“itu Lie!”
Crow
berteriak dan bergegas berlari, tapi Sloth segera menghentikannya karena
menurutnya itu berbahaya, mereka hanya diam di sana memperhatikan dari
kejauhan.
“sepertinya
tidak ada yang mendekat ya, sayang sekali”
Suara orang
lain yang tidak mereka kenal muncul, ia yang di kenal sebagai PK yang membunuh
banyak sekali player, dan Lie pun semakin jelas terlihat bersamaan dengan
Player Killer di belakangnya.
Tepat di
punggung Lie menancap sebuah dagger yang menembus hingga dada, darah keluar
dari mulutnya semakin banyak ketika ia terbatuk.
“apa apaan
ini, kau bilang ini hanya game. Lihat itu lihat!, lihat wajah temanmu yang
sekarat itu”
Crow
berteriak meracau, kejadian di depannya membuatnya tidak bisa berfikir jernih.
Sloth juga tidak mengatakan apapun dan sikapnya yang seperti tanpa emosi itu
membuat Crow semakin kesal, seakan ia tidak perduli dengan apa yang ada di
hadapannya.
“jadi
memang seperti ini sikap aslimu ran. Kami pikir kau adalah teman yang baik bagi
kami, bodoh sekali sampai kami menuruti keinginanmu sampai saat ini”
Rasa marah
sudah menumpuk di pikiran Crow, sampai ia sudah tidak sanggup menahannya dan
kehilangan akalsehatnya. Ia memegang busur dengan kedua tangannya lalu maju
untuk menyelamatkan Lie.
“mam”
Lagi lagi
Sloth menghalangi tindakannya, ia memegang bahu Crow yang hendak bergerak maju
tapi segera di singkirkannya
“Minggir
kau pengecut, ternyata kami salah. Kau memang tidak pernah perduli dengan orang
selain…”
Belum
sempat Crow menyelesaikan ucapannya ia sudah jatuh di tanah yang keras tidak
sadarkan diri.
=====
“Brak!” Suara mejaku yang di pukul dengan
keras.
“waduh
waduh.. masih pagi udeh bengong aje lu mam”
Dia teman
sekelasku yang biasa duduk di sebelahku, namanya Alvian. Sebenarnya aku tidak
terlalu suka mengobrol di pagi hari, mungkin karena aku masih mengantuk dan roh
ku belum sepenuhnya kembali ke dunia ini. oleh karenanya aku hanya diam saja
sementara dia terus berbicara ini itu.
Untung
tidak lama setelah itu Renand datang, hingga akhirnya ada seseorang yang bisa
di jadikan target ceritanya miliknya. Aku baru sadar ketika melihat ke sekitar
dan ternyata sudah mulai ramai di sini.
Daniel juga
sudah datang dan sibuk mengganggu Randy. Sepertinya mereka memang akrab jika
membicarakan game.
Oh ia,
bagimana kelanjutan dari Player Killer itu aku juga tidak begitu mengerti, yang
aku tau saat itu aku pingsan dan waktu terbangun aku sedang terbaring di dalam
Athos dengan pintu yang terbuka.
=====
“oh udah
bangun lu mam, ini tangkep”
Daniel
menyapaku yang baru bangkit dari Athos dan melemparkan roti isi dalam kemasan
yang segera ku tangkap.
Ia duduk
mengangkang bersandar di sofa empuk di sana seakan tidak ada yang melihatnya
dan hanya dia lah yang memiliki tempat itu. Yang lebih menggelikan lagi, dia
tidak mengenakan baju hanya celana pendek biru muda yang ia kenakan.
“apa apaan
pakaianmu itu”
Aku berkata
sambil duduk membuka bungkus plastik roti isi.
“oh.. ini?
Aku habis mandi. dan Randy sedang keluar mengambil pakaian ganti untuk kita.
Kalau kau lapar atau haus, ambil saja makanan dan minuman yang ada di meja sana”
Aku tidak tahu kalau Randy bisa di manfaatkan olehnya
seperti itu
“hmm..”
Gumam ku
merespon seadanya karena mulut yang penuh makanan. Setelah itu tidak ada
satupun dari kami yang berbicara walaupun aku juga sudah menghabiskan roti
isiku.
Tidak
dalam waktu lama yang lalu, aku lihat lie yang terluka parah tapi tidak
bisa berbuat apapun untuk menolongnya, situasi ini menjadi sedikit canggung aku
tidak tahu apa yang harus aku bicarakan dengannya.
Randy belum
juga kembali selain itu Daniel sibuk mengganti ganti chanel TV mencari siaran
yang ingin di lihatnya sampai ia menemukannya lalu menggantinya lagi saat ia
bosan melihat acara itu.
“Niel”
Panggilku
yang membuatnya menoleh dan berhenti bermain dengan remote TV
“apa”
“apa yang
terjadi setelah aku tidak sadarkan diri”
“oh itu…,
sebenarnya tidak ada apa apa. Hannya saja”
“hanya
saja?”
“bagaimana
ya, sebaiknya kau meminta maaf pada Randy. Tidak seharusnya kau berteriak seperti
itu kepadanya. Kau tau, ia bukan seperti orang yang kau bicarakan”
Daniel
berkata begitu padaku, aku pikir mungkin ada benarnya juga. Aku sudah di undang
ke tempat ini, dan tidak seharusnya aku berkata seperti itu kepadanya. Apa lagi
sampai berteriak seperti itu, sepertinya akulah orang yang jahat di sini.
“kau tau,
orang yang tertidur akan otomatis terputus seluruh hubungannya dengan game dan
tidak akan merasakan hal apapun yang berhubungan dengan game, lalu setelah
beberapa saat dia akan di keluarkan sepenuhnya dari dalam game dan karakter-pun
menghilang. Kau beruntung karena tidak ikut bertarung melawan orang itu,
makanya berterimakasihlah paba-“
Kalimat
Daniel terputus karena tumpukan pakaian yang menimpa wajahnnya
“OI, lu mau
bunuh gue ya!”
“itu lebih
bagus kan, jadi orang tua lu gak repot repot miara anaknya yang kayak gini”
Aku menoleh
ke asal suara itu, orang yang sama yang melempar pakaian itu ke wajah Daniel.
Randy yang berdiri di sana, ia sudah kembali membawakan pakaian ganti.
“hei kau
yang di sana”
Randy
merkata sambil mengacungkan jari kearahku
“a.. apa”
Aku bicara
tergagap
“kalau kau
masih mau di sini cepat bersihkan badanmu”
Aku
mengerti ucapannya kali ini, aku segera bangun dan bergegas ke kamar mandi.
Tapi selagi di dalam aku terus memikirkannya, sebenarnya apa yang terjadi waktu
itu ya.
...
“Niel elu
gak bilang apa apa kan ke dia”
Tiba tiba
Randy mengatakan itu pada Daniel yang sedang asik memakan sekotak ice cream
yang di bawa Randy tadi. Ia tersedak karena sepertinya yang di tanyakan tepat
mengenai sasaran.
“uhuk
uhuk.. eh apa. Aha aha ha.. jelas enggak lah..”
Melihat
reaksi Daniel yang mencurigakan tentu saja orang curiga, dan sudah jelas randy
tidak mempercayai ucapan bohongnya itu. Ia hanya memberikan tatapan sinis
padanya
“huff.. terserah nantinya jadi seperti apa, tapi jelas aku
tidak mau seorang pun tau tentang itu”
...
*****
“hei kau
yang di sana, kejam sekali kau sampai memantrai sahabatmu sendiri seperti itu.
kenapa?, ingin berlari dan meninggalkan teman temanmu ini sebagai penggantimu
ya. Hahaha…
apa kau
juga memang sepengecut yang di katakan temanmu tadi, hm”
orang itu
tertawa sambil mencemo’oh Sloth tentang apa yang di perbuatnya.
Tidak ada
tanggapan yang pasti si tunjukkan oleh sloth, ia masih tetap tenang tidak
perduli apa yang di katakan pembunuh itu. Tak perduli ia mau merendahkan atau
menghinanya, ia tetap tenang sambil menyeret tubuh Crow yang tidak sadarkan
diri. Hanya beberapa kalimat yang akhirnya keluar di antara bibirnya
“setidaknya aku yang seperti ini masih lebih
tinggi di banding magician rendahan yang bersembunyi untuk menyerang para
pemula”
Pembunuh
itu terlihat kesal mendengar ucapan Sloth. Sepertinya ia juga menyadari bahwa
dirinya sudah di ketahui olehnya.
“hmm..
sepertinya kau cukup hebat sampai berani menantangku”
“yah.. aku
tidak pernah takut menghadapi penyihir pengecut yang menggunakan Fear”
Fear adalah
salah satu mantra dasar milik magician untuk mengacaukan pikiran lawannya,
mengisinya dengan ketakutan dan rasa putus asa.
Sloth
berkata sambil memasang magical glove miliknya seperti biasa, tenang dan sopan
tidak lupa tatapan dingin dengan senyum merendahkan khasnya.
Mendengar
kalimat itu ia semakin kesal tanpa peringatan ia menarik daggernya daripunggung
Lie lalu menerjang cepat ke arah Sloth
Buagh.!!
Seseorang terpental setelah bunyi kencang barusan.
“ups,
sepertinya ada yang sudah tidak berdaya”
Ujar Lie
yang masih berdiri sedang membenarkan posisi knuckle di tangannya. Tidak jauh
darinya ada si pembunuh yang baru saja terkena pukulan telak sedang berusaha
bangkit. Ia mengumpat kepada mereka semua.
“sial”
Seru
pembunuh itu yang sudah melakukan kesalahan. Lie sudah bebrapa jam bersama
Sloth tentunya ia sudah jauh lebih mengerti tentang pertarungan dalam game ini,
di tambah lagi ia sudah membuka secret skill dan sudah mencapai class pertama
“ASHURA”. Menyerang, bertahan, menghindar, skill, bar point, seluruhnya sudah
ia kuasai dengan benar, tidak semudah itu mengalahkannya kali ini. Terlebih
lagi.. gelar Ashura yang kini ia genggam.
Walaupun
setelah menerima pukulan yang cukup keras itu, si pembunuh masih sanggup
berdiri. Ia bngun kembali dan bertingkah seperti tidak ada yang terjadi.
Membersihkan pakaiannya yang tertumpuk debu.
“newbie
yang menjadi pro dalam waktu singkat ya. sepertinya kau menemukan guru yang
bagus”
Pembunuh
itu berkata dengan santai menunjukkan keadaannya yang masih sehat walaupun sedikit
memar di pipi kanannya.
“jelas.. Ashura
yang kami temui saat hunting bukan sekedar guru, ia adalah master ch..”
“master chi
dari benua timur. Petarung tangan kosong yang mengungkap kekuatan baru berasal
dari energi kehidupan, sumber lain selain mana dan stamina fisik bla bla bla..”
Ujarnya
memotong kalimat Lie. Sepertinya ia tahu banyak tentang Ashura, Orang yang
mengajari atau lebih pas di sebut guru Lie.
“aku lupa
namanya… hmm…”
Ia
mengacung acungkan jari dan menutup kedua matanya, berusaha mengingat ingat
nama orang yang di maksud
“ah… xing!.
Aku ingat namanya, yah.. untung saja dia seorang NPC yang di lindungi, jadi aku
tidak bisa membunuhnya”
“haha..
seperti hewan saja kan dirinya. Dan aku tidak menyangka dia yang lemah dan
tidak berguna itu, masih sempat untuk mengangkat seorang murid dan semakin
membuktikan bahwa ia orang
yang gagal”
“jadi kau
yang membuatnya terluka?”
“terluka?,
bukan bukan. bukan seperti itu, aku malah yang membuatnya hampir mati. Sampah
sepertinya tidak bisa menandingi aku, Balphegor yang pro ini”
Mencemooh
dan merendahkan, hanya itu yang berulang ulang di ucapkan oleh orang yang
menyebut namanya balphegor. Sudah pasti orang yang mendengar ucapan itu akan
kesal, terlebih lagi Lie.
Selain ia
menyerang para player, ia juga menyerang para NPC. Memang hal itu memungkinkan,
pemain yang menyerang npc pasti memiliki alasan alasan sendiri dan kali ini
alasan balphegor menyerang npc untuk mengurangi kemampuan npc agar murid yang
ia bimbing tidak mendapat pelatihan maksimal.
“aku tidak
tahu apakah benar Guru yang seorang NPC bisa di buat terluka. Tapi mungkin aku
bisa menghajar mulut orang yang hanya berbicara besar”
“coba saja,
pendek”
Balphegor
berkata menantang. seperti bendungan yang sudah tidak bisa menahan debit air
yang terlalu besar, mendengar sambutan seperti itu Lie langsung berlari
menerjang dengan tangan terkepal dibungkus knuckle besi
Dan Bum! Jadilah
kokokran
Pukulan
pertama tepat mengenai perut Balphegor yang membuatnya terlontar terbawa
pukulan yang terlalu keras. Hingga menubruk tembok batu dan membuatnya
berlubang. Debu beterbangan di lokasi tubrukannya tapi tidak berhenti di situ,
lie ikut masuk ke dalam kebulan debu itu.
Suara
pukulan pukulan keras terdengar nyaring berasal dari dalam sana tidak tahu
pasti siapa yang membuat suara suara nyaring itu atau apa yang sedang di
lakukan Lie di dalamnya
Setelah puluhan suara dentuman yang menggema tubuh sang
balphegor kembali terlontar keluar dari dalam sana, ia terseret tekanan hingga
tanah yang di laluinya membekas jelas membentuk cekungan sepanjang jalur
lontarannya
0 komentar:
Posting Komentar