
Anak ini memberikanku sebuah benda yang terbungkus kain coklat. Karena penasaran aku membuka bungkus kain itu dan melihat apa yang ada di dalamnya. Ternyata benda yang di bungkus oleh kain itu adalah sebuah pisau.
Tunggu. Tadi di toko sial gue di tawarin piso butut sama om-om kampret, dan sekarang ini. Please bocah jangan bilang ini harganya 1 juta, kalo lu bilang begitu, sekarang juga lu gue hajar.
“kamu hargai berapa pisau ini?”
“980ribu kak”
Nyaris….. nyaris banget…., makasih banyak ya tuhan saya gak jadi bunuh anak kecil.
“tolong kakak, aku butuh sekali uang untuk membayar tabib. Sa’at ini ibuku sedang sakit”
Cono melanjutkan kalimatnya sambil memohon kepadaku. Aku tidak tega melihatnya, apa lagi niatnya tidaklah buruk, ia ingin membantu ibunya yang sedang sakit. Randy pasti mema’afkanku jika aku menggunakan uang darinya untuk anak ini, walaupun aku sebenarnya tidak yakin.
“baiklah, aku akan membeli ini. Ini terima uangnya”
Aku mengambil pisau ini dan memberikannya sekantung uang yang berjumlah 1 juta. Biarlah, lebihnya anggap saja aku memberikan sedekah pada anak ini.
“terimakasih kakak”
Cono membungkuk dan berterimakasih kepadaku. Sedikit senang di buatnya.
“sudah sudah, sana segera berikan ini pada tabib itu. Semoga ibumu lekas sembuh ya”
“hm. Terimakasih banyak sekali lagi kak. Da…”
Setelah itu ia berlari meninggalkanku, aku melihatnya dari kejauhan dan sesekali di buat tersenyum dengan kelakuannya barusan.
Tapi tak lama di persimpangan jalan cono menabrak seseorang bertubuh besar yang berjalan berjalan bersama gerombolannya dan terjatuh.
“maaf tuan”
Cono segera meminta ma’af kepadanya. Tapi si orang asing berkepala botak ini tidak ber-reaksi apapun, ternyata sa’at cono jatuh, bungkusan yang berisi uang miliknya terbuka. Orang asing ini melihat isi dari bungkusan itu dan berkeinginan untuk memilikinya. Ia menarik dan merebut paksa kantung uang itu dan di mulailah adegan tarik menarik di antara keduanya. Aku yang melihat dan memperhatikannya tidak bisa tinggal diam begitu saja.
“Woi, loe yang di sana..!!”
Aku berteriak sejadinya berusaha menarik perhatian orang orang asing yang mengganggu cono. Dan sa’at aku berteriak untuk yang kedua kalinya, sebuah benda melayang kearah mereka, sepasang sandal bakiak yang melesat cepat dan menghantam tepat di wajah si botak. Hantaman kencang tadi berhasil memancing perhatiannya.
“berengsek. Kejar orang itu”
Sambil memegangi wajahnya si botak berteriak sambil menunjuk kearahku, ia mengira sandal yang tadi mengenainya adalah ulahku dan menganggapku sebagai sasaran utamanya.
“sial, aku harus kabur”
Tanpa pikir panjang lagi, aku berdiri dari tempat dudukku dan berlari menghindari amukan mereka.
Cono yang melihat kesempatan emas ini, langsung melarikan diri dan membawa kantung uangnya.
“bagus, dia sudah pergi. Tapi tidak bagus untukku”
Aku bersyukur karena aku sudah berhasil menyelamatkan cono dari ancamannya, tapi kali inisiapa yang akan membantuku untuk meloloskan diri dari mereka.
Aku berlari dan terus berlari melalui lika liku jalan dan melalui gang gang sempit agar mereka yang bertubuh besar itu tidak bisa mengikutiku. Sampai aku tiba di gang kecil dekat dinding luar kota.
“ssstt.. ka”
“siapa itu”
Aku menoleh dengan cepat ke balakang, arah dari suara bisikan yang memanggilku.
“ini aku cono, cepat kakak kemari”
Ternyata itu cono anak yang menjual pisau kepadaku. Ia mengajakku bersembunyi melalui sebuah celah kecil pada dinding batu ia menuntunku menelusuri lorong selokan yang sempit.
“mau kemana kita”
“kita pergi ke rumahku kak. Kakak bersembunyi saja di sana sampai mereka pergi”
Cono terus menuntunku melewati selokan yang gelap itu, membawanya ke tempat tinggalnya.
Sejenak aku berfikir, apa tidak apa apa aku meninggalkan Randy dan Danie di giran. padahal, tidak lama lagi aku harus sudah berkumpul dengan mereka.
Cahaya terang dari luar sudah mulai terlihat, cono mempercepat langkahnya dan aku mengikutinya di belakang. Cahaya ini semakin terang hingga memaksaku untuk menutup mata dengan tangan agar mata ini terbiasa dengan terangnya.
“ini…”
“bagaimana kak, indah kan”
“iya, sangat”
Sebuah pemandangan yang indah hadir di depan mataku, sebuah hamparan luas danau berair jernih disertai tumbuhan rindang yang tumbuh di sekitar. Bila di gambarkan, mungkin seperti Madagascar.
“ayo kak ikut aku, rumahku ada di sebelah sana”
Cono menarik narik bajuku dan menunjukkan jarinya pada sebuah perkampungan kecil yang sederhana di pinggiran danau.
“baik ayo”

Heventyr

Author: Jiyu /

maaf sekali karena banyak yang cacad. kejar setoran soalnya. mungkin kalo ada waktu luang (alasan) akan saya perbaiki.





“selamat datang di Heventyr Online”
Terdengar suara halus dari seorang wanita menggema di seluruh ruangan. Di hadapanku, sudah terdapat buku yang terbuka dan melayang diam. Aku melihat isi yang ada di dalamnya, terdapat sebuah gambar atau avatar milik seseorang dengan pedang yang ia genggam dengan kedua tangannya. <<Clan A>>, itu tulisan terbesar yang berada di paling atas dari buku itu, selain itu terdapat tulisan berukuran lebih kecil yang bertuliskan keterangan dari clan yang maksud. Mungkin ini adalah pemilihan clan yang akan menentukan kemampuan awal pemain
|Clan A
Karakter yang memiliki daya serang dan pertahanan yang seimbang, dengan kecepatan rata –rata. Mereka adalah clan dengan populasi terbanyak di Heventyr, rasa sosialnya yang tinggi membuat mereka menjadi clan yang kuat.|
Kira – kira seperti itulah tulisan yang tertera. Aku membalk balik buku ke halaman yang selanjutnya dan menemukan Clan lain yang cukup menarik, sampai aku melihat Clan C.
|Clan B
Clan yang memiliki sihir terburuk dari seluruh clan. Tetapi mereka adalah pasukan tempur ter tangguh dan ter hebat. dahulu Clan B adalah clan yang bekerja sebagai mercenary. Berkat kemampuannya yang hebat dia hampir selalu berhasil menjalankan semua misinya sampai suatu saat keputusan di ambil untuk menentukan jalur dari hidup mereka. Clan B di minta untuk memusnahkan clannya sendiri hingga akhirnya terjadi pertempuran antar clan.  Clan B terus bertarung dan bertarung, itulah takdir mereka, dan menurut kabar ada sebuah kutukan yang mengutuk clan mereka. Mereka akan selalu mati di tangan clannya sendiri.|
|Clan C
clan dengan kemampuan pergerakan yang cepat, serta pertahanan yang tinggi, mereka adalah clan yang cinta akan keindahan dan kedamaian, dan selalu memutuskan untuk menghindari setiap masalah, serta selalu lolos dari setiap pertempuran. Tetapi jangan meremehkan mereka, mereka juga petarung yang tangguh, menggunakan kecepatan dan akurasi mereka yang sangat tinggi menghasilkan pemanah handal yang sanggup bertempur melawan pasukan musuh|
“Ini cukup bagus, tapi aku bukan orang yang akan lari dalam pertempuran”

|Clan D
Ini adalah kebalikan dari clan C, mereka mengutamakan penyerangan dengan serangat yang cepat dan tiba tiba, dapat mengalahkan lawan lawannya dengan cepat dan tidak meninggalkan jejak.
Akan tetapi, sikap <<agresif>> mereka yang terpaku pada menyerang, pertahanan yang mereka miliki menjadi lembek dan sangat mudah untuk di tembus. Hingga mereka di juluki sebagai cannon glass, yang berdaya hancur tinggi, tetapi juga rapuh.|
|Clan E
Clan ini berisi para pemburu yang handal, bukan pemburu yang memburu binatang buas dan monster seperti pada umumnya tapi mereka adalah pemburu harta.
Banyak dari mereka memiliki kemampuan yang memudahkan mereka dalam mencari hartakarun dan semacamnya. Selain itu mereka juga berbakat dalam berdagang dan menciptakan sebuah item. Mereka selalu di cari untuk memperkaya keraja’an. Walaupun sebenarnya mereka hanya memikirkan keuntungan hanya untuk diri mereka sendiri|
|Clan F
Clan yang datang dari benua lain menuju Heventyr. Menurut kabar, mereka bukanlah manusia. Banyak berita berbicara bahwa mereka adalah jelma’an dari iblis penghuni dunia bawah, ada pula yang mengatakan mereka adalah malaikat yang jatuh ke dunia ini|
Setelah membaca semua clan yang tertera di dalamnya akhirnya aku memutuskan.
“Ini, ini yang aku cari. Mungkin aku akan cocok dengan Clan D”
Aku menekan tombol lingkaran bertanda setuju dengan kontrak clan ini sebelumnya mengisi kolom kosong yang nantinya menjadi nama karakterku. segera setelah itu, seluruh ruangan kembali berubah. Aku di tempatkan di sebuah daerah yang sama sekali aku tidak tahu, tempat ini seperti kubah berukuran super besar, di dalamnya terdapat bangunan bangunan sederhana dan beberapa tampak seperti rumah hunian yang memenuhi kubah ini.
Aku melirik ke bagian kiri seperti ada jendela jendela kecil transparan yang selalu mengikuti dan tidak bergerak dari tempatnya walaupun aku bergerak dan menoleh kesana kemari. Tiba – tiba aku ingat, kalau randy memintaku untuk mencari NPC teleporter dan memintanya memindahkanku ke kota Giran dan bertemunya di sana.
Aku mengucapkan kata menu dan muncuk jendela di hadapanku. Untungnya aku sudah pernah bermain permainan RPG sebelumnya dan hal ini tidaklah jauh berbeda, hanya saja kali ini aku bermain langsung di dalamnya.
Aku mencari tombol untuk mengeluarkan peta, dan akhirnya menemukannya. Lokasi yang di tunjukkan pada peta adalah lokasi dimana aku berada, sebuah daerah yang bernama <<D Mountain>>. Di peta ini juga di tunjukkan lokasi lokasi penting seperti teleporter yang sedang ku cari, serta letak toko toko yang menjual bermacam macam peralatan.
“teleporter, teleporter, teleporter”
Aku mengarahkan jari telunjukku di atas peta, menggerakkannya untuk mencari dimana teleporter itu berada.
“nah ini dia”
Dan akhirnya ku termukan. Sebuah titik berwarna biru dengan text kecil bertuliskan teleporter di atasnya. Lokasinya tidak terlalu jauh dari tempatku berada hanya saja sulit melihatnya jika tidak menggunakan peta karena lokasinya yang tersembunyi di balik bangunan bangunan.
Dengan segera aku berlari ke tempat itu dan bertemu dengan seseorang kakek yang mengenakan penutup kepala dan tongkat yang menyanggahnya untuk tetap berdiri. Tentu saja ini adalah NPC.
“ee.. anu..”
Aku bingung, bagaimana aku berinteraksi dengan para NPC?. Bila pada game bisanya, aku harus mengklick npc tersebut untuk berbicara dengannya tapi kalau wujudnya begini…. Apa aku harus memukulnya?. Ya, mungkin saja.
“wut..”
Aku mengarahkan kencang kepalan tanganku ke npc teleporter. Tapi,
#Tap.!
“apa yang kau lakukan”
Suara lirih keluar dari mulut teleporter. Aku kaget, npc teleporter menangkap pukulan tanganku dengan tangan kirinya.
“apa ini, kau ini benar bukan seorang pemain kan?”
“aku Raw, teleporter D Mountain”
 “anu.. kakek raw, tolong bawa aku ke kota Giran”
“baik, biaya 0 gold. Bersiaplah untuk di pindahkan”
Aku menatapnya dengan tatapan kaget. Tidak ku sangka ini benar benar seorang npc, ia mirip sekali dengan manusia yang aku tau. Dan sekejab sehabis ia berbicara, aku sudah berada di lokasi yang berbeda.
“Tempat ini sangat ramai”
Begitulah pikirku. Aku melihat kembali peta, dan di sana tertulis Kota Giran. Berarti benar, saat ini aku sudah berada di kota giran.
Sambil berjalan menuju pusat dari kota ini aku memperhatikan sekitar. Di sini banyak sekali rumah rumah yang berdiri, di buat dari batuan batuan membentuk dinding seperti layaknya rumah di sebuah kota pada jaman keraja’an atau kastil.
Di peta, jumlah npc dan toko di sini jauh lebih banyak di banding tempat tadi, dan jumlah orangnya pun tidak kalah banyaknya.
“mam di sini..”
Daniel, suara Daniel terdengar jelas dari arah monument kota. Dia melambaikan tangan kemari, dan di sampingnya sudah ada Randy yang berdiri bersandar di tembok sambil melipat tangannya.
“lama sekali”
“ma’af tadi aku sempat tidak tau harus kemana. Eh?”
“ada apa mam”
Daniel bertanya heran
“itu, pakaian kalian”
Ya, pakaian mereka memang berbeda dengan yang aku kenakan saat ini, aku mengenakan baju dan celana panjang berwarna hitam, lalu Daniel mengenakan kaus berwarna putih dan celana kulit coklat ¾, tapi randy.. dia mengenakan mantel dan sarung tangan dengan crystal yang menyala. Sangat jauh lebih keren daripada pakaian yang kami kenakan.
“kenapa bisa”
“sudah jelas kan berbeda, kalian pasti memilih clan yang berbeda. Dan aku, sudah jelas pakaianku lebih keren karena aku sudah bermain lebih dahulu dari kalian”
Randy menjelaskan itu padaku. Tapi tetap saja, ini tidak adil karena pakaian kami sangat tidak keren.
“bisa gak kalo kita ganti penampilan?”
“nah, itu dia. Itulah kenapa aku memanggil kalian semua kemari. Tapi sebelum itu, aku akan menjelaskan sedikit hal yang ada di game ini.
kalian liat jendela transparan di bagian kiri atas kalian?. Jendela itu berisi beberapa bar, pertama bar berwarna merah, itu menunjukkan Live Point yang kalian miliki, lalu yang biru itu adalah Mana Point, setiap kau menggunakan sihir, mana point akan berkurang. Lalu yang berwarna kuning itu adalah Stamina point, menunjukan stamina yang kau miliki, jika kalian berlari maka membutuhkan stamina sebagai bahan bakar, selain itu skill fisik juga mengkonsumsi stamina. Pemain lain tidak bisa melihat jendela bar itu, hanya kalian yang bisa melihatnya.
Dan ada lagi, coba cek lengan kiri kalian. Di sana ada sebuah tanda berupa <<gear>>, tekanlah.”
“apa ini”
Aku mengarahkan jariku pada tanda ini dan muncul jendela jendela lainnya yang berukuran besar, sampai menghalangi pandanganku.
“itu adalah jendela pemain, lewat situ kalian bisa mengatur semuanya, atau bisa di bilang jendela kendali utama. Selain itu, kalian bisa melihat informasi dari karakter kalian atau status karakter. Coba kalian pilih bagian info karakter”
Aku dan Daniel mencoba yang di perintahkan oleh Randy dan menekan sub menu yang di maksud dan jendela baru muncul menggantikan jendela sebelumnya.
“kalian lihat di sana, ada beberapa poin penting yang mempengaruhi karakter kalian, seperti serangan pertahanan dan lain lain yang tertulis di sana, tapi ada status yang mempengaruhi itu semua. Kaian bisa menekan tab Status.
Lihat di sana. Di sana ada beberapa keterangan pemain sama seperti tadi. Di sana tertulis Strength, Dexterty, Health, Intelegent, Memory, dan Mental. Masing masing memiliki fungsi dan jumlah angka yang berbeda beda.
Strength, mempengaruhi kekuatan serangan fisik yang kalian miliki dan juga jumlah damage yang dapat di berikan. (Str)
Dexterty, mempengaruhi kecepatan kalian dalam bergerak. Kecepatan kalian sangatlah penting, karena semakin cepat kalian, semakin mudah juga untuk menghindari serangan musuh dan melakukan serangan serangan yang mematikan. (Dex)
Health, mempengaruhi Health poin dan Stamina poin, selain itu juga meningkatkan ketahanan terhadap effect serangan fisik (Hlt)
Intelegent, mempengaruhi kekuatan serangan magic kalian, selain itu juga meningkatkan kemungkinan mendaratnya skill kutukan. (Int)
Memory, daya ingat dari si karakter, mempengaruhi spell spell sihir yang memiliki mantra juga mempengarhui kecepatan castnya. (Mem)
Mental, mempengaruhi ketahanan sihir dan serangan kutukan yang bersifat serangan mental. (Men)
Nah, semua itu adalah poin yang sangat berpengaruh bagi kalian”
“Ran. tunggu dulu sebentar”
Tiba tiba Daniel menghentikan penjelasan yang di berikan Randy
“anu, kenapa angka dan nilai nilai di dalam kolom ini tidak bisa kita rubah, bukankah jika status itu sangat penting dan berpengaruh, kita harus mengaturnya dengan baik”
“memang, tapi sayangnya semua pin itu tidak bisa kita ubah”
“loh, kenapa”
“ya, system mengatur semuanya. Nilai nilai yang kita miliki saat ini sudah terisi sendiri, system melihat dan mengaturnya saat memindai kita. Jadi nilai yang tertera di sini di buat sama persis dengan kemampuan kita dalam dunia nyata, selain itu clan yang kalian pilih juga mempengaruhi. Tapi nilai ini juga memiliki batas, total nilai dari tiap poin tidak kurang atau melebihi 150 poin”
“ah, yang benar saja”
“ya, memang benar. Walaupun Heventyr ini adalah sebuah game yang bebas, tapi aturan ini memang sudah tidak bisa di ubah lagi”
Aku diam dan mengangguk dengan apa yang di jelaskan oleh Randy.
“jadi kita hanya bisa menerima status yang di berikan oleh system tanpa bisa merubahnya”
“ya betul apa yang kamu bilang mam”
Randy meng’iya kan ucapanku.
“jadi, harap kalian menerimanya”
“oke, baiklah”
Daniel akhirnya menurut dan menyerah pada system
“bagus kalau begitu, sekarang bisa tolong kalian beri tahu aku berapa nilai dari tiap poin pada status kalian”
Randy meminta kami untuk menunjukkan nilai yang kami peroleh. Entah untuk apa tapi sepertinya kami harus memberikannya.



Seperti inilah status yang kami Peroleh
Aku
Str        : 41
Dex      : 30
Hlt       : 28
Int        : 13
Mem      : 18
Men     : 20
Daniel
Str        : 37
Dex      : 28
Hlt       : 43
Int        : 22
Mem      : 16
Men     : 13
Randy
Str        : 14
Dex      : 11
Hlt       : 24
Int        : 42
Mem      : 23
Men     : 36
“baik, berarti Imam dan Daniel memiliki status dengan tipe fighter yang bertarung menggunakan kekuatan fisik. Sedangkan aku bertipe magician, yang mengandalkan sihir sebagai senjata utama”
“yaa..”
“oke”
Aku dan Daniel menjawab.
“kalau begitu ayo kita mulai game ini”
“oke aku setuju”
Ujarku menyetujui perkata’an Daniel, tapi Randy mencegat kami.
“Tunggu dulu”
“e.. apa lagi”
“jangan berbicara menggunakan nama asli kalian dalam game ini”
“memangnya kenapa”
“ya.. itu adalah sebuah tradisi, lagipula di game yang bebas seperti ini pastinya aka nada orang yang akan menyerang pemain dalam dunia nyata, jadi sebaiknya.. gunakanlah nick name yang kalian buat”
“…”
“apa nick name yang kalian gunakan, eh tunggu. Sebaiknya aku masukkan kalian ke dalam friend list”
Akhirnya randi meminta kami untuk memasukkan kami ke dalam friend list miliknya, begitu juga aku dan Daniel yang juga memasukkan 2 orang lainnya ke dalam friend list.
“jadi Crow dan Lie. Salam kenal, aku Sloth”
Randy bergumam menyebutkan nick kami yang tertera pada jendela friend miliknya lalu menyalami kami berdua. Ya, aku menggunakan nama Crow sebagai nick ku, karena aku ingat dengan crow pada karakter anime itu.
“semua sudah, lalu…. Ini aku memberikan kalian beberapa gold untuk membeli equipment”
Muncul jendela kecil perminta’an transaksi yang di kirimkan oleh Randy, maksudku Sloth dan aku menerimanya. Lalu Sloth mengirimkan uang sebanyak 1.000.000 G, pada kami berdua.
“silahkan gunakan uang itu untuk membeli equipment setelah itu kita pergi untuk memburu monster”

Orang yang ku kenal

Author: Jiyu /

ehem...
ini ada lanjutannya yang tadi. dan lagi... jangan tanya judul.
oh iya 1 lagi. saya bukan Imam Firmansyah, tapi saya tuan darinya. dia assistant yang paling saya kagumi jd sebentar saya take over karakternya. hohohoho...
selamat menikmati~







“kaak.. kaak.. kaak.. kaak”
Suara burung gagak berbunyi nyaring terdengar di seluruh penjuru ruangan. Suara itu berasal dari jam alarm silinder seperti tiang, dengan figure burung gagak di atasnya. Ada beberapa angka berwarna merah yang muncul di tiang itu, menunjukkan tanggal bulan tahun dan jam saat ini, 5 Desember tahun 2031 pukul 5 pagi.
Suara suara itu berhasil menyadarkan seroang anak yang sedang tidur di atas ranjang empuknya. Ia menekan kepala dari gagak, dan memmbuat suara suara itu hilang. Anak dengan rambut spike berdiri tegak dan berwarna hitam, alisnya yang tebal membuat matanya seolah sulit untuk di buka ke atas.
Setelah ia melihat angka yang tertulis di alarmnya, dengan segera ia bediri dan berjalan menuju lemari pakaian yang berdiri di depannya.
Ia membuka pintu kamar dan menuruni tangga, dengan sepasang pakaian yang terantung di bahu kirinya. Berjalan terus – terus hingga sampai di depan pintu sebuah ruangan.
‘tok tok tok’
Suara pintu itu di ketuk dari luar
“hoi.. ka…, udah selesai belum”
Anak tadi mengetuk pintu sambil memanggil seseorang yang sepertinya sedang ada dalam ruangan itu. Ia memanggil sekali lagi.
“hoi..”
‘krek krek’ suara gagang pintu sedang di putar
Seseorang dengan keluar dari dalamnya dengan hanya mengenakan sehelai handuk yang menutupi pinggang hingga bawah, lalu menjawab dengan nada kesal.
“iya iya.. berisik”
Anak tadi tersenyum dan masuk ke dalam ruangan menggantikan orang tadi
Matahari mulai meninggi di luar. Di sebuah rumah muncul anak tadi yang baru saja keluar lewat pintu  depan rumahnya dengan tas yang menempel di punggungnya. Ia mengambil sepasang sepatu yang ada di rak di beranda rumahnya dan mulai memasangnya di kedua kakinya.
Setelah itu ia berlari keluar melewati pagar rumah dan kembali menutupnya. Berlari dan berlari hingga ia sampai di sebuah tempat. Tempat pemberhentian bis, mungkin halte bis adalah kata yang bisa dengan mudah kalian gambarkan.
Di tempat ini anak ini berdiri menunggu bis yang akan mengantarkannya hingga tujuannua. Sampai ada sebuah bis berwarna hitam, lebih tepatnya memang seluruh badan bis adalah sebuah gambar dari pemandangan senja yang gelap.
Anak tadi masuk dan melihat beberapa kursi masih kosong dan beberapa di tempati oleh anak dengan seragam yang melekat di tubuh mereka seperihalnya anak ini. ia segera duduk di salah satu tempat duduk yang masih kosong.
“huff..”
Anak itu menghembuskan nafas panjang, menandakan perasa’an lega darinya.



Namaku Imam Firmansyah, aku berumur 17 tahun dan cukup dewasa untuk membaca manga dengan tanda H di depannya. Hehe. Aku adalah seorang siswa menengah atas di tingkat dua.
Seperti hari biasanya, kali ini aku berangkat untuk belajar di sekolah. Apa tadi kalian melihat koleksiku, Aku memang suka mengkoleksi benda benda yang berhubungan dengan anime. seperti salah satunya jam beker tadi. Aku membelinya saat ada festival anime di pekan raya. Saat itu aku kira jam itu adalah jam yang unik, karena bisa mengeluarkan suara gagak, selain itu dia mengingatkanku dengan seorang karakter dimana dia bersama burung gagaknya mengarungi samudera.
Oh, sepertinya aku hampir sampai di tempat pemberhentianku. Aku mulai memeriksa kembali apa semua barang barangku, semoga saja tidak ada yang tertinggal dalam bis.
Bis mulai berhenti di depan sebuah halte, dan kami semua mulai turun tepat di sebuah sekolah swasta ada sebuah bongkahan batu besar di halaman depan sekolah itu, yang di permuka’an sisinya terdapat ukiran bertuliskan <<Io Garden>>
 “ui.. pagi gung”
“aah.. pagi”
“haha..-”
“eh lu liat gak siaran bola semalem-”
Daerah ini mulai bising dengan suara siswa siswi yang saling bercakap cakap. Dan aku hanya berjalan lurus melewati mereka.
“oi mam, gue duluan ya.!”
Seru salah seorang temanku yang sedang berlari terburu masuk kedalam sekolah.
Ada beberapa orang yang aku kenal saat masuk melewati gerbang tadi, dan.. ada lebih banyak lagi orang yang juga tidak aku kenal masuk melalui gerbang.
Menurutku itu adalah hal yang normal, rasanya sulit untuk mengenal dan di kenal oleh semua orang di dalam satu sekolah. Apalagi, jika orang tersebut adalah aku.
Aku di kenal sebagai anak yang cukup pendiam dan mungkin agak sulit bergaul. Dan itu menjadi alasan utama kenapa aku tidak begitu mengenal banyak orang di sini.
Tidak terasa sekarang aku sudah berada di pintu ruang kelas. Aku membuka pintu dan mulai melangkahkan kaki ke dalam ruangan.
Seseorang datang menghampiriku, berjalan ke belakang dan menepuk bahu kiriku dari belakang.
“tumben lu dateng rada siangan mam”
“iya, kamar mandinya gantian, jadi nungguin dulu gue”
ia bertanya padaku, dan aku’pun menjawab dengan semestinya. Setelah itu ia pergi ke luar melalui pintu yang aku lewati tadi
Anak itu bernama Yosany, ia juga salah satu teman sekelasku. Dia memiliki seorang saudara yang juga bersekolah di sini, Mungkin ia keluar untuk pergi ke kelas sebelah menemui saudaranya itu. Ya.. biarkan lah. Aku tidak terlalu memikirkan urusan orang lain.
Aku berjalan menuju tempat duduk’ku dan menyandarkan tasku di kursi. Setelah itu aku duduk ikut duduk di atas kursi tersebut. Hampir setiap hari, hari hari pagiku selalu sama seerti ini. Aku bangun, berebut kamar mandi dengan saudara saudaraku, menunggu bis yang datang, dan duduk di tempat ini tanpa melakukan apapun. biasanya aku duduk sambil memasang earphone lalu mendengarkan beberapa musik, sayangnya benda itu tertinggal di rumah. Oleh karenanya aku hanya duduk di sini, menjatuhkan kepalaku di atas meja dan berharap bisa melanjutkan mimpiku yang semalam.
Tak lama suara gaduh terdengar olehku, seseorang masuk ke dalam kelas. Aku kenal dengan orang ini, orang dengan raut wajah yang datar, wajahnya tidak mencerminkan hal apapun kecuali kesunyian, dan jika di perhatikan seakan kau bisa tahu apa yang ada di pikirannya “menjauhlah, dan jangan halangi jalanku” seperti itu seperti itu mungkin seperti itu mungkin seperti itu u
“pagi ran”
“pagi”
Randy Beta namanya. Ia menjawab sapa’an ku ketia ia berpapasan denganku yang berubah posisi dengan duduk bersandar.
Seperti apa ya rupanya saat itu. Pendiam, atau mungkin.. cool?. Entah apa, tapi dia jarang sekali berbicara dengan orang, walaupun itu adalah teman sekelasnya.
Hanya sedikit orang yang ia kenal. Dan banyak orang berfikir, dia anak yang sombong karena jarang bergaul dengan yang lain. Tapi tidak untukku, menurutku dia orang yang cukup baik. Hanya saja, dia tidak tau cara bergaul dan berkomunikasi dengan orang lain. Biasanya orang lain akan langsung mundur dan menjauh ketika ia mulai berbicara. Karena mungkin kalimat yang ia gunakan terdengar sangat menyebalkan dan terkesan merendahkan atau menghina.
Ya.. bagaimanapun dia, dia adalah temanku, teman yang membawaku menuju dunia yang berbeda itu. Dunia bernama Heventyr.
Kisah itu bermula sekitar hampir satu tahun yang lalu. Saat itu aku dan randy belum terlalu mengenal satu sama lain, walaupun aku berada dalam satu kelas yang sama dengannya.
Saat itu beberapa dari kami di kelas sudah saling mengenal dan sudah berteman. Di sana hanya ada satu anak yang kelihatan menyendiri di dalam ruangan. Ya, anak itu adalah randy.
Sebelum pelajaran di mulai dia selalu berada di luar kelas, duduk di bangku taman yang ada di taman sekolah tepat di bawah sebuah pohon beringin yang ada di taman sekolah. Ia selalu mendengarkan music dari sepasang earphone di telinganya, duduk diam sambil menyilangkan tangannya di dada.
Tak juga berbeda saat bel berbunyi menandakan waktu istirahat. dia berjalan sendiri ke kantin sekolah, membeli sebuah roti isi dan teh dalam kotak, lalu duduk sendirian di meja kantin sambil memakan makan siangnya yang baru ia beli. Dan saat bel sekolah berbunyi tanda usai. Dia langsung pergi meninggalkan kelas tanpa sepatah katapun.
Tapi setelah semua itu ia mulai menunjukkan perubah ketika negara api menyerang beberapa temanku dan aku mulai membicarakan game di dalam kelas. Ia datang mendatangi kami dan akhirnya mulai akrab dengan kami. Ia sering meminjamkan kami beberapa koleksi game yang ia miliki, dan kami sangat menghargai itu. tapi itu juga tidak berjalan dengan baik, bebrapa teman mulai menjauhinya dan malas berbicara dengannya karena kalimat kalimat dan respon yang ia berikan pada kami belakangan itu.
Aku tau, sebenarnya dia hanya ingin berteman, tetapi hanya cara yang ia gunakan untuk bergaul itu sedikit tidak benar. Sampai akhirnya hanya aku dan temanku Hironimus Daniel yang bertahan. Dan sampai saatnya benda itu muncul.
Saat kelas selesai dia menghampiri kami dan memberitahu kami bahwa ada game terbaru yang mucul. Dan itu pertama kalinya ia mengajak kami menuju rumahnya.
Rumahnya tidaklah seperti rumah kebanyakan orang, rumahnya berukuran sangat besar, luas halaman rumahnya bahkan menyaingi luas sekolah kami.
Kami berdua terbengong bengong ketika berjalan masuk ke dalam halaman rumahnya, berjalan menuju sebuah bangunan yang tidak kalah besar.
“oi ran, ini bener rumah lu?”
“iya”
Daniel bertanya dengan ekspresi wajah yang seakan tidak percaya. Dan randi menjawab dengan sangat tenang. Sedangkan aku, hanya terdiam karena kagum dengan indahnya taman di depan rumahnya.
“ayo semuanya masuk”
Randy mempersilahkan kami untuk masuk ke dalam rumahnya. Tanpa ragu lagi, kami masuk ke dalam bangunan tersebut.
Kami berjalan mengikuti randy yang ada di depan, yang menuntun kami entah ke tempat apa.
“hei ran, yang lain kemana, kok sepi amat”
“siapa”
“ya bokap nyokap lu lah..”
“mereka semua kerja di luar negeri”
“wee.. keren”
Tempat ini mirip sekali dengan hotel atau apartemen, kami berjalan melewati ruangan ruangan yang di lengkapi dengan pintu pintu yang menutup rapat, yang kami tidak tahu apa fungsi dari tiap ruangan itu. Di lantai dua di sebelah kanan, dari jendela yang terpasang di dinding aku melihat sebuah kolam ikan beserta air terjun buatan di tepiannya yang menjatuhkan air yang mengalir indah ke dalam kolam. Ikan ikan itu tampak begitu senang, berenang sesana kemari, sesekali melompat melewati air terjun buatan
“mam”
Daniel memanggilku dengan suara yang cukup keras, membuat aku tersadar dari lamunanku.
“ayo masuk sini mam”
Ia mengajakku masuk ke dalam salah satu ruangan di rumah itu.
“hey, boleh gak nanti kalo kita main di -”
belum sempat menyelesaikan kalimatku itu, aku terkejut saat menoleh dan pandanganku mengarah pada isi ruangan itu. Ruangan yang berisi berbagai macam mesin permainan, dimulai dari permainan <<dingdong>> <<Nintendo>> <<hingga PC model lama>> terpapar di sana, dan ada satu benda yang menjadi perhatianku, benda seperti telur berbentuk oval.
Aku mendekati benda itu, benda itu berwarna silver dengan guratan guratan biru mengelilinginya serta ada sebuah jendela kecil di bagian atas benda itu. Karena penasaran dengannya aku bertanya kepada randy.
“hei ran. Benda apa ini”
“oh.. itu, itu benda yang bakal ngebawa kita ke tempat lain”
“he, maksudmu”
Randy tersenyum ketika aku menanyakan itu, dan membuatku semakin bingung dengan apa yang di maksud olehnya.
Di tempat lain, Daniel sedang asik memakan kue yang ada di atas meja, yang sepertinya tidak perduli dengan apa yang kami bicarakan.
Randi melangkah ke sofa dan mengambil sebuah remote yang terbaring di atasnya, lalu menekan sebuah tombol. Tombol itu di gunakan untuk menyalakan sebuah televisi berukuran besar yang menempel di tembok ruangan. Lalu muncul tampilan, beberapa window seperti halnya pada computer, dan kursorpun bergerak mengikuti arah dari remote yang di pegang randy hingga akhirnya berhenti pada tujuan akhirnya.
“sebelum kalian menggunakan benda itu, sebaiknya kalian melihat tutorial penggunaannya terlebih dahulu”
Randi berkata sambil membuka file yang di tampil pada tv, dan membuka file itu. Ternyata file itu adalah sebuah file video.
Video yang berisikan tutorian cara pengguna’an dari benda berbentuk oval yang ada di depanku. Saat video mulai berjalan, randy menjelaskan beberapa kepada kami.
Ini sebenarnya adalah alat sepertihalnya game kolsole yang dapat menampilkan permainan. Bedanya, dengan alat ini, kita bisa berinteraksi langsung di dalam game, seperti halnya di dalam dunia nyata. Dan itu di sebut dengan VRG yaitu Virtual Reality Game. Dan saat ini baru perusahaan ATHos yang menciptakan alat ini, sekaligus dengan sebuah permainannya
Menggunakan alat ini tidaklah sulit, pemain hanya tinggal masuk ke dalam mesin berbentuk telur ini dan tinggal menunggu alat ini membawanya menuju dunia lain.
Aku berfikir. jika begitu, dari pada telur, mungkin ini lebih mirip seperti peti mati yang berbentuk oval, karena orang menggunakannya dengan cara masuk ke dalamnya, dan tidak bergerak layanya orang mati.
Setelah itu alat ini akan mengeluarkan sebuah gelombang kejut yang membuat pemain tidak sadarkan diri dalam beberapa saat, tapi tenang saja. hal ini tidak membahayakan, karena itu adalah sebuah proses agar mesin bisa mengakses penuh ke dalam jaringan syaraf otak manusia dan pasti akan mengalami kejadian tadi. Seperti halnya tekanan yang di rasakan penumpang pesawat, saat pesawat sedang take off. selagi pemain mengalami shock sesaat, mesin mulai memindai seluruh tubuh pemain untuk menciptakan avatar yang nanti akan di gunakan di dalam game. Bla bla bla
Di tengah penjelasannya, randy juga meminta kami membuka sebuah situs game dari ponsel kami, dan meminta kami mendaftarkan ID sebagai member di sana. Dan beruntung, setiap pengguna yang baru mendaftar akan di berikan satu minggu percoba’an gratis.
Kami sudah mendaftar, dan kami juga melihat semuanya. Kini saatnya kami mencoba permainan ini.
Randi bergerak dari sofanya dan mengajak kami menuju benda tadi tadi di tempatkan. Dan di sinilah kami, ada 4 set ATHos. Dan semuanya memiliki ukuran dan bentuk yang sama.
“ayo semuanya masuk”
Randy meminta kami untuk segera menggunakan benda ini.
Tanpa ragu lagi, aku dan Daniel, masing masing membuka penutup ATHos dan berbaring di dalamnya. Sebelum menutup pintu itu, Randy berkata,
“sampai jumpa di dunia yang pasti bikin kalian kaget”
“iya”
Daniel menjawab dengan se’enaknya. Lalu kami menutup tutup itu hampir bersama’an.
Di dalamnya aku diam menunggu sambil bertanya tanya. “Apa ini aman?, apa semuanya akan berjalan baik baik saja?. dalam beberapa anime yang aku lihat, permainan seperti ini akan mengorbankan nyawa dari tiap pemainnya”. Begitulah, semua kekawatiran muncul di kepalaku dan membuatku ragu untuk memainkan permainan seperti ini, tapi.. apa boleh buat. Randy dan Daniel juga sudah mencobanya tanpa ragu. Karenanya, aku juga harus melangkah tanpa ragu lagi.
Setelah pikiran khawatir itu menghilang dari kepalaku, seketika aku merasa seperti terputus dengan dunia ini dan setelah itu, aku muncul di sebuah area kosong berwarna putih, hanya ada sebuah layar hampir transparan yang ada di hadapanku.
Layar itu memiliki 2 buah kolom kosong, dan di sampingnya ada tulisan bertuliskan ID dan Password, aku berfikir mungin ini alasan kenapa kita harus mendaftarkan diri tadi, lalu aku menuliskan id dan password’ku kedalam kolom kosong itu. Lalu menekan tombol enter.
Setelahnya, potongan potongan gambar mulai tersusun di sekitarku membentuk sebuah tembok yang bererak semakin tinggi dan tinggi membuat tempat ini menjadi sebuah ruangan, lalu beberapa obor muncul di sisi – sisi tembok dan memberikan cahaya pada tempat ini.
“selamat datang di Heventyr Online”

Mengenai Saya

Foto saya
Pawn from HIVE clan
Diberdayakan oleh Blogger.