~Kota Giran.
Ini adalah salah satu kota besar yang ada di Heventyr,
lokasinya yang strategis berada di tengah – tengah di antara kota. Selain
kondisi geografis yang menguntungkannya, kota giran juga banyak di lalui oleh
pemain yang sedang berpetualang, dengan alasan seperti itu akhirnya kota ini di
gunakan sebagai area pusat perdagangan. Setiap pemain bebas mendirikan dan
membuka toko pada area ini, pedagang
sangat mudah di temui pada daerah ini, dan tempat ini juga menjadi pilihan
terbanyak pemain untuk memenuhi kebutuhannya.Di lokasi ini, seluruh barang yang
di jual juga memiliki harga yang cukup murah dan jauh lebih lengkap di banding
lokasi lain, karena banyak pemain yang juga ikut ambil bagian dalam
perdagangan.
Setelah masuk ke dalam sebuah
game virtual. Imam,
Daniel, dan Randy menggunakan sebuah avatar dengan nick name Crow, Lie, dan
Sloth sebagai pengganti karakternya di dalam game tersebut. Mereka bertiga
berjumpa di sebuah kota bernama giran, setelah itu mereka bertiga berpencar
untuk membeli equipment yang cocok untuk masing masing, Lie pergi bersama Sloth
untuk membantunya memilih equipment, sedangkan Crow memilih untuk pergi mencari
peralatannya sendiri.~
“mam, lu yakin gak mau bareng”
“nggak, gue nggak mau bikin repot kalian”
Aku menjawab pertanya’an Lie dengan spontan. apa yang aku pikirkan, seharusnya aku
pergi bersama mereka dan mendapatkan kemudahan dengan adanya pemain senior
bersamaku tapi.. tidak kali ini.
Sebuah kerutan dahi dan alis yang di naikkan, itu yang randy lakukan ketika
mendengar jawabanku. Memang seperti itu biasanya reaksi yang ia berikan, ia
memilih diam dan memasang wajah datar jika tidak ada hal yang ingin di
sampaikan.
“tunggu mam”
“ada apa?”
Randy memanggilku tak lama setelah kami melangkah menjauh.
Aku tidak tau kenapa, lebih baik dengarkan saja.
“karena kau orang baru, sebelumnya mungkin lebih baik kau
lihat barang yang di jual oleh pedagang lain dulu sebelum kau membeli barang
yang ingin kau beli. Karena di sini, tidak sedikit orang yang menginginkan
keuntungan yang besar dengan cara menipu pemain pemula”
“ok, sip”
Aku menjawabnya dengan anggukan tanda mengerti. Lalu kami berpisah.
Sa’at aku berjalan tadi, sebelum ke tempat pertemuan kami,
aku sempat melihat sebuah senjata yang unik seperti senjata yang ada di salah
satu anime yang pernah aku lihat. Senjata itu berupa <<scimitar>>,
senjata jarak dekat yang menyerupai pedang tapi memiliki sisi tajam yang
melengkung seperti yang di gunakan oleh orang persia.
“O, ini dia tempatnya”
Tidak terasa aku sudah berada di depan toko persenjata’an,
dan beruntung senjata yang aku inginkan masih terpajang di sana.
#klontang klontang
Suara lonceng berbunyi ketika aku masuk melalui pintu depan
toko. Sepertinya pemilik tempat ini juga adalah seorang player
Banyak bentuk model lapak yang di dirikan oleh pemain, ada
yang hanya menggelar barang dagangannya di pinggiran jalan, ada yang membuat
tenda kecil, ada yang berteriak menawarkan barangnya begitu saja, bahkan ada
juga yang sampai mendirikan toko seperti ini. Hmm.. mungkin player ini adalah orang
yang memiliki banyak uang higga bisa membeli sebuah bangunan.
Karena tempat ini kelihatan sunyi, dan tidak ada orang yang
terlihat satupun, aku mencoba memanggil pemilik toko.
“permisi, apa ada orang, saya mau beli sesuatu”
“yaa..”
Suara lirih pria muda terdengar dari dalam sebuah ruangan di
balik tembok di sana, dan suara langkahnya pun terdengar makin mendekat.
“yaa.. ada yang bisa saya bantu tuan”
Seseorang keluar dari balik pintu, seseorang berbadan besar
dengan jenggot di wajahnya. Sepertinya, ia berumur jauh lebih tua dariku.
Walaupun kami ini sesama player, dan umurku juga jauh
berbeda darinya tapi sudah menjadi kebiasa’an pada permainan MMO seperti ini
kami memanggil player lain dengan sebutan ‘tuan’ atau ‘nona’ jika player itu
perempuan.
“itu, apa aku bisa membeli senjata yang di pajang di depan
itu?”
“yang di depan sana itu”
“iya”
“ooh.. itu senjata yang cukup bagus, sebentar ya akan aku ambilkan”
Pedagang itu pergi untuk mengambil senjata yang aku maksud tadi
dan membawanya ke hadapanku.
“ini?, ini pedang yang bagus. Pedang ini bernama <<Excalipoor>>, yang memiliki atribut kritikal
dan speed“
“berapa
tuan memberikan harga untuk senjata ini”
“ini tidak mahal, hanya seharga 4,4juta”
“aaaa……” (=.=)
Entah apa yang harus aku katakan tapi…, aku sudah terlanjur
patah semangat mendengar harga yang ia berikan.
“bisa lebih rendah lagi tidak harganya tuan?”
“baik.. untuk tuan aku kurangi harganya menjadi 4,2 juta.
Bagaimana?”
sial, tetap saja uang yang di berikan Randy padaku sama
sekali tidak cukup. Pikirku dalam hati
“anu, aku Cuma punya uang 1juta. Bisakah anda memberikan senjata
ini dengan harga 1juta”
“hahahaha…”
“…”
Pedagang itu tertawa terbahak hingga jenggotnya itu terasa
mau lepas.
“jika uangmu hanya 1juta, itu mungkin hanya cukup untuk
membeli <<Ant Tooth>> ini”
Pedagang itu masih saja mentertawaiku, dan malah
menawarkanku sebuah pisau jelek. Karena kesal aku memutuskan untuk pergi dari
tempat itu dan mencari toko lain yang menjual benda itu lebih murah dan mungkin
juga lebih ramah.
“sialan, aku tidak akan kembali ke tempat ini”
====
di tempat lain Randy dan Daniel masih asik mencari cari
pakaian yang cocok untuknya
“lu
sama sekali gak cocok pake pakean kayak gitu mus”
“he masa?. Cocok lah.. keren gini kok”
“bukan tampilannya maksud gue..”
Sa’at ini ia dan Daniel baru keluar dari toko pedagang armor
set, Daniel baru saja membeli satu set pakaian, pakaian ini seperti pakaian
yang di pakai oleh ahli beladiri
karate. Sebuah baju dan celana panjang berwarna putih tak lupa sabuk
hitam yang melingkar di pinggangnya.
“terus apanya?”
“ah.. gak tau deh”
Randy menjawab sambil menutupi wajahnya dengan telapak
tangan.
#tak tok tak tok…
Suara benturan sandal kayu dengan lantai batu
meng<<berisiki>>
setiap langkah Daniel dan Randy.
“Lie, bisa tolong lu rasain lantai yang kita injek ini”
“iya kenapa?”
Daniel bertanya heran dengan pernyata’an Randy barusan, dan
tanpa ragu ia turun dari sandal bakiaknya untuk merasakan lantai dengan telapak
kakinya.
Baru Daniel turun, langsung saja randy mengambil dan
melempar sepasang sandal kayu itu sejauh mungkin sekuat tenaga.
“Waaaaaaaa….!!!,
sandal gue….”
Daniel berteriak sejadi jadinya karena di tinggal pergi oleh
sadal barunya. Ia berguling guling berputar dan melakukan gerakan break dance
di permuka’an lantai batu.
“tai lu ran..!! ngapain lu buang”
Daniel kembali berteriak dengan keras pada randy karena kesal. tapi randy
tidak memperdulikannya sedikitpun seperti tidak terjadi apapun malah terus
berjalan meninggalkannya.
“ayo
cepetan jalan, kita masih harus cari weapon buat lu”
****
“argh… ini gak bagus. Sampe sekarang gue belum nemu senjata
yang pas. KENAPA SI SEMUA HARGANYA DI ATAS 1 JUTA…!
ini harganya yang pada mahal atau gue yang di begoin tukang dagangnya”
ini harganya yang pada mahal atau gue yang di begoin tukang dagangnya”
“ee.. anu. Kakak lagi cari senjata ya”
Seorang anak kecil berdiri di depanku. Ia berpenampilan
kumuh denga pakaian yang kotor dan lusuh. Sepertinya juga anak ini pemalu,
sejak tadi ia menundukkan kepalanya dan menyembunyikan kedua tangannya di
belakang.
“tau dari mana kamu saya lagi butuh senjata”
“emm.. tadi kan kaka yang berteriak”
aih iya, lupa gue tadi teriak teriak. Ajrit, malu banget
gue.
Aku melihat kesekeliling dan sepertinya tidak ada yang
menoleh ke arahku.
ya.. kayaknya aman, dan cuma anak ini yang sadar kalo gue
teriak teriak.
“ah iya, saya lupa tadi saya teriak. Jadi kamu siapa dan ada
perlu apa”
“aku Cono, aku menjual ini kak”
Anak ini memberikanku sebuah benda yang terbungkus kain
coklat. Karena penasaran aku membuka bungkus kain itu dan melihat apa yang ada
di dalamnya. Ternyata benda yang di bungkus oleh kain itu adalah sebuah pisau.
Tunggu. Tadi di toko sial gue di tawarin piso butut sama
om-om kampret, dan sekarang ini. Please bocah jangan bilang ini harganya 1
juta, kalo lu bilang begitu, sekarang juga lu gue hajar.
“kamu hargai berapa pisau ini?”
“980ribu kak”
Nyaris….. nyaris banget…., makasih banyak ya tuhan saya gak jadi bunuh
anak kecil.
“tolong kakak, aku butuh sekali uang untuk membayar tabib.
Sa’at ini ibuku sedang sakit”
Cono melanjutkan kalimatnya sambil memohon kepadaku. Aku
tidak tega melihatnya, apa lagi niatnya tidaklah buruk, ia ingin membantu
ibunya yang sedang sakit. Randy pasti mema’afkanku jika aku menggunakan uang darinya
untuk anak ini, walaupun aku sebenarnya tidak yakin.
“baiklah, aku akan membeli ini. Ini terima uangnya”
Aku mengambil pisau ini dan memberikannya sekantung uang
yang berjumlah 1 juta. Biarlah, lebihnya anggap saja aku memberikan sedekah
pada anak ini.
“terimakasih kakak”
Cono membungkuk dan berterimakasih kepadaku. Sedikit senang
di buatnya.
“sudah sudah, sana segera berikan ini pada tabib itu. Semoga
ibumu lekas sembuh ya”
“hm. Terimakasih banyak sekali lagi kak. Da…”
Setelah itu ia berlari meninggalkanku, aku melihatnya dari
kejauhan dan sesekali di buat tersenyum dengan kelakuannya barusan.
Tapi tak lama di persimpangan jalan cono menabrak seseorang
bertubuh besar yang berjalan berjalan bersama gerombolannya dan terjatuh.
“maaf tuan”
Cono segera meminta ma’af kepadanya. Tapi si orang asing
berkepala botak ini tidak ber-reaksi apapun, ternyata sa’at cono jatuh,
bungkusan yang berisi uang miliknya terbuka. Orang asing ini melihat isi dari
bungkusan itu dan berkeinginan untuk memilikinya. Ia menarik dan merebut paksa
kantung uang itu dan di mulailah adegan tarik menarik di antara keduanya. Aku
yang melihat dan memperhatikannya tidak bisa tinggal diam begitu saja.
“Woi, loe yang di sana..!!”
Aku berteriak sejadinya berusaha menarik perhatian orang
orang asing yang mengganggu cono. Dan sa’at aku berteriak untuk yang kedua
kalinya, sebuah benda melayang kearah mereka, sepasang sandal bakiak yang
melesat cepat dan menghantam tepat di wajah si botak. Hantaman kencang tadi
berhasil memancing perhatiannya.
“berengsek. Kejar orang itu”
Sambil memegangi wajahnya si botak berteriak sambil menunjuk
kearahku, ia mengira sandal yang tadi mengenainya adalah ulahku dan
menganggapku sebagai sasaran utamanya.
“sial, aku harus kabur”
Tanpa pikir panjang lagi, aku berdiri dari tempat dudukku dan
berlari menghindari amukan mereka.
Cono yang melihat kesempatan emas ini, langsung melarikan
diri dan membawa kantung uangnya.
“bagus, dia sudah pergi. Tapi tidak bagus untukku”
Aku bersyukur karena aku sudah berhasil menyelamatkan cono
dari ancamannya, tapi kali inisiapa yang akan membantuku untuk meloloskan diri
dari mereka.
Aku berlari dan terus berlari melalui lika liku jalan dan
melalui gang gang sempit agar mereka yang bertubuh besar itu tidak bisa
mengikutiku. Sampai aku tiba di gang kecil dekat dinding luar kota.
“ssstt.. ka”
“siapa itu”
Aku menoleh dengan cepat ke balakang, arah dari suara
bisikan yang memanggilku.
“ini aku cono, cepat kakak kemari”
Ternyata itu cono anak yang menjual pisau kepadaku. Ia
mengajakku bersembunyi melalui sebuah celah kecil pada dinding batu ia
menuntunku menelusuri lorong selokan yang sempit.
“mau kemana kita”
“kita pergi ke rumahku kak. Kakak bersembunyi saja di sana
sampai mereka pergi”
Cono terus menuntunku melewati selokan yang gelap itu,
membawanya ke tempat tinggalnya.
Sejenak aku berfikir, apa tidak apa apa aku meninggalkan
Randy dan Danie di giran. padahal, tidak lama lagi aku harus sudah berkumpul
dengan mereka.
Cahaya terang dari luar sudah mulai terlihat, cono
mempercepat langkahnya dan aku mengikutinya di belakang. Cahaya ini semakin
terang hingga memaksaku untuk menutup mata dengan tangan agar mata ini terbiasa
dengan terangnya.
“ini…”
“bagaimana kak, indah kan”
“iya, sangat”
Sebuah pemandangan yang indah hadir di depan mataku, sebuah
hamparan luas danau berair jernih disertai tumbuhan rindang yang tumbuh di
sekitar. Bila di gambarkan, mungkin seperti Madagascar.
“ayo kak ikut aku, rumahku ada di sebelah sana”
Cono menarik narik bajuku dan menunjukkan jarinya pada
sebuah perkampungan kecil yang sederhana di pinggiran danau.
“baik ayo”
0 komentar:
Posting Komentar